Kampusdesa.or.id — Semalam, di desa Kucur, hujan rintik saat teman-teman itu datang. Jagongan diawali dengan Pak Jumali, mengisahkan pengalamannya ikut dalam giat Festival Kopi di Ciputra World Mall, Surabaya, bulan lalu.
“Ya senang. Bisa ketemu banyak orang. Produk kopinya Koetjoer dapat nilai baik oleh pengunjung yang mencicipi. Saya juga ditanya beberapa mahasiswa UK Petra, suka-dukanya menjadi petani kopi.”
“Mereka bertanya, mengapa saya kok bertanam kopi? Ya saya jawab, ya ini penggawean saya. Saya senang menanam kopi. Karena dulu di desa Kucur, banyak tanaman kopi. Tapi trus diganti dengan jeruk, karena harganya kopi rendah dan jeruk harganya lebih mahal.”
“Tanaman buah jeruk butuh banyak biaya. Sekarang harga kopi sudah meningkat, apalagi kita bisa mengolah sendiri, jadinya harganya ya lebih baik. Tanaman kopi juga tidak membutuhkan biaya yang sebesar tanaman jeruk. Jadi, ya saya senang dengan menanam kopi ini,” sorot mata Pak Jumali berbinar.
Lonjakan Permintaan Kopi dan Ikhtiar Menyediakan Rumah Jemur Bersama
Cerita di bazar di Surabaya dilanjutkan oleh Mas Ali. “Iya, kemarin itu Mas Teo, dia yang mencicipi kopi kita pas cupping coffee, sempat bertanya, ada berapa stoknya di rumah? Ya saya bilang, ada kalau 10–15 Kg-an. Lalu dijawab lagi, ya sudah saya mau itu. Dikirim semua saja,” ujarnya menambahkan cerita.
“Ya, kalau dikirim semua, nanti kita gak bisa produksi kopi bubuk kemasan,” sambungnya.
“Setelah dihitung-hitung, ya kalau untuk memenuhi pesanan mereka, kita membutuhkan sekitar 4 ton greenbean kopi arabika. Masalahnya, rumah jemur kita tidak mencukupi. Rumah jemur kita hanya mampu untuk produksi sekitar setengah ton saja…”
“Ya, berarti kita perlu nambah panenan lagi,” tukas Pak Josari. Pak Josari baru pertama kali ikut pertemuan.
“Nah, itulah masalah yang mau kita bahas,” balas Mas Ali.
Baca juga: Roasting Kopi dan Secangkir Kopi Bagi Petani Kopi
“Sebelum ke Surabaya, sudah ada beberapa teman yang minta produk kopi arabika kita. Ada kalau 4–5 orang. Semua minta dikirimi. Malah, kalau bisa rutin setiap bulan.”
“Setelah dihitung-hitung, ya kalau untuk memenuhi pesanan mereka, kita membutuhkan sekitar 4 ton greenbean kopi arabika. Masalahnya, rumah jemur kita tidak mencukupi. Rumah jemur kita hanya mampu untuk produksi sekitar setengah ton saja,” pandangan mata Mas Ali menyapu rekan-rekan yang hadir.
“Iya, Mas. Di dusun Godean, ada 3 rumah green house yang dulu buat menanam sayur hidroponik. Agak lama kelihatan nganggur. Trus saya coba tanyakan. Eeh, ternyata dalam waktu dekat ini mau dipakai lagi buat menanam melon hidroponik,” tambah Pak Supadi.
Mendadak, ruangan menjadi sepi. Mereka saling pandang, berharap ada jawaban.
“Kalau di rumah, ada dak lantai jemur pakaian di belakang. Mungkin bisa dipakai,” tiba-tiba Mas Yudas menawarkan.
Beberapa saat, mereka masih saling pandang. “Boleh ya dipakai?” Mas Ali mencoba meyakinkan.
“Ya ndak apa-apa. Nanti saya tak matur Bapak. Bapak kan juga menanam kopi,” Mas Yudas mencoba meyakinkan.
“Kalau dari jadwal panen, kita panen arabika itu akhir Mei atau awal Juli. Jadi, bulan ini kita persiapan untuk membuat rumah jemur ya. Kita pakai plastik seperti yang kemarin dibelikan oleh Mas Didik. Itu plastiknya lebih tebal,” sambung Mas Ali.
Merumuskan Harga yang Adil demi Menjaga Harapan Petani
“Nah, rumah jemur sudah. Sekarang kita tentukan harganya. Pengalaman kemarin kita menetapkan harga agak ketinggian. Ya, tujuannya waktu itu biar teman-teman anggota petani mau jual buah kopi cherry-nya. Karena kita sendiri belum pernah beli cherry. Dan di Kucur ini, jarang orang jual biji kopi cherry,” ujar Mas Ali.
“Seolah, mereka sedang gayemi lelaku, Urip, sakderma ngrumati pengarepan… Rahayu.”
“Kita sedikit naikkan harganya biar bisa menarik buat petani lainnya. Tapi, ya itu tadi, jatuhnya harga kopi kita jadi sedikit lebih tinggi dibanding dari kelompok tani lainnya.”
Baca juga: Menanam Bibit Kopi, Menanam Pengharapan Hidup
“Selain itu, tahun kemarin kita belum sempat menghitung biaya tenaga kerja untuk pengolahan pasca-panen,” sambung Mas Ali.
“Bagaimana kalau nanti kita perhitungkan dengan harga borongan saja ya, Pak? Per kilo borongannya Rp1.500?”
Biasanya, Pak Supadi yang mengolah hasil panenan anggota, bersama Pak Jumali dan Pak Mulyono. “Iya, Mas, ndak apa-apa. Syukurlah kalau kita sudah bisa menyisihkan buat uang lelah teman-teman juga,” timpal Pak Supadi.
“Tahun kemarin, kita anggap masih belajaran dulu. Ya, memang kita perlu banyak belajar,” tambah Pak Supadi lagi.
Di luar, hujan sudah mereda. Hawa sejuknya semakin terasa. Namun di dalam ruangan, berlimpah kehangatan. Mereka saling membagikan sekaligus menerima kabar suka-duka. Perjalanan menyatukan pengharapan bersama.
Seolah, mereka sedang gayemi lelaku, Urip, sakderma ngrumati pengarepan…
Rahayu.



