Kampusdesa.or.id-Upaya mengedukasi masyarakat, khsususnya generasi muda lewat film dipandang lebih efektif karena dampak dari komunikasi audio-visual jauh lebih terasa bagi masyarakat. Karena itulah kehadiran film yang digarap oleh anak-anak muda dari desa juga punya dampak yang amat besar dan luas bagi kedaran masyarakat di pedesaan. Film ini merefleksikan respon masyarakat mengenai eksplorasi tambang emas Trenggalek yang penuh kontroversi.
Baca juga: Kebahagiaan dan Terbukanya P(em)ikiran!
Hal itu disampaikan oleh Nurani Soyomukti, salah satu pemantik diskusi dalam acara nontin bareng (Nobar) Film dokumenter yang meraih prestasi sebagai film Dokumenter Panjang Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2025. Penulis dan pegiat literasi Trenggalek tersebut bukan hanya memberikan apresiasi dan memuji kualitas film documenter yang disutradarai oleh Alvina NA (27), yang juga warga Trenggalek, tepatnya Desa Pule, Kecamatan Pule.
Film dan Suara Masyarakat
“Ini adalah film dokumenter bertema lingkungan hidup terbaik yang pernah saya tonton, menguak isu yang menjadi jantung kapitalisme sebagai sistem ekonomi penjajahan yang terus berlangsung dan film ini berhasil menjadi alat dan media pengorganisiran, meningkatkan kesadaran dan perlawanan warga Trenggalek terkait tambang Emas yang akan merusak alam Trenggalek”, tegas alumni FISIP Universitas Jember.
Baca juga: Perempuan, Sampah MBG, dan Ekoteologi Panggilan Aksi IWD 2026
Dalam acara yang diadakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Trenggalek ini, Nurani juga mengulas sejarah munculnya film-film kritis yang tidak muncul begitu saja. Peran para pekerja film yang kritis pada level global dan nasional, juga mempengaruhi semangat para pekerja film lokal. Nurani menyebut analisa Ed Rampell yang menulis sebuah esai di Sosialist Review yang berjudul “Is Hollywood Turning to the Left?”
“Menurut tulisan itu, film-film radikal dan kritis terhadap kebijakan pemerintah AS bermunculan, terutama pasca black September, lalu juga berpengaruh terhadap para sineas di Indonesia yang bahkan mengorganisir diri memajukan peran film untuk tema-tema kemanusiaan,” kata Nurani. Ia menyebut era media baru memungkinkan anak-anak muda di manapun tempatnya, termasuk di desa untuk membuat film-film sebagai media menyuarakan pikiran mereka dengan kualitas sinematografis yang tak kalah berkualitas dengan film-film dari kota.
Sementara itu, Alvina sebagai sutradara film tersebut memamaparkan bagaimana ide pembuatan film itu dan bagaimana pengalaman yang ia dapat selama proses penggarapannya. Film yang diproduksi oleh tim kolaborasi dari berbagai komunitas, seperti Serikat Suket yang bergerak di bidang kesenian, serta Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), ini memang dimaksudkan secara tegas sebagai sarana edukasi untuk menguak dampak buruk tambang emas jika nantinya terjadi eksploitasi alam. Film ini ingin mendokumentasikan bagaimana penolakan warga itu nyata dan mereka punya alasan yang lebih masuk akal sesuai pandangan mereka tentang pentingnya ruang hidup yang lebih penting dari tambang emas.
Tambah Emas dan Suara Penolakan Perempuan
Ketika ditanya moderator tentang yang paling berkesan dari proses penggarapan film ini, Vina merasa tersentuh dengan ibu-ibu yang ketika diwawancarai mengungkapkan penolakannya terhadap tambang emas Trenggalek dalam bahasa mereka sendiri. “Pada saat mereka sedang berkumpul sesama perempuan dan mereka membicarakan dampak tambang emas yang mengancam ruang hidup mereka, itu hal yang menyentuh sesama perempuan yang memang merasakan dampaknya yang lebih kuat”, tutur alumni Fakultas Pertanian Universitas Jember itu.

Lebih jauh, Vina mengatakan bahwa ada aspek gender dari dampak tambang emas yang akan merusak alam. Menurutnya, ketika air langka nantina gara-gara gunung dan bukit habis ditambang, pihak perempuanlah yang akan merasakan langsung yang bersentuhan dengan keseharian mereka. “Bayangkan, ketika sedang menstruasi, lalu butuh air untuk membersihkan tubuh, lalu harus pakai air galon yang beli karena air dari tanah terpapar limbah atau langka, pasti kaum perempuan secara perasaan akan yang paling kuat pengalamannya”, tutur jurnalis Kabar Trenggalek itu [Trenggalek, 15 Maret 2026.].



