Pondok Pesantren, Antara Kebebasan dan Penyesuaian

0
250

0Shares
0

Remaja biasa menghadapi dilema. Upaya memilih yang disukai atau tuntutan belajar menjadikan remaja goyah untuk memutuskan yang terbaik bagi masa depannya. Ada yang terjebak pada kesukaan sesaat, tetapi ada yang sudah rasional menentukan apa yang terbaik untuk dirinya, bahkan untuk Indonesia. Goncangan lain termasuk memilih berdaya tahan di pondok pesantren Quran, atau enyah dari kesempatan tersebut. Suara Nafisa mengisahkan bagaimana seorang remaja bergulat antara kesenangan sesaat, keputusan masa depan, dan dilema berada di pondok pesantren.

Kampusdesa.or.id–Hai semua, untuk mengisi waktu luang di liburan kali ini, ada sedikit cerita yang bisa aku tuliskan.

Masih berhubungan dengan pondok. Bukan cerita yang saat ini, tapi yang kemarin sudah terjadi.

Saya anak kelas delapan dan berumur 13 tahun. Semua orang tentunya punya negara impian masing-masing, termasuk saya. Orang tua saya juga tahu apa negara impian saya, dan Mereka punya cara sendiri untuk membantu saya supaya bisa ke negara yang saya impikan. Tapi dengan cara yang sama sekali tidak pernah saya pikirkan, yakni melalui pondok.

Setelah tes Alhamdulillah saya menjadi salah satu calon santriwati yang lulus dari tes dan diterima, tinggal menunggu waktu masuk pondok diumumkan. Masalah pondok yang akan saya masuki ini memang membuka jalan yang sangat luas menuju negara impian saya, tapi kalau boleh jujur sebenarnya mengenai harus lagi untuk mondok, setelah mulai dari kelas 4,5,6,7, dan sampai kelas 8 ini  selalu berurusan dengan kata pondok, pondok, dan pondok tuh. Kalau juga boleh bilang bosan, maka saya akan mengatakannya. Saya sama seperti remaja lainnya yang masih ingin main ke sana ke sini dan nggak mau ada batasan apapun.

Tapi akhirnya saya tetap mengikuti alur. Saya tetap masuk pondok dan mengikuti semua kegiatan-kegiatan di sana dengan baik. Saya mengikuti pelajaran dengan tekun, setor duluan, apa apa duluan. Pokoknya saya ingin lebih dulu. Dalam tanda kutip, “supaya saya nggak kemakan umur, biar saya bisa ngerasain masa remaja saya di luar sana.” Saking pinginnya saya bisa sekolah SMA secara formal di luar, saya berpikir bahwa “saya hanya mau menyelesaikan proses belajar sampai di Indonesia saja dan tidak mau melanjutkannya sampai negara impian saya. Masalah ke negara impian itu nanti waktu kuliah saja. Yang penting saya tidak melewatkan masa remaja saya”.

Mungkin, saking banyaknya kegiatan dan saya yang terlalu memaksakan diri, akhirnya selang beberapa waktu saya sakit. Sebelum masuk UKS memang seminggu sebelumnya sudah pusing terus menerus, batuk-pilek, meriang, dan lain sebagainya. Dari sini saya merasa mulai ragu, `kalau aku sedikit-sedikit sakit, gimana bisa cepet lulus dari sini? Anak-anak yang lain juga anak-anak yang pintar, langkah mereka cepat, pasti aku ketinggalan jauh!`. Pokoknya di sesi ini saya benar-benar merasa paling bodoh, lemah, rentan, dan lain sebagainya.

Beberapa hari kemudian saya sembuh. Ketika kami makam malam, ada sebuah insiden yang mana ada teman saya tiba-tiba kejang-kejang padahal sebelumnya dia ketawa-ketawa. Lebih parahnya lagi, dia duduk nggak jauh dari saya, jadi saya bisa melihatnya secara langsung. Semua yang ada di ruang makan kebingungan, apalagi saya saya yang di dekatnya. Lalu apa yang saya pikirkan? MATI. Saya berpikir bahwa teman saya ini sedang sakaratul maut. Dengan cepat kakak-kakak lama membawanya keluar dari ruang makan menuju UKSZ. Jadinya saya benar-benar tidak nafsu untuk memakan mie ayam yang ada di depan saya.

