Sebongkah Batu (1) Seri Literasi Lintas Generasi

0
679

0Shares
0

Mendampingi anak hingga memunculkan talenta membutuhkan sudut pandang. Tidak sekedar mencekoki dan memaksa mereka bersekolah atau dikursuskan di sana sini. Sudut pandang ini adalah cara membuat mindset tentang mengasuh bakat anak. Sebongkah batu kemudian menjadi mindset bagaimana sudut pandang anak dihujamkan sebagai cara pandang mendampingi bakat anak.

KampusDesa–Apakah satuan ukuran perhatian untuk anak-anak kita? Tidak mungkin kilogram, meter atau liter. Bagaimana kalau ‘sebongkah?’ Contoh kalimat: Anak-anak memerlukan sebongkah perhatian dari orangtuanya.

Lalu hati-pun tergelitik untuk mengejar dengan pertanyaan: sebanding dengan sebongkah tanah, sebongkah kayu ataukah sebongkah batu? Atau suruh saja Ananda memilih maunya yang mana.

Diskusi seperti ini bagus untuk kecerdasan berbahasa anak. Kita asah nilai rasa berbahasanya. Pengalaman sebongkah batu ini saya refleksikan melalui proses melek literasi pada anak bungsu saya.

Baca tulisan si bungsu di sini :

Bukan lagi anak usia PAUD yang masih harus berlatih menggandeng huruf, si bungsu saya yang beranjak remaja malah harus diet kata. Kalau diminta menulis karangan sebanyak 3 halaman A4, dia bisa bablas 8 halaman. Tetapi hasilnya masih butuh editing sehingga belum siap diunggah betul.

Tantangan editingnya ada pada pilihan diksi, hubungan antar frase, rasionalitas gagasan, serta apalagi kalau bukan soal tata bahasa dan penulisan. Saya masih ingat awal dulu, saya memang lebih konsen untuk mengasah imajinasi dan menyuburkan mata air inspirasinya dibandingkan struktur berbahasanya.

Saya khawatir kreatifitasnya jadi mandul kalau saya terlalu memberatinya dengan tetek-bengek aturan penulisan.

Saya khawatir kreatifitasnya jadi mandul kalau saya terlalu memberatinya dengan tetek-bengek aturan penulisan. Ngeri juga kalau sebentar-sebentar harus menginterupsi celotehannya hanya agar ucapannya sesuai EYD. Ketika sekarang dia telah terbiasa mengalirkan gagasannya secara mandiri, barulah saya harus maju sebagai editor pertamanya. Harus mau direcoki, melawan kejenuhan, serta bertahan hingga karyanya tuntas dari koreksi yang diperlukan.

Untuk kasus pendampingan pembelajaran seperti inilah ‘sebongkah batu’ sebagai perumpamaan istilah ‘totalitas perhatian’ yang saya jadikan bahan diskusi bersama dia, pun dengan para pembaca tulisan ini. Ya, siapapun yang menerima perhatian pasti menginginkan bentuk perhatian itu ‘solid dan bulat seperti batu.’ Bukan berhamburan seperti tanah atau lebih rapuh semacam kayu. Sepakat?

Salam TintaMulia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here