Sihir MOBA, Melemahkan Literasi Pemuda Tak Sehebat Bung Karno

1
491

0Shares
0

Seperti narasi yang cantik, pemuda adalah main-idea dari sebuah alur cerita yang kita sebut negara. Tanpanya, sebuah bangsa tidak akan berawal dan juga tidak akan berakhir, begitu kira kira pentingnya kiprah pemuda. Saat ini, idealisme pemuda seperti itu nampaknya samar samar, sebab main bareng party untuk nge-push rank lebih asyik bagi mereka. Tak sadarkah kah mereka bagaimana founding fathers bangsa ini memperjuangkan kemerdekaan?

KampusDesa–Mari kita flash-back sejenak ke masa lalu, kenangan itu ada bukan untuk digalaui tapi dicari ada pesan apa dibalik hijrahnya sang waktu. Saya terinspirasi oleh dua tokoh pemuda Legenda bangsa. Dahulu ada seorang Raja Jawa yang tak bermahkota, ialah H.O.S Tjokroaminoto. Beliau adalah tokoh pergerakan sarekat Islam terbesar kala itu. Salah satu Muridnya yang terkemuka adalah Sukarno, anak dari seorang guru. Sangat enerjik! sukarno tidak menyia-nyiakan masa mudanya. Dia bergelut dengan buku dan aktif menulis di surat kabar Oetoesan Hindia, soft skill lainnya dia belajar berorasi. H.O.S Tjokroaminoto berpesan kepada Bung Karno Muda, jika ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.

Jika ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.

Tahun demi tahun Sukarno belajar, jalan yang panjang tak membuatnya kehilangan arah untuk mencapai garis akhir yang ia cita-citakan, tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno mendeklarasikan Kemerdekaan Indonesia di mata dunia.

Seorang pemuda yang ingin memerdekakan bangsanya tidak akan jauh dari aktivitas membaca, menulis dan memunculkan Kharisma dari setiap kata yang diucapkan.

Mari kita cermati, rangkuman dari sejarah di atas adalah gambaran bahwa seorang pemuda yang ingin memerdekakan bangsanya tidak akan jauh dari aktivitas membaca, menulis dan memunculkan kharisma dari setiap kata yang diucapkan. Setelah 74 tahun, hari-hari seperti itu di tahun melenium ini seakan tergerus oleh hiburan dan fasilitas digital yang bebas. Bahkan mampu menyihir banyak orang tersihir. Bagaimana segelincir mahasiswa mengabdikan dirinya untuk dunia yang tak nyata, dari Fomophobia sampai game-multi player-online battle arena (MOBA) yang terinstal di smartphone mereka.

Hidup jauh dari orang tua merupakan kebebasan yang hakiki bagi sebagian pelajar yang kuliah di luar kota. Tidak ada yang sulit untuk beradaptasi dikota orang, asal kiriman lancar maka tak perlu ada yang ditakutkan. Ini tentang integritas, katanya mereka rela meninggalkan tanah kelahiran demi cita-cita, ingin tepat waktu menyandang gelar sarjana perguruan tinggi sambil foto berpose dua jari, mulia sekali. Tapi coba tengok aktivitas sehari-hari, seluruh waktu dihabiskan sambil tengkurap menghadap ke pojok tembok, segala daya upaya fokus terhadap apa yang ada di layar kaca. Content creator sampai berkata “tangio lur, turumu mireng”!

Dalam perkuliahan, khususnya para veteran kampus memiliki waktu kuliah mungkin 2-3 jam saja perhari. Sisanya, 21 jam digunakan tanpa karuan untuk game online, pacaran, youtuban, bahkan nonton film full 24 episode. Beda zaman beda keadaan. Mungkin tempo dulu teknologi tidak seperti sekarang, pasti sebagian besar waktu mahasiswa digunakan untuk membaca dan bekerja, mungkin jika ada pemborosan waktu di zaman itu, paling-paling hanya sebatas merokok dan ngopi, itupun jika ada recehan satu rupiah.

Tapi saat ini sudah berbeda,yang paling digandrungi oleh sebagian mahasiswa adalah game, bisa mobile legend, POBG dan aktivitas streaming lainnya. Silahkan anda cek di wilayah kampus, di pinggir jalan atau di dalam cafe, anda akan mendapati gerombolan remaja duduk berhadap hadapan,salah satu dengkul kaki diangkat, kedua tangan memegang smartphone, kepala mereka tertunduk mejadikan mereka generasi menunduk, terhipnotis oleh sihir kecanggihan internet. Mulai dari charge hp, power bank, rokok dan kopi ijo pait sudah siap diatas meja. Tidak cukup hanya di situ, jika rokok habis tinggal beli lagi, kalau lapar tinggal pesan Go-Food, isi dompet merah dan biru milik mereka sungguh melenakan pemborosan waktu yang nikmat.

Sihir MOBA membuat pemuda saat ini menjadi generasi menunduk, mereka meringkas kehidupan dunia yang kompleks kedalam dunia permainan. Setiap mereka memenangkan point, sebenarnya mereka sedang kalah. Jutaan pemuda dunia sedang berprogres tetapi mereka asyik winner chicken dinner tak menghasilkan apa apa.

Membaca buku buku yang baik berarti memberi makanan rohani yang baik pula.(buya hamka)

Game bisa digunakan sebagai sarana menghilangkan kejenuhan, tapi kita jangan terlalu sering bersembunyi dibalik argumen seperti itu. Cobalah membudidayakan merilekskan diri dengan membaca, tak harus bacaan yang menuntut konsentrasi tinggi. Cukup pilih bacaan yang sesuai selera namun tetap informatif. Karena membaca buku buku yang baik berarti memberi makanan rohani yang baik pula (Buya Hamka).

Bagi saya game sih boleh saja, tapi kita harus sadar apa dan bagaimana prioritas seorang pelajar yang sesungguhnya. Sejatinya posisi pencari ilmu itu sangat dekat dengan buku, beradu argumen, mentradisikan literasi, menulis sebagai metode mengaktifkan imajinasi, berfikir kritis serta melahirkan akal sehat untuk menghadapi tantangan zaman. Mari berbenah, bentengi diri dari sihir MOBA dan selamat berprogres!

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here