Sabtu, April 18, 2026
BerandaCerita BaruMinum Anti-Aging atau Belajar Menua Saja

Minum Anti-Aging atau Belajar Menua Saja

Kampusdesa.or.id–Rumah model srotong khas hunian jawa melindungi seorang tua renta yang konon baru merayakan ulang tahun ke-100. Jabat tangan saya menandai saksi sosok mbah Saijah dari saudara mbah perempuan saya di usia seabadnya. Setiap lebaran, saya selalu menyempatkan riyayan ke rumahnya. Kata yang selalu berulang, “kowe anake sopo?” Ya, mbah ini sudah terkena dimensia (pikun) sebagai salah satu efek menua.

Apakah Mbah Saijah kenal ramuan anti-aging (penuaan)? Pastinya tidak. Mana mungkin  beliau kenal sponsor atau gaya hidup melambatkan penuaan? Kesehariannya sebagai pedagang pasar tradisional lebih menyibukkan dengan percaturan harga sembako dan komoditas orang desa. Baginya tak pernah berpikir berdandan dan menyibak wajah agar tetap kinclong-glowing. Melayani konsumen baginya adalah mantra harian agar tokonya tetap mendapatkan pelanggan yang puas. Jangankan berpikir dandanan, plek-ketiplek laku dan jiwanya adalah bukan tentang ramuan anti-penuaan, tetapi transaksi agar dapat untung dan berhikmad melayani pelanggan.

Realitas Aging

Mengenal usia adalah bagian dari kesadaran tentang hidup dan menandai kewarasan jiwa. Bagi yang hanyut mengisi hidup tidak setiap saat kita mampu menemu-kenali usia. Saat ulang tahun, sadar usia bertambah tetapi bukan menyadari proses menua, tetapi party dan worthed-nya seorang diri. Alih-alih menemukenali usia, kebahagiaan karena kehadirannya masih ada orang di sekitar yang menyanjung kita. Sebuah kesejahteraan subyektif ketika momen ulang tahun tersebut mendapatkan apresiasi sekitar. Ya, ada bahagia tetapi mindfullnes (kesadaran utuhnya) belum tentu menemukan bahwa menua adalah situasi fisik mental yang dapat mengancam kesiapan menerima menurunnya performa fisik-mental seseorang.

“Pertambahan usia dan perubahan fisik, gejala masuk angin, dan mampirnya penyakit seolah hilang saat ulang tahun kelahiran”

Bagi saya yang tumbuh bukan dari kebiasaan party, jarang mendapatkan ucapan ulang tahun karena hidup dalam budaya desa kurang terbiasa. Antara malu dan bangga karena mendapat perhatian ucapan ulang tahun, namun ada pukulan telak dari istri dan anak saya yang mengatakan, “ayah ki ojo ketoro tuwek to.” Padahal masih ada saja yang berkomentar, “kok pancet enom pak.” Rambut-pun sudah merontok dan beruban. Pertambahan usia dan perubahan fisik, gejala masuk angin, dan mampirnya penyakit seolah hilang saat ulang tahun kelahiran. Bagi saya satu sisi bangga dikomentari masih muda, tapi di sisi lain, komentar menua tidak bisa saya hindari. Memang penuh pertentangan.

Baca juga: Tambang Emas Trenggalek, Ora Ritek!

Apakah Harus Minum Anti-penuaan?

Apakah sebaiknya saya minum ramuan anti-penuaan? Sekarang ada banyak metode yang digunakan untuk menyiasati tua. Ada model pendekatan glowingisasi. Cara eksternal melalui perawatan menggunakan aneka kosmetika kecantikan. Ada juga pilihan menggunakan sejenis stem sell, atau metode lain yang lebih modern. Cara tradisionalpun tidak kalah hebohnya. Ada ramuan kuwat, jamu awet muda, jamu singset dan sebagainya. Saya pun kadang coba-coba menggunakan masker ampas kopi, bilasan eco-enzim, dan keisengan dengan latah seolah masuk dalam paparan pesan tersembunyi iklan menolak tua.

Bagi mbah Saijah dan orang lanjut usia lainnya di desa, mereka lebih banyak berurusan dengan perjuangan hidup dan tidak peduli apakah perlu minum ramuan anti-tua. Mereka tenggelam dalam menata penghidupan, berjuang untuk anak-anaknya dan tidak menghiraukan perawatan tubuh. Meski demikian, mereka tidak pernah mau menyerah. Bahkan tidak mengenal ramuan anti penuaan. Mereka seolah tidak merasa tua karena tidak mau dimanjakan oleh anak-anaknya. Sebelum pikun di usia tuanya, tetap tidak mengenal pensiun dan tetap pergi ke pasar. Mbah Saijah adalah contoh dari fenomena tua yang wajib dialami oleh siapa saja meski secara mental tidak mau dianggap tua dengan penurunan performa fisiknya.

Baca juga: Kebahagiaan dan Terbukanya P(em)ikiran!

Di lain sisi mereka juga menerima tuanya sebagai identitas kasepuhan, yakni identitas yang menerima bahwa dia menjadi orang yang dituakan di jajaran anak-kadang (turun) nya. Mereka kadang juga sudah memahami berbagai gangguan kesehatan. Banyak yang berseloroh, “ya saya ini sudah tua, jadi beberapa aktifitasnya tidak lagi seperti dulu. Berobat ke dokter dan dukun alternatif mereka lakukan” Di sini, mereka tetap tidak mengelak atas usia tuanya. Bagi mereka mengenali tua berarti menerima perjalanannya merawat diri dengan aneka literasi perawatan dan aktifitas diri.

Tips Belajar Menua

Leberan ini, saya merenung bahwa menua adalah mutlak, meski secara mental kita mengelak dan sebagian tidak mau pensiuan. Saya seolah tidak lagi berpikir tentang perlunya minum ramuan anti-penuaan. Saya merenungi bahwa fenomena menua adalah soal kesiapan dengan berbagai kondisi tubuh yang terbatas dan bahkan sebagian di antaranya sudah harus menghonsumsi obat untuk menjaga kesehatannya. Lebih dari batas pengalaman menjelang kematian (near-death-experience), tetapi tentang menjalani tua apakah tetap beraktifitas dalam keterbatasan sekaligus menerima beraneka rupa gangguan kesehatan yang sudah menghampiri. Lebaran kali ini adalah belajar tentang menjalani tua, bukan sebagai pengalaman menyiapkan kematian. Tua adalah realitas yang perlu dipelajari.

Baca juga: Menjadi Pengusaha; Memantik Energi dari dalam Perusahaan

Apa saja yang perlu disiapkan dari kita semua dalam menjalani penuaan;

“Meski anti-penuaan mampu melambatkan fungsi biologis, tua adalah waktu pasti dan butuh kebijaksanaan diri di tengah melambannya erforma diri.”

Kesadaran tentang performa. Menerima kelambanan fisik adalah realitas yang perlu diterima dan dijalani. Boleh jadi merawat melalui intervensi anti-penuaan dapat memperlambat kerutan kulit, bahkan masih menyisakan tenaganya untuk tetap beraktifias. Tua tetap kita alami. Sebuah hasil penelitian tinjauan sistematis dan meta-analisi menggambarkan persepsi penerimaan diri (self-perception of ageing) positif sangat membantu kesejahteraan psikologis manula (Ho & Fuller-Thomson, 2025; Ugwu & Idemudia, 2025). Ada yang masih dapat beraktifitas (penuaan aktif), tetapi ada yang memilih menjalaninya dengan akfitias ringan di rumah karena tidak lagi ada media bekerja. Mereka minum obat, menjalani gangguan kesehatan dengan beragam cara. Mereka harus menjalaninya, baik fisik yang sehat atau tidak. Meski anti-penuaan mampu melambatkan fungsi biologis, tua adalah waktu pasti dan butuh kebijaksanaan diri di tengah melambannya performa diri.

Kebiasaan fisiologi adalah modal menua. Modal aktifitas fisik dan aktualisasi kerja sebaiknya perlu tempaan sejak usia dewasa. Bagi mbah Saijah yang tidak kenal pensiuan, akfifitas dagang menjadi ruang aktual tanpa batas sehingga tidak ada sindrom paska kerja (post power syndrom). Ada yang tetap berkebun, bertani ringan, atau aktitas lanjutan yang mereka tetap bisa lakukan. Setiap orang perlu menyiapkan kebiasaan fisiologi yang tidak boleh terputus gara-gara istilah pensiun. Jika ada yang kerjanya mengenal pensIun, sebaiknya perlu sejak dini menyiapkan aktifitas yang tidak memutus seketika aktifitas fisiologis (Jiang et al., 2026). Pendekatan bio-psikososial yang mengitegrasikan faktor biologis, psikologis dan lingkungan sosial sangat membantu kualitas hidup menua (Grigoraș et al., 2025). Ini menjadi modal menua yang sehat dan menghindari kekagetan karena kehilangan sirkle yang membikin worthed hilang tak terkendali.

Belajar bersahabat dengan sakit. Saya melihat mereka banyak yang sudah sakit, tetapi mau menjalaninya dengan seimbang. Bagi mereka bersahabat dengan sakit memberikan sinar mengenai penerimaan diri karena mereka ingin tetap menjaga mental dan tubuhnya waras. Perawatan dan kemampuan mengakses layanan kesehatan fisik yang positif memang berimplikasi pada kualitas hidup dan salah satu faktor menua yang sukses (Hu et al., 2026).

“Mereka tetap seharusnya diberi ruang kerja seperti di Jepang. Menua bukan lagi  antri kematian”

Menjaga ruang relasi sosial. Bagi mereka yang sudah menua, bertemu dengan orang lain memberikan kebermaknaan yang menyeimbangkan penuaan mereka lepas dari isolasi sosial. Ada yang aktif di mushola, masjid, klub senam lansia, saling kunjung dan berbagai cerita, dan relasi yang damai dengan anak cucu menjadi medan kesejahteraan mereka sehingga kehadirannya tetap dapat bermakna secara sosial. Riset Jiang et al. (2026) menemukan relasi sosial ini meningkatkan kepuasan hidup lansia. Bahkan  mereka tetap seharusnya diberi ruang kerja seperti di Jepang. Menua bukan lagi  antri kematian.

Baca juga: Perempuan, Sampah MBG, dan Ekoteologi Panggilan Aksi IWD 2026

Menua membutuhkan pengertian lingkungan. Para manula membutuhkan dukungan. Hubungan positif dengan anak cucu sebelum menua penting mereka jaga. Hal ini adalah modal agar anak-cucu dan orang dekat kita tetap wellcome terhadap penuaan seseorang. Begitu juga anak-cucu pun perlu belajar menerima dan belajar menjadi pelindung penuaan para orang tua. Dukungan sosial yang positif meningkatkan kualitas penuaan melampaui ramuan anti-penuaan (Grigoraș et al., 2025; Jiang et al., 2026). Termasuk memberi ruang kerja sesuai porsinya adalah bentu dukungan sosial. Ini tentang semesta yang menentukan keberuntungan holistik dari kehidupan komunal kita. Belajar bersama orang yang menua dengan keunikannya turut menjaga kohesi dan kedamaian sebuah keluarga serta bangsa.

Penutup; Menua Bukan Antri Mati

Menua bukan tentang mengantri kematian. Menua ada masa bagi siapa saja. Kita tidak boleh terjebak pada ego dan obsesi bahwa tua seolah bukan atau belum menjadi masa bagi orang-orang yang masih merasa muda. Apalagi dominasi bonus demografi seperti masa spesial bagi generasi produktif mendatang. Melibatkan orang yang sudah menua dalam keseharian hidup ada jalan bagi kesehatan mental holistik bagi sebuah masyarakat. Artinya, menua mengajak mereka tetap merasa hidup dan aktual.

Mari belajar menua, meski kita belum masuk pada masanya.

Daftar rujukan

Grigoraș, G., Ilie, A. C., Turcu, A. M., Albișteanu, S. M., Lungu, I. D., Ștefăniu, R., Pîslaru, A. I., Gavrilovici, O., & Alexa, I. D. (2025). Resilience and Intrinsic Capacity in Older Adults: A Review of Recent Literature. In Journal of Clinical Medicine (Vol. 14, Number 21). https://doi.org/10.3390/jcm14217729

Ho, M., & Fuller-Thomson, E. (2025). Reclaiming wellness: Key factors in restoring optimal well-being in the Canadian Longitudinal Study on Aging. PLOS ONE, 20(9 September). https://doi.org/10.1371/journal.pone.0329800

Hu, E., Wang, H., Yao, J., Liao, M., & Chen, W. (2026). Impact of digital health interventions on quality of life and mental health in older adults with chronic diseases: a systematic review and meta-analysis. Frontiers in Aging, 6. https://doi.org/10.3389/fragi.2025.1737277

Jiang, J., Cheong, A. T., Sazlina, S. G., Lee, K., Chu, D., Yang, L., Li, S., Wu, S., Shunmugam, R. H., & Xu, H. (2026). Levels of active ageing and its influencing factors among older adults: a scoping review. BMC Public Health. https://doi.org/10.1186/s12889-025-25820-4

UgwHu, L. E., & Idemudia, E. S. (2025). Perceptions of Ageing and Psychological Well-Being in Older Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis. Research on Aging. https://doi.org/10.1177/01640275251391173

Mohammad Mahpur
Mohammad Mahpur
Ilmuan Psikologi Sosial, Peace Activist and Gusdurian Advisor, Writer, Pemberdaya Masyarakat dan Komunitas. Founder Kampus Desa Indonesia. Memberikan beberapa pelatihan gender, moderasi beragama, dan metodologi penelitian kualitatif, khusus pendekatan PAR
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments