Permainan Tradisional, Benarkah Perannya Mulai Tergantikan oleh Media Elektronik?

0
644

0Shares
0

Permainan tradisional ini mulai digantikan dengan media elektronik. Banyak orang tua yang menggunakan televisi dan gadget sebagai media untuk membuat anaknya anteng tanpa peduli dengan dampak dari gadget itu sendiri. Sejatinya, aktifitas bermain pada anak-anak sangat esensial tidak hanya untuk pertumbuhan fisik tapi juga perkembangan emosi dan menambah pengetahuan.

KampusDesa.or.id–Permainan tradisional memegang peran penting dalam menunjang tumbuh kembang anak. Dengan permainan tradisional, anak bisa mengembangkan kecerdasan intelektualnya. Misalnya saja permainan dakon; kecerdasan emosi seperti dalam permainan layang-layang; daya kreatifitas semisal membuat pesawat dari kertas atau kardus bekas; meningkatkan kemampuan bersosialisasi contohnya gobak sodor, dan melatih kemampuan motorik seperti pada permainan engklek. Sebenarnya setiap jenis permainan tradisional dapat meliputi pengembangan dari beberapa kecerdasan sekaligus. Contoh-contoh tersebut untuk menggambarkan kecerdasan yang dominan saja. Meski sangat besar manfaatnya, sayangnya seiring kemajuan teknologi, permainan tradisional ini mulai digantikan dengan media elektronik.

Gadget dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan otak anak.

Media elektronik mengalami perkembangan yang pesat di abad modern. Bila dulu televisi hanya mempunyai satu stasiun televisi yaitu TVRI, namun sekarang banyak sekali stasiun televisi yang menyajikan berbagai program sehingga lebih banyak pilihan. Hal ini juga terjadi pada mobile phone atau handphone (HP). Dulu HP hanya digunakan untuk menelpon dan mengirim pesan pendek (SMS), namun saat ini begitu banyak fitur yang disajikan pada layar HP. Perkembangan internet mengalami kemajuan yang cepat di mana muncul berbagai pilihan media sosial mulai dari facebook, youtube, instagram,  dan sebagainya, yang memungkinkan orang menyebarkan sebuah informasi secara cepat dan luas. Segala kemudahan ini membuat orang menjadi fokus dengan berbagai media tersebut, tak terkecuali anak-anak bahkan bayi sekalipun. Banyak orang tua yang menggunakan televisi dan gadget sebagai media untuk membuat anaknya anteng. Padahal gadget dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan otak anak.

Televisi dan gadget dapat diibaratkan sebagai candu yang dapat membuat anak menjadi addicted atau ketergantungan.

Otak anak mengalami perkembangan yang pesat pada usia di bawah 3 tahun. Kepadatan syaraf pada usia ini merupakan yang tercepat dalam kehidupan manusia. Kepadatan syaraf akan berhenti ketika seseorang berusia 19 tahun. Bila usia anak kurang dari tiga tuhun sudah diberi televisi atau gadget, maka perkembangan kepadatan syarafnya akan terganggu. Televisi dan gadget dapat diibaratkan sebagai candu yang dapat membuat anak menjadi addicted atau ketergantungan. Untuk menghilangkan ketergantungan ini perlu diterapi cukup lama. Anak normal yang menderita ketergantungan terhadap televisi dan gadget bisa terlihat seperti anak berkebutuhan khusus, sehingga anak rawan mengalami salah diagnosis. Bila anak normal usia kurang dari 3 tahun yang mengalami ketergantungan dengan televisi dan gadget diperlukan terapi minimal selama satu tahun, dan tentu butuh waktu lebih lama bagi anak berkebutuhan khusus untuk menghilangkan ketergantungannya dan meminimalisir dampak-dampak buruk yang ditimbulkannya.

Anak juga rentan mengalami gangguan kesehatan terutama menimbulkan obesitas akibat kurang aktifitas karena bermain gadget.

Ada beberapa dampak buruk yang ditimbulkan oleh televisi atau gadget. Pertama, anak yang suka menonton televisi dan bermain gadget akan mengalami keterlambatan bicara (speech or language delay). Interaksi searah dari gadget dan televisi membuat anak tidak berkembang kemampuan berkomunikasinya. Anak menjadi tidak mahir memperhatikan gerak bibir dan mengenal ekspresi dari lawan bicara. Kedua, menyebabkan terjadinya gangguan perhatian (attention deficits). Ketiga, gangguan belajar (learning problems). Hal ini sebagai akibat dari gangguan perhatian sehingga anak kesulitan memahami apa yang dipelajarinya. Keempat, timbulnya kecemasan (anxiety). Anak yang menonton kekerasan di televisi atau bermain games perkelahian di gadget rentan mengalami kecemasan dan kesulitan mengendalikan emosi. Terakhir, menimbulkan depresi pada anak. Ketegangan dan kekalahan ketika bermain games di gadget sangat mempengaruhi terjadinya gangguan psikis berupa depresi pada anak. Yang dimaksud depresi di sini adalah kumpulan gejala-keluhan yang tidak dapat diselesaikan dengan baik, berupa sulit tidur, malas bertemu dan berbicara dengan orang lain, mudah emosi, dan lain-lain. Selain kelima gangguan tersebut anak juga rentan mengalami gangguan kesehatan terutama menimbulkan obesitas akibat kurang aktifitas.

Aktifitas bermain pada anak-anak sangat esensial tidak hanya untuk pertumbuhan fisik tapi juga perkembangan emosi dan menambah pengetahuan. Permainan tradisional yang lebih banyak menggunakan aktivitas fisik seperti engklek, egrang, terompah panjang, obak sodor dan lain-lain sangat bagus untuk meningkatkan berbagai jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan bodily, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Mari kita kembalikan jenis permainan anak-anak kita ke permainan tradisional dan jangan fasilitasi mereka dengan gadget agar kita tidak menyesal di kemudian hari.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah