Jangan Takut Kehilangan

0
228

0Shares
0

Meskipun sering kita alami, kehilangan selalu menyisakan rasa sakit dan getir yang menyayat. Akal kerap sulit menerima kenyataan jika apa yang kita miliki pada hakikatnya bukanlah milik kita. Namun, miliki Sang Pencipta alam raya. Rasa memiliki inilah yang membuat kita susah untuk move on.

kampusdesa.or.id-Siapa sih di antara kita ini yang tidak pernah kehilangan? Pasti semua orang pernah kehilangan. Sudah lazimnya ketika kehilangan sesuatu, tentu kita bersedih hati. Entah itu kehilangan dalam bentuk materi, seperti kehilangan uang, dompet, surat penting, perhiasan kendaraan, rumah dan lain sebagainya. Bisa juga kehilangan dalam bentuk non materi, misalnya kehilangan teman, kepercayaan, waktu, kebebasan, keberanian, kebahagiaan dan seterusnya.

“Sesungguhnya setelah kehilangan akan kita temukan sesuatu yang hilang itu sebagai pengganti sesuatu yang telah hilang dari diri kita”

Boleh kita bersedih hati, namun cukup sesaat saja, karena pada hakikatnya, sesungguhnya setelah kehilangan akan kita temukan sesuatu yang hilang itu sebagai pengganti sesuatu yang telah hilang dari diri kita. Bisa jadi penggantinya akan lebih baik, daripada sesuatu yang telah hilang dari diri kita.

Saya pribadi punya banyak cerita terkait kehilangan sesuatu. Saya pernah kehilangan dompet berisi uang dan surat-surat penting (KTP, STNK, SIM A dan SIM C, Kartu NPWP, ATM, Kartu Mahasiswa). Sedih sekali ketika sadar dompet itu hilang tak tahu rimbanya. Terbayang, bagaimana mesti ribet mengurus surat-surat penting itu juga terbayang betapa eman sejumlah uang yang ada di dompet itu telah hilang.

Namun, pelan tapi pasti, saya mulai move on. Alhamdulillah, setelah bisa merasa ikhlas, seluruh surat penting sudah bisa dicetak kembali, tentu dengan mengikuti proses aturan yang ribet, tidak mudah dan butuh waktu. Uang yang ada di dompet pun saya niatkan untuk sedekah. Rejeki-rejeki yang tidak terduga pun saya dapatkan, lebih daripada uang yang telah hilang.

Pernah juga saya kehilangan teman dan saudara yang selama ini selalu bersama saya. Begitu saja diputuskan. Sakit dan sedih sekali perasaan. Namun ketika pola pikir saya rubah, saya pun kembali move on. Alhamdulillah, justru malah dapat teman dan saudara yang baru dan baik sekali dengan saya.

Beberapa saat yang lalu, ada teman saya yang rumahnya kebakaran. Seluruh harta bendanya ludes terbakar, hanya baju yang menempel di tubuhnya yang tersisa. Mungkin ia sedih ketika itu, namun alhamdulillah kini ia sudah move on, justru rumahnya yang sekarang lebih bagus daripada rumahnya yang dahulu dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak.

Masih banyak contoh-contoh cerita tentang kehilangan yang lain. Intinya jangan terlalu disesali, apa yang telah hilang dan mungkin akan hilang dari kita suatu ketika, karena Insyaallah itu cara Allah untuk menggantikan sesuatu yang hilang dari diri kita menjadi sesuatu yang lebih baik.

“Boleh bersedih hati dan menangis menyesali, namun cukup sebentar saja, setelah itu kita harus ikhlaskan yang telah hilang itu”

Boleh bersedih hati dan menangis menyesali, namun cukup sebentar saja, setelah itu kita harus ikhlaskan yang telah hilang itu. Lalu move on, menatap masa depan. Karena pada hakikatnya, apapun yang kita miliki sekarang, bukanlah milik kita. Semuanya hanya titipan dari Tuhan, termasuk istri atau suami kita, bahkan nyawa kita sekalipun. Jadi, ketika sewaktu-waktu hilang, ya memang sudah saatnya hilang, karena diambil pemilik-Nya.

“Yang membuat sedih itu adalah rasa memiliki terhadap sesuatu. Sehingga ketika sesuatu itu hilang dan pergi, akan susah move on

Yang membuat sedih itu adalah rasa memiliki terhadap sesuatu. Sehingga ketika sesuatu itu hilang dan pergi, akan susah move on. Tentu bukan berarti kita tidak berusaha untuk menjaga dan merawat sesuatu itu ketika menjadi milik kita.

Yang hilang dan akan hilang biarlah hilang, yang pergi dan ingin pergi biarlah pergi. Tak perlu disesali hilangnya dan tak perlu dicegah kepergiannya. Ikhlaskan saja.

Berita sebelumyaTidak Ada Kata Terlambat
Berita berikutnyaMengapa Belajar di Rumah Malah Menimbulkan Masalah?
Abd Azis Tata Pangarsa. Lahir di Malang, 28 Januari 1984. Dosen STAIMA Al Hikam Malang, Guru MI Miftahul Abror Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Program Pascarjana S-3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretaris PCNU LP Ma’arif Kab. Malang. Penulis buku; Guru Juga Manusia: Catatan Harian Seorang Pendidik dan Penyunting buku: Merawat Nusantara, Menumbuhkan Kembali Spirit Persatuan dalam Kebhinekaan. Kontributor artikel di beberapa buku. Menjuarai berbagai even lomba guru berprestasi tingkat Provinsi dan Nasional. Dapat dihubungi di Jl. Joyo Raharjo I/ 235 K Merjosari Kota Malang. HP dan WA: 082331783484. Facebook:Azis Tatapangarsa, IG:Azis Tatapangarsa, Email:tatapangarsa@yahoo.co.id.