Stereotip Salah Kaprah terhadap Orang Tua ABK

0
379
Gambar ilustrasi, sumber: haibunda.com

0Shares
0

Walaupun zaman sudah modern, nyatanya masih banyak  anggapan dan mitos salah kaprah terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan orangtuanya. Banyak masyarakat beranggapan bahwa memiliki ABK merupakan bentuk karma dan korban untuk pesugihan. Stereotip dan mitos keliru tersebut tentu makin membebani psikologis para orang tua anak spesial tersebut yang sebenarnya sudah berat.

Kampusdesa.or.id–Pada dasarnya setiap anak memiliki kekhususan, karena setiap individu mempunyai bakat dan minat yang berbeda. Namun, anak berkebutuhan khusus yang dimaksud di sini adalah anak dengan kendala tertentu yang menyebabkannya memiliki kebutuhan spesial. Tidak heran bila banyak yang menyebut anak berkebutuhan khusus dengan sebutan anak spesial. Misalnya anak tuna daksa tentu mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan anak pada umumnya, demikian juga dengan anak tuna netra, anak tuna rungu, anak autis, down syndrom dan lain sebagainya.

Sayangnya, dalam kehidupan nyata masih ada berbagai pandangan tertentu berkaitan dengan anak kebutuhan khusus. Bagi masyarakat modern, dimana teknologi sudah begitu mudah diakses untuk mendapatkan informasi atas berbagai hal, pemikiran terhadap adanya ABK ini merupakan hal yang sudah tidak aneh lagi. Mereka lebih terbuka dalam menerima keberadaan mereka sehingga anak-anak berkebutuhan khusus bisa mendapatkan pendidikan yang layak sesuai kebutuhannya. Bahkan gedung-gedung, baik sekolah/kampus maupun kantor-kantor dan tempat umum mulai didesain sedemikian rupa demi kemudahan para orang berkebutuhan khusus atau kaum difabel untuk melakukan mobilitas.

Ternyata, banyak pandangan miring terhadap anak berkebutuhan khusus. Ada berbagai stereotip keliru yang membuat ABK dan orang tua merasa tidak nyaman.

Bagaimana dengan masyarakat yang masih awam? Nah, di sini masalahnya. Ternyata, banyak pandangan miring terhadap anak berkebutuhan khusus. Ada berbagai stereotip keliru yang membuat ABK dan orang tuanya merasa tidak nyaman. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa keberadaan ABK ini merupakan manifestasi dari karma. Keberadaannya dinilai sebagai akibat dari perbuatan dosa yang pernah dilakukan orang tuanya hingga lahirlah anak yang berkekurangan dari segi tertentu. Bisa dibayangkan beban mental orang tuanya, kan?

Baca Juga:

Ada juga yang beranggapan bahwa anak berkebutuhan khusus sebagai penyakit turunan. Mereka beranggapan bahwa orang yang di keluarganya terdapat ABK akan mempunyai turunan ABK pula. Mungkin gen memang turut  mempengaruhi, tapi kebanyakan ABK terjadi karena banyak faktor, kesehatan ibu selama kehamilan, proses persalinan yang bermasalah, maupun faktor kecelakaan. Sebagai contoh ibu yang mengalami malnutrisi selama kehamilan akan rentan melahirkan bayi dengan berbagai gangguan akibat kekurangan gizi tersebut. Proses kelahiran yang mengalami berbagai hambatan semisal lahir sebelum waktunya juga dapat menyebabkan gangguan pada anak seperti low vision, gangguan pada indra pendengaran, akibat belum matang saat dilahirkan, dan lain-lain.

Selain itu, ada juga yang beranggapan anak berkebutuhan khusus terjadi karena faktor kurangnya perhatian dari orang tua, terutama ibu. Anggapan ini biasanya terjadi pada anak autis, ADHD, dan gangguan pemusatan perhatian (PDD). Maka jangan heran bila ada anak yang hiperaktif mendapat sebutan anak nakal atau anak kurang ajar. Anak autis yang lambat bicara sering dikira akibat kecuekan sang ibu yang tidak mengajak anaknya berkomunikasi. Ibu yang mestinya didukung malah disalahkan.

Ada ABK yang dianggap sebagai lebon pesugihan. Anak dikira menjadi cacat karena digunakan sebagai persembahan kepada danyang tertentu untuk memperoleh  kekayaan.

Stereotip terakhir memang lucu dan tidak rasional. Ada ABK yang dianggap sebagai lebon pesugihan. Anak dikira menjadi cacat karena digunakan sebagai persembahan kepada danyang tertentu untuk memperoleh  kekayaan. Masyarakat pedesaan ternyata masih banyak yang percaya dengan mitos bahwa orang yang mencari pesugihan model tertentu menjadikan anak tidak normal. Anggapan ini tidak hanya membebani psikologis orang tua ABK tapi juga membuat orang tua si anak dijauhi oleh masyarakat yang masih mempercayai mitos seperti itu. Itulah mengapa ada orang tua yang menyembunyikan anak berkebutuhan khususnya.

Baca Juga:

Melihat besarnya dampak adanya berbagai anggapan yang menyudutkan orang tua ABK, hendaknya membuat kita lebih berempati pada mereka, yaitu para ABK dan orang tuanya. Sosialisasi pada masyarakat sangat penting, terutama masyarakat desa melalui kegiatan kemasyarakatan seperti PKK dan Posyandu. Tujuannya, agar masyarakat dapat menerima keberadaan ABK sebagai sebuah keniscayaan. Dengan sosialisasi ini diharapkan para ABK dan orang tuanya bisa hidup nyaman dan harmonis sehingga hak-hak mereka sebagai anggota masyarakat tidak terzalimi.