Tapi syukurlah setelah saya bertanya pada kakak-kakak lamanya, teman saya yang tadi itu bukan sakaratul maut, melainkan ia memiliki penyakit epilepsi. Alright bukan sakaratul maut, tapi epilepsi itu sama-sama memngerikan. Fakta selanjutnya bahwa ada teman satu kamar saya sendiri yang memiliki penyakit asma, setiap hari mimisan, bisa sampai 4-5 kali dalam sehari. Sering banget bangun-bangun mau sholat tahajud dia udah bingung lari-lari ke kamar mandi karena tiba-tiba mimisan. Dan satu lagi, bukan teman sekamar tapi satu angkatan, yang satu ini dia punya penyakit vertigo (pusing berat), kalau migrain yang terjadi pada sebagian kepala saja sudah sangat sakit dan dapat menghambat banyak aktivitas, apalagi vertigo yang terjadi pada seluruh bagian kepala.

Dari sini saya mulai membuka mata. Kenapa saya harus merasa lemah, padahal banyak orang yang punya penyakit lebih parah saja mereka selalu tertawa dimana-mana. Seperti bukan orang punya penyakit parah. Lah saya apa… sakit dikit langsung mengeluh. Ini pelajaran yang dapat saya ambil dari satu bulan pertama saya di pondok. Tapi tetap memegang kalau saya tidak mau

Lama-lama di sini, saya ingin merasakan masa remaja saya.

Di lain cerita, menginjak bulan kedua. Pertama saya banyak mendapat kabar tentang teman-teman saya yang meninggal, atau bahkan keluarga teman saya yang meninggal. Kedua, tentang memanasnya politik diluar dan sedikit gesreknya pergaulan di luar, ketiga saya mendapatkan fakta bahwa guru-guru yang mengajar saya umurnya masih kisaran 21-23 tahunan, bahkan ada yang berumur 19 tahun. guru-guru yang mengajar di pondok saya dan cabang-cabang asrama lainnya itu semuannya sudah hafidz, sudah menyelesaikan kelas takamul (penyempurnaan) di luar negri sana (negri impian saya) . dan ijazahnya setara dengan ijazah S1 keagamaan di negara itu. berarti mengajarnya beliau-beliau di sini termasuk juga sudah termasuk penghasilan dong.

“Saya ingin cepat menyelesaikan belajar di asrama Indonesia dan tidak mau melanjutkan belajar di asrama luar negeri, supaya cukup waktunya untuk saya bisa sekolah SMA di luar dan bisa merasakan masa remaja saya di luar.”

Setelah itu saya menimbang-nimbang perkataan saya sendiri tentang: “saya ingin cepat menyelesaikan belajar di asrama Indonesia dan tidak mau melanjutkan belajar di asrama luar negeri, supaya cukup waktunya untuk saya bisa sekolah SMA di luar dan bisa merasakan masa remaja saya di luar. Konsekuensi pertama adalah tentang kematian, kalau saya cepat-cepat keluar dari pondok belum tentu di luar saya sudah bisa membimbing diri sendiri untuk selalu mengerjakan kebaikan, bagaimana kalau saya mati ketika dalam keadaan mengerjakan keburukan? (ketika ini saya mengingat kejadian kambuhnya teman saya yang mengidap penyakit epilepsi, ketika ia tertawa-tertawa terus tiba-tiba kejang, hehe…), kedua tentang dunia luar, saya juga heran padahal sebenarnya apa yang saya inginkan dari dunia luar itu tidak lebih penting dibanding segala pengalaman dan apa yang saya dapatkan di pondok. Ketiga, ini poin yang paling penting… karena ego dan keinginan tidak penting saya, saya hampir melewatkan tujuan utama dan negara impian saya, cita-cita saya. Saya belajar giat bukan semata-mata karena ilmu dan untuk berdakwah di jalan Allah, melainkan untuk bisa cepat keluar dari pondok dan bermain-main di luar sana, bahkan sampai-sampai saya tidak ingin bisa kenegara impian saya.

Dan di bulan ketiga-nya saya mulai berusaha menata niat saya, merubah maindset saya, dan pola pikir saya untuk menjadi lebih positif. Dan untuk kalian semua jangan pernah berfikir pendek apalagi salah berfikir seperti saya, dahulukanlah kebutuhan dan cita-cita kalian, bukan keinginan kalian.

Rabu, 09 Oktober 2019