Menembus Batas Cakrawala New York

0
128

0Shares
0

Judulnya Beijing, lalu kenapa pertemuannya di New York? Pertanyaan yang sudah pasti akan menggantung di benak teman-teman yang sedang membaca. Tepat tahun 2020 kedepan, Deklarasi Beijing memasuki usia yang ke 25 tahun bersamaan dengan UNSCR 1325 yang ke 20 tahun dan UNSCR 2250 yang ke 5 tahun. The Beijing Declaration and Platform for Action atau Deklarasi dan Landasan Aksi Beijing punya arti penting karena didalamnya memuat dokumen strategis dan kerangka aksi pemberdayaan dan kemajuan perempuan, penegakan hak asasi manusia dan keterlibatan dalam pembangunan.

Kampusdesa.or.id–New York (18/12), saat menulis ini saya sedang di Manhasset, masih di New York tepatnya di sebuah komplek pemukiman milik salah satu keluarga Whitney yang turun temurun diwariskan, Greentree namanya, kalau cari di google akan sulit menemukan karena kawasan ini benar-benar privat, hanya diperbolehkan digunakan untuk keperluan pertemuan-pertemuan tingkat tinggi dalam bidang kemanusiaan, lingkungan, hak asasi manusia, dan lainnya dengan urgensi tinggi yang didalamnya terdapat para anggota PBB atau stakeholders. Sekedar tahu, melalui keterangan singkat salah satu pekerja yang merawat Greentree, Presiden Abraham Lincoln, George Washington, sampai John F. Kennedy pernah singgah disini untuk sekedar berkuda atau hadir dalam pertemuan, sebab keluarga whitney sendiri cukup dekat dengan para presiden lintas waktu. Bisa membayangkan bagaimana makan di meja makan yang sama dipakai oleh mereka.

Mungkin cukup satu paragraf untuk penjelasan betapa mengagumkan dan kerennya Greentree. Ada salah satu cerita lucu yang saya alami, pesan whatsapp seseorang kepada saya suatu siang waktu New York:

“Ngapain ke US?”

“Ada undangan untuk acara Beijing +25”

“Kok lapo wong Jagran* adoh-adoh nang New York iku?”

Haha, saya juga ga tahu. harusnya jadi cerita panjang kalau diceritakan mulai dari saat undangan secara langsung disampaikan sampai dengan saat pengurusan visa dan keperluan pribadi atau bahan untuk speech nanti. Iya, untuk sekitar 5-6 meeting kedepan, saya sebagai anggota dari YWPL atau GA4P Lamongan akan menyampaikan speech bersama seorang representatif dari Sudan Selatan yang juga menjadi teman sekamar selama di Manhattan.

Setelah urusan ngetan ngulon bersama visa sudah kelar, yang sebenarnya tidak sulit asal mau sabar dan teliti serta banyak-banyak berdoa, dalam seminggu sudah beres. Terhitung cepat untuk beginner dalam membuat visa seperti saya. Penerbangan 22 jam total dengan penerbangan transfer di Qatar, JFK lumayan ngantuk alias mendung. Salju tipis di Queens menandai ucapan selamat datang. Manhattan, bagaimana bentukannya? Rapat dengan gedung-gedung tinggi dan lalu lintas padat, gedung-gedungnya berbeda dengan yang ada di Jurabaya maupun Jakarta, New York punya gaya sendiri dalam berdandan.

GNWP (The Global Network for Women Peacebuilders) alias yang punya hajat memiliki kantor yang berlokasi dalam komplek kantor PBB, dari jendela depan gedung, UN Headquarters bisa dilihat dengan jelas, bertetangga dengan kantor-kantor representatif negara-negara dari seluruh dunia dan council-council PBB seperti UNICEF, UN WOMEN, UNDP dan lain-lain.

Pada pertemuan pertama yang dihadiri Dr. Rima Salah sebagai GNWP Board Treasurer and former Deputy Executive Director of UNICEF, Mrs. Bandana Rana, Vice Chair CEDAW Commitee, Nepal. Serta hadir pula teman dari Democracy Development Center, Ukraina, Women Problems Research Union, Azarbaijan, Canadian Council of Young Feminist, Canada, dan YWPL atau GA4P dari Republik Demokratik Kongo dan Elizabeth Yokwe, Eve Organization, South Sudan baik Via online melalui sambungan Video Call maupun offline secara langsung. Pertemuan ini diberi judul “Beijing +25 Women, Peace, and Security – Youth, Peace, and Security Launch Meeting“. Judulnya Beijing, lalu kenapa pertemuannya di New York?

Pertanyaan yang sudah pasti akan menggantung di benak teman-teman yang sedang membaca. Tepat tahun 2020 kedepan, Deklarasi Beijing memasuki usia yang ke 25 tahun bersamaan dengan UNSCR 1325 yang ke 20 tahun dan UNSCR 2250 yang ke 5 tahun. The Beijing Declaration and Platform for Action atau Deklarasi dan Landasan Aksi Beijing punya arti penting karena didalamnya memuat dokumen strategis dan kerangka aksi pemberdayaan dan kemajuan perempuan, penegakan hak asasi manusia dan keterlibatan dalam pembangunan. Terdapat 12 bidang kritis beserta langkah strategis dan indikatornya yang perlu diketahui dan harus menjadi pusat perhatian dan sasaran strategis bagi pemerintah, masyarakat dalam cakupan nasional, regional, maupun internasional serta LSM.

Pertemuan lain dilakukan bersama Representatif dari Meksiko dan Perancis untuk PBB demi menggalang suara dukungan untuk memaksimalkan peran pemudan dan perempuan dalam penerapan Deklarasi Beijing. Serta dialog bersama UN WOMEN secara langsung sebagai UN Council yang bersangkutan.

Sepertinya sekian untuk cerita pengalamanya menembus batas cakrawala New York. Kisah saya serupa lebih banyak telah dimuat dalam dua chapter berbeda di halaman Fanspage Girl Ambassadors for Peace Lamongan. Kalau senggang bolehlah mampir dan jangan lupa juga melipir ke akun instagramnya juga (@ga4p.lamongan).

*Jagran: Nama sebuah desa di Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan

Berita sebelumyaSebelum Ibu Terpapar Radikalisme, Apa yang Seharusnya Dilakukan?
Berita berikutnyaAn Overview: Beijing +25 Women, Peace, and Security – Youth, Peace, and Security Action Coalition
Cukup panggil Aisy dari tiga suku kata nama saya. Begitu mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado, kalimat besar Sitou Timou Tumou Tou yang memiliki arti manusia hidup, untuk memanusiakan orang lain akan menyambut para pendatang. Bagi saya, ada beberapa pegangan yang perlu hadir untuk terus menjadi pengingat. Lebih dari sekedar hidup seorang diri sebagai individu, manusia hadir untuk memanusiakan sesamanya. Fastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan adalah ‘pegangan’ lainnya. Terlebih, terciptanya manusia di bumi ini adalah sebagai khalifah yang akan merawat dan mensejahterakan bumi, karena saya lahir sebagai Orang Jawa, maka tidak akan lepas dengan kiasan “Lakon, Dudu Penonton” yang artinya menjadi penonton saja tidak cukup, namun harus menjadi lakon atau terlibat langsung sebagai bagian dari bagian perubahan. Tiga kutipan tersebut tidak begitu saja dipilih sebagai pegangan, tetapi lahir dari semacam akulturasi. Ibu dan ayah saya tinggal di Manado selama kurang lebih tujuh belas tahun. Budaya minahasa menjadi sebagian kecil dari diri saya. Sedangkan sebagian besar waktu saya tumbuh dihabiskan di Jawa. Saat ini saya menempuh pendidikan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Hubungan Internasional. Sedang menjadi abdi di beberapa komunitas yaitu GA4P Lamongan, Diaspora Muda Lamongan, DYPLO, dan YIPC Jakarta. Sapa saya melalui sosial media, saya ramah kok! hehe