Hari Buku Sedunia 2020, Apa Kabar Industri Perbukuan Nasional?

0
213

0Shares
0

Di Hari Buku Sedunia 2020 ini, ternyata belum ada kabar menggembirakan dari industri perbukuan nasional. Fluktuasi masih kerap terjadi selaras dengan minat baca masyarakat yang kadang naik-turun dan cenderung masih rendah. Sungguhpun pemerintah telah berinisiatif mendorong melalui penerbitan UU Sistem Perbukuan, dampak signifikan belum kunjung terlihat. Industri perbukuan nasional masih lesu.

Kampusdesa.or.i–Di hari buku sedunia 2020 ini, sepertinya menarik jika kita berbincang mengenai geliat industri perbukuan nasional. Apalagi jika kita hubungkan dengan prestasi minat baca kita yang masih saja terseok-seok di peringkat buncit. Juga, jika kita kaitkan dengan disrupsi yang terjadi di dunia insdustri akibat masifnya digitalisasi di segala bidang kehidupan. Belum jika dikaitkan dengan dunia ekonomi, agama, sosial, dan seterusnya. Intinya, membincang ‘kabar terkini’ industri perbukuan tanah air, menarik karena bisa dipotret dari banyak sisi. Jelas tidak akan cukup untuk kita ulas di sini.

Kita awali dari angin segar yang diembuskan Kemendikbud dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2017 lalu. Regulasi ini terdiri atas 13 BAB dan 72 Pasal yang menuntut 17 Ketentuan Pelaksanaan dengan Peraturan Pemerintah dan 5 Peraturan Menteri. Jika dilihat, UU Sistem Perbukuan ini cukup komprehensif mengatur industri perbukuan dari hulu ke hilir. Ia juga mengatur indusri buku elektronik (ebook) yang hari ini terus bertumbuh.

Baca Juga: Hari Buku dan Minat Baca Pemuda Hari Ini

Sebagai langkah praktis dari UU tersebut, pada tahun 2019, Kemendikbud menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan yang disahkan pada 15 Oktober 2019 dan mulai berlaku dua hari setelahnya. Dalam PP ini pun yang diatur bukan hanya sistem penerbitan, distribusi, dan konsumsi buku, tapi juga mengatur tata laksana pembudayaan literasi melalui pelbagai cara untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap buku.

Lalu bagaimana dampak regulasi ini pada industri perbukuan nasional? Belum ada laporan resmi dari Kemendikbud maupun IKAPI terkait hal ini. Namun, kabar baik dirilis oleh Picodi.com yang menyatakan bahwa sepanjang 2018, angka permintaan buku di Indonesia masih cukup tinggi terutama menjelang akhir tahun. Di bulan Desember, jumlah penjualan bisa mencapai dua kali lipat dari angka penjualan di awal tahun. Hal ini seiring dengan adanya gebyar promo seperti Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) yang digelar oleh para pengelola marketplace.

Kabar baik lainnya juga datang dari para pengelola pameran-pameran buku (book fair) yang mengungkapkan adanya kenaikan hasil penjualan. Seperti yang dituturkan Syahruddin El-Fikri kepada Republika, Ketua Panitia Islamic Book Fair 2020, bahwa jumlah transaksi meningkat 50 persen.

Sementara itu, fenomena cukup menarik diungkapkan oleh Supervisor  Gramedia Expo Surabaya, Sari Widjayanti sebagaimana dimuat beritajatim.com. selama wabah Covid-19 ini terjadi lonjakan penjualan yang signifikan, mencapai 300 persen. Hal ini dipicu oleh banyaknya waktu yang tersedia di rumah membuat masyarakat menjadikan buku sebagai media untuk mengisi waktu tersebut.

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie

“Fluktuasi penjualan buku amat dipengaruhi oleh gaya hidup dan minat baca masyarakat. Di era online shoping sekarang ini, pola pembelian buku masyarakat sudah mulai bergeser ke arah digital”

Fluktuasi penjualan buku amat dipengaruhi oleh gaya hidup dan minat baca masyarakat. Di era online shoping sekarang ini, pola pembelian buku masyarakat sudah mulai bergeser ke arah digital. Selain lebih praktis, biasanya diskon yang tersedia di toko online jauh lebih banyak. Di samping itu, di toko online juga tersedia menu ulasan tentang buku yang sedikit banyak meembrikan informasi mengenai buku sebelum dibeli. Sehingga makin membuat masyarakat lebih nyaman belanja online.

Selain perilaku pembelian yang bergeser ke arah digital, minat masyarakat terhadap buku juga mengalami hal yang sama. Mereka mulai menaruh minat pada buku digital atau e-book. Membaca e-book jauh lebih praktis daripada buku cetak atau fisik. Hanya berbekal perangkat seperti smartphone, tablet, atau perangkat khusus untuk e-book seperti Kindle dan Kobo Touch, mereka bisa membawa berbagai buku dalam satu genggaman. Apalagi banyak tersedia e-book gratis di internet. Meski begitu, jumlah peminat e-book di Indonesia masih sangat sedikit.

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie“Pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).”

Tantangan lain yang juga tak bisa diabaikan adalah minat baca masyarakat Indonesia yang memang masih memprihatinkan. Menurut temuan UNESCO yang dikutip laman Kemenkominfo, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Riset lain bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Rendahnya minat baca ini membuat masyarakat kurang berminat membeli buku. Dalam pandangan sebagian besar dari mereka, buku merupakan barang mahal dan kurang begitu penting. Meski harganya jauh lebih murah dibandingkan baju dan makanan serta minuman yang mereka nikmati saat kongkow. Lagipula di era big data sekarang ini, akses informasi jauh lebih mudah dan cepat melalui smart phone. Alhasil, daripada membeli buku, mending uang digunakan untuk membeli paket data.

Anggapan masyarakat ini kadang makin didukung dengan peningkatan harga akibat rantai penyaluran buku dari penerbit ke toko buku harus terlebih dahulu melalui distributor. Hal ini sebagai langkah antisipasi gerai toko buku terhadap penerbit yang tidak konsisten produknya., karena dianggap sangat mengganggu dalam manajemen toko modern semacam Gramedia. Pola ini yang masih berlaku hingga sekarang, dan kerap menjadi faktor penghambat tumbuhkembang industri perbukuan nasional.