Mentalitas Orang Desa, Dukun Sebagai Penyebab Konflik

0
1103

0Shares
0

Percaya terhadap dukun untuk menyembuhkan penyakit masih menjadi sebuah pilihan bagi sebagian orang desa. Dengan hanya menerka-nerka, sang dukun mencoba untuk mencari tahu apa penyebab dari sakit yang diderita sang pasien. Alih-alih mendapatkan kesembuhan, terkadang hal ini justru menimbulkan berbagai prasangka yang kian menghantui. Jika prasangka yang mengerucut itu benar, mungkin bisa diselesaikan dengan baik-baik. Namun jika prasangka itu salah, siapa yang mau tanggung jawab?

KampusDesa–Alkisah, di sebuah dusun di salah satu desa ada orang sakit. Sakitnya memang sulit terdeteksi. Memang mendeteksi sakit itu mudah? Apalagi penyakit yang menyerang organ dalam. Sudah dibawa ke Rumah Sakit, dengan pertimbangan kemampuan keuangan tentunya, tidak juga memberikan tanda kesembuhan. Membawa ke dukun merupakan pilihan kedua, tentunya karena masyarakat yang masih memegang persepsi kuno ini memang menganggap dukun adalah solusi.

Bahkan ketika sakit awal-awal, juga sudah dimintakan “sababiyah” ke dukun. Tidak sembuh. Hanya dikasih kertas berisi huruf “kluwer-kluwer” di mana, kata dukunnya, kertas ini disuruh naruh di bawah bantal tempat tidur. Juga dikasih gula yang katanya sudah dikasih do’a dan mantra, lalu sesampai di rumah disuruh meminumkan si sakit.

Sudah empat bulan ternyata sakit tidak kunjung sembuh. Akhirnya sudah empat dukun yang didatangi. Celakanya, dari keempat dukun, diagnosanya berbeda-beda. Sebenarnya bukan diagnosa, karena istilah “diagnosa” adalah istilah untuk menggambarkan tindakan menganalisa penyakit dengan metode ilmiah. Mulut keempat dukun, saya yakin, hanya asal “njeplak”.

Dukun satu bilang, katanya tanah yang ditempati rumah si sakit itu tanah yang jelek, yang kalau ditempati untuk rumah maka penghuninya akan sengsara, jauh dari rejeki, dan mungkin juga sakit-sakitan. Padahal, dukunnya sendiri yang tempatnya jauh dari rumah keluarga yang sakit juga tidak pernah tahu tanah yang dimaksud.

Dukun kedua tidak bilang apa-apa. Ia tipe dukun yang agak menjauhi analisa spekulatif. Dia hanya memberikan mantra dan garam yang sudah “dijapani,” lalu menyarankan agar si sakit sering diberi minuman dari Kunyit dan Madu. Sebelum pihak keluarga pulang, ia juga menyarankan agar sering ada yang ngaji dan baca Surat Yasin di rumah itu.

Dukun ketiga memberikan solusi yang agak unik. Ia menyuruh agar rumah penghuni yang sakit ditebari bunga tujuh rupa. Terus si punya rumah bikin Genduren “sambung tuwuh“, nyajikan “sekul suci ulam sari” dan “ubo rampe” layaknya orang Jawa. Tentunya ia juga memberi gula yang sudah dikasih do’a di kamar kecil tempat ia praktik.

Yang paling parah adalah dukun keempat. Entah bagaimana ia bisa mengatakan bahwa penyebab sakit itu karena “digawe uwong” alias disebabkan oleh orang lain yang tidak suka alias benci. Bagaimana cara membuatnya sakit? Sudahlah, orang-orang sudah tahu soal mistik. Bagaimana mistik bekerja? Ya tidak tahu, tidak bisa menjelaskan.

Makanya, dengan gampangnya si dukun keempat ini memvonis bahwa sakit yang tidak sembuh itu dibuat oleh tetangganya. Tetangga yang mana? Kan banyak? Ada ratusan orang yang hidup di kampung si sakit. Dukun ngawur itu sok ngasih “Klu” alias kunci jawaban: “Yang menyebabkan kamu sakit ini adalah tetanggamu, rumahnya menghadap ke utara!”

Coba ditanya, siapa yang dimaksud? Kenapa hanya dikasih tahu bahwa yang dimaksud adalah yang rumahnya menghadap ke utara. Di sinilah, si keluarga pasien yang datang ke dukun itu pulang dengan pertanyaan (tebakan). Dia pulang membawa tebakan bersama keluarganya, mulai  berimajinasi bersama mencari siapa kira-kira orang yang telah berbuat jahat kepada keluarganya hingga anggota keluarganya sakit parah.

Dukun keempat inilah yang telah menjadi penyebab munculnya rasa benci yang dicari-carikan alamat untuk menumpahkan kebencian. Prasangka-prasangka berkembang. Akhirnya, prasangka langsung mengerucut pada satu orang. Dengan kasak-kusuk ia mulai menyebarkan isu bahwa keluarganya dijahati oleh orang yang sudah diidentifikasi itu.

Tradisi barbar, kuno, tua, ini menjadi fenomena masyarakat kita. Menilai tanpa bukti dan data. Mengembangkan asumsi untuk menghibur dari rasa susah karena penderitaan yang tak tertangani. Bahkan mencari musuh untuk membangun solidaritas keluarga yang sedang mengalami derita hanya dari dasar prasangka dan masukan dukun bejat. Dukun yang hanya ala kadarnya menilai tanpa bukti.

Ini sebenarnya satu kebiasaan buruk yang tanpa kita sadari menjadi karakter masyarakat kita, mungkin juga masyarakat Jawa yang barangkali peradabannya menjadi “mengsle” entah karena apa. Karena gerak historis yang cacat dari bentukan sejarah yang panjang akibat penindasan elit feodal dan dominasi ideologi mistiknya, atau karena penindasan imperialisme yang merusak karakter dan mental.

Dukun adalah orang yang eksis karena dipandang punya otoritas, tapi otoritas yang dimilikinya sama sekali lahir bukan dari kemampuannya memberikan rekomendasi-rekomendasi ilmiah

Kita harus hati-hati hidup di masyarakat yang penuh penilaian tidak objektif, kadang banyak gosip, dan seringkali tidak suka akan kejelasan dan kepastian atau yang suka mencari solusi dari spekulasi ngawur. Dukun adalah orang yang eksis karena dipandang punya otoritas, tapi otoritas yang dimilikinya sama sekali lahir bukan dari kemampuannya memberikan rekomendasi-rekomendasi ilmiah. Justru ia adalah orang-orang yang merusak peradaban dengan membuat dirinya dipuja oleh orang-orang yang punya masalah dan tidak bisa berpikir ilmiah.

Bahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ilmiah saja, soal di sekolah (ilmu pengetahuan), banyak orang yang pergi ke dukun. Si orangtua yang anaknya mau tes ujian nasional pergi ke dukun agar anaknya bisa mengerjakan soal ujian. Lucunya lagi, anaknya yang nakal juga dibawa ke dukun. Padahal anak nakal itu ya karena si orangtua tidak bisa mendidik dan lingkungannya tidak kondusif bagi perkembangan anak.

Kita tidak perlu takut. Yang perlu kita lakukan hati-hati dalam menjalani hidup dalam masyarakat sejenis ini. Karena bisa jadi, salah ucap atau salah bertindak, kita bisa disebut sebagai orang yang menjadi penyebab sakit atau penderitaan tetanggamu karena kamu juga dikira mendatangi dukun dan minta dukun itu untuk membuat derita bagi orang lain.

Subuh hari di Kaki Gunung Jabung, 12 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here