Peran Gender di Tengah COVID-19, Sudahkah Keduanya Saling Melengkapi?

0
254
ilustrasi kesetaraan gender dalam rumah tangga (sumber gambar: magdalene.co)

0Shares
0

Sesungguhnya dalam konsep gender bukan lagi persoalan laki-laki ataupun wanita, namun dapat terjadi atau dilakukan oleh kedua belah pihak yang saling memiliki kepedulian terhadap feminis. Tidak ada pembedaan dari segi tanggung jawab, semua harus mengedepankan sikap saling melengkapi diantara keduanya. Bahkan sejatinya, peran wanita jauh lebih berat dan lebih banyak jika dibandingkan dengan lelaki.

Kampusdesa.or.id–Peran gender pada masa pandemi Covid-19 dapat terbilang begitu urgent posisinya. Sekalipun pada masa sebelumnya bukanlah suatu hal yang asing. Meskipun sejak zaman pasca nomaden wanita memiliki peran di luar maupun di dalam, sesungguhnya di dalam konsep Islam kedua hal tersebut bukanlah menjadi sebuah pembeda. Dalam arti konsep yang menjurus bahwa wanita harus di dalam (di rumah) secara utuh tidak sepenuhnya demikian.

Konsep mubadalah yang bermakna sebagai keseimbangan membuktikan bahwasanya peran gender tidak lagi terfokus pada satu sisi yang mengharuskan hanya mengurus urusan rumah, namun bisa jadi wanita melakukan hal-hal yang menunjang karirnya di luar. Hal ini bukan berarti untuk bersaing dalam mengunggulkan posisi wanita dengan lelaki. Sesungguhnya dalam konsep gender bukan lagi persoalan laki-laki ataupun wanita, namun dapat terjadi atau dilakukan oleh kedua belah pihak yang saling memiliki kepedulian terhadap feminis.

Akibat dari Covid-19 dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Pemerintah sebagai langkah mencegah penyebaran virus tersebut.

Melihat fenomena yang sedang melanda baik negara maju, berkembang, maupun miskin bisa saja terserang oleh Covid-19. Dari hari ke hari berbagai lini informasi menyampaikan jumlah kasus, korban positif, korban meninggal disebabkan Covid-19. Kita mengetahui dan merasakan sendiri bahwasanya dampak dari pandemic Covid-19 pun tidak hanya tertuju pada bidang kesehatan namun diikuti juga berbagai persoalan seperti ekonomi, pendidikan, sosial, dan lain sebagainya. Yang sedang dirasakan oleh masyarakat kita saat ini munculnya perasaan takut yang berlebihan, ketakutan akan kelaparan, ketakutan akan kematian, ketakutan akan tertimpa kemiskinan.

Akibat dari Covid-19 dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Pemerintah sebagai langkah mencegah penyebaran virus tersebut. Dengan begitu maka muncullah kepedulian-kepedulian dari berbagai golongan,solidaritas untuk saling bahu membahu dalam membantu orang-orang yang dirasa membutuhkan. Pada awal-awal mungkin banyak yang membantu dari segi kelengkapan medis. Namun semakin ke sini banyak berbagai solidaritas yang mulai mempