Kampusdesa.or.id–Dusun Adat Busu di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, terlihat biasa-biasa saja dari luar. Namun di balik lereng hutan bambu yang tenang itu, terjalin jejaring pemberdayaan yang unik. Warga Busu membangun Gubuk Baca Busu sebagai pusat kegiatan belajar bersama, sekaligus laboratorium sosial dan budaya. Di sini anak-anak dan orang tua belajar membaca, bercerita, serta menanamkan nilai-nilai kebersamaan. Jejaring tokoh lokal – dari guru hidup hingga penjaga hutan – menjadi penggerak utama, mengubah Gubuk Baca Busu menjadi sumber harapan berkelanjutan. Faktor manusia dan makna yang mereka bangun bersama inilah yang menjaga pembangunan desa menjadi berkelanjutan. Sebagaimana analisis Sarjiyanto et al. (2022) tentang pemberdayaan komunitas yang memperkuat nilai sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Busu menemukan konteks komunitas dan keterlibatan partisipatif dalam pemberdayaan.
Kemajuan dan kelangsungan pemberdayaan Dusun Adat Busu menarik minat relawan KATI (Kampus Alam Tegalsari Indonesia), dan Kampus Desa Indonesia menjadi sumber belajar mereka. Mereka latihan membaca Busu melalui observasi dan turun lapangan. Melalui pengalaman Busu, para relawan yang mereka sebut sebagai program Akademi Rancang Karya dan Aksi Nyata (Arkana). Mereka menyiapkan diri untuk mendengar Busu dan memahami desa tersebut dalam kerangka kesadaran konservasi alam. Para relawan melatih dirinya untuk menemukan emas inspirasi dari Busu agar mereka dapat merekam spirit dalam merawat alam dan budaya serta tradisi masyarakat. Pendekatan ini mereka latih sebagai cara memahami sudut pandang peran aktif dan nilai-nilai yang menjadi spirit penjagaan alam Busu. Latihan tersebut dapat menjadi sarana menciptakan kesadaran kritis Generasi Z yang belum banyak terlatih di kelas-kelas formal. Melalui FGD dengan obyek studi Busu, mereka mencoba menemukan jalur analisis jejaring sosial (Social Network Analysis) dan spirit pemberdayaan berkelanjutan.

Hsil pembacaan mereka kami kompilasi dan reproduksi menggunakan generator AI, dengan memberikan bahan hasil diskusi kelompok mereka dengan pendekatan konstruktifisme kritis. Bahan lain termasuk sumber online tentang Busu menjadi bagian penting untuk melengkapi narasi kritis bagaimana kisah Busu terbaca dalam alur analisis jejaring aktor (Social Network Analysis) dan nilai-nilai penting yang muncul secara otentik terhadap praktik baik masyarakat Busu.
Jejaring Tokoh Lokal dan Peran Pemberdayaan
Keberlanjutan lahir bukan dari program, tetapi dari orang-orang yang merawat makna bersama.
Di Dusun Busu, tokoh adat, guru agama, dan relawan Gubuk Baca berperan saling melengkapi. Jejaring ini mirip dengan klaster yang terhubung: tokoh adat menggawangi napak tilas budaya, guru mengajarkan kearifan lokal, dan fasilitator Gubuk Baca menerjemahkan pengetahuan ke dalam aktivitas anak-anak. Mereka menjalankan pemberdayaan berbasis komunitas di lapangan, yang menurut Sarjiyanto et al. (2022) menjadi bagian pendekatan dengan menguatkan nilai sosial dan budaya komunitas. Misalnya, kegiatan budaya “Mapak Surup” diawasi tokoh adat, sementara Gus Irul (kepala Gubuk Baca) menghubungkan warga dengan relawan. Kolaborasi seperti ini sesuai prinsip sense of community (McMillan & Chavis, 1986) dan memberdayakan (Rappaport, 1987). Menurut relawan mereka memiliki hubungan saling percaya dan saling mengawasi lingkungan sosial mereka. Para relawan belajar bahwa, pendampingan dan pemberdayaan masyarakat harus lahir dari kepercayaan yang tulus.
Baca juga: Bacarita, Komunitas Baca dan Cerita Hadir di Pesantren Karanggenting

Pendidikan Komunitas dan Transformasi Nilai
Anak-anak datang untuk belajar membaca, tetapi pulang dengan identitas sebagai penjaga budaya dan alam. Anak-anak terpantik untuk bertansformasi secara kolektif menjadi lebih matang dengan akar pengalaman hidup berkelanjutan. Mereka lebih percaya diri.
Para relawan menyadari bahwa Gubuk Baca Busu bukan perpustakaan biasa. Di sini kegiatan membaca digabungkan dengan pembelajaran berbasis alam dan budaya. Anak-anak belajar menulis puisi, menanam bambu, atau memasak tradisional, yang sekaligus menanamkan kebanggaan identitas lokal. Setiap kegiatan memantik transformasi psikologis. Anak-anak mengalami peningkatan rasa percaya diri, kedekatan antar-anggota komunitas, serta peduli lingkungan. Dalam literatur psikologi komunitas, proses ini membantu membangun empowerment individual dan kolektif. Warga merasa “mampu” mengubah hidupnya (Rappaport, 1987) dan menjalani hidup berkelanjutan dengan tetap mampu berdialog secara bijak dan ramah dengan alam sekitar.
Para relawan menemukan dan memahami bahwa Gubuk Baca Busu membantu anak-anak mengenal desa mereka. Para siswa tidak hanya menghafal huruf, tetapi juga mengenal cerita Busu zaman dulu, legenda hutan, dan praktik gotong royong. Pendekatan pendidikan seperti ini sejajar dengan pemberdayaan berbasis komunitas yang menekankan pembelajaran dari, oleh, dan untuk masyarakat (Sarjiyanto et al., 2022). Melalui kegiatan kreatif, anak-anak pulang membawa pengetahuan sekaligus tanggung jawab menjaga kampung. Para relawan tahu bahwa, itulah sekolah hidup yang sesungguhnya, lebih dari belajar di kelas-kelas formal yang mengisolasi anak-anak dari pengalaman riil kehidupannya.
Baca juga: Pelatihan Budidaya Kopi, Ada Celah Bersyukur
Hutan Bambu Adat: Sumber Kehidupan dan Keberlanjutan
Para relawan memiliki sudut pandang baru bahwa hutan bambu (Alas Among) di sekeliling Busu bukan sekadar hiasan. Ia adalah sumber kehidupan dan identitas. Hutan ini menyediakan bahan bangunan, air bersih, hingga inspirasi budaya (misalnya mengenal filosofi bambu dalam tradisi setempat). Warga Busu menyadari bahwa menebang bambu sembarangan bisa mengancam keberlangsungan sumber air desa. Prinsip pelestarian ini dipegang teguh dalam norma adat Desa Slamparejo (Putri & Wardhana, 2024) yang mana setiap tindakan warga diarahkan demi kebaikan bersama.
Masyarakat menjaga bambu karena mereka menjaga kehidupan.
Pelestarian Hutan Adat Busu menunjukkan keselarasan dengan teori pemberdayaan keberlanjutan. Ketika masyarakat merasa memiliki dan berdaya atas sumber daya lokal, konservasi menjadi bagian otomatis dari rutinitas (Rappaport, 1987). Hutan bambu tidak hanya menjaga ekosistem (mengurangi erosi, melindungi mata air), tetapi juga menginspirasi pendidikan ekologi di Gubuk Baca. Anak-anak diajak eksplorasi alam. Mereka belajar menghargai tumbuhan di kebun baca dan merasakan kearifan lokal alam. Hubungan ini memperkuat identitas ekologis komunitas, yakni menegaskan masyarakat pedesaan Busu mampu membentuk rasa cinta lingkungan sejak dini.
Baca juga: Menanam Bibit Kopi, Menanam Pengharapan Hidup
Dalam perspektif psikologi komunitas, para relawan diajak membuka diri bahwa pengalaman kolektif inilah yang menciptakan empowerment. Komunitas tidak sekadar mengeluh, tetapi aktif berkreasi demi masa depan mereka. Berdasarkan pengetahuan tersebut, relawan Arkana menemukan kesadaran bahwa Gubuk Baca Busu dan para tokoh lokalnya mengajarkan generasi muda bahwa kekayaan desa ada pada manusia dan alamnya. Hasilnya adalah model pemberdayaan berkelanjutan. Tidak perlu program mahal, asalkan nilai bersama diwariskan secara konsisten, jejaring sosial yang kuat, pembelajaran berbasis komunitas, dan semangat menjaga alam bertransformasi menjadi modal sosial (Rappaport, 1987) yang membuat Dusun Adat Busu bertahan dan berkembang. Ketika aktor berkolaborasi, nilai, budaya, tradisi/adat menjadi spirit berdampak, keberlangsungan keberdayaan komunitas lebih awet.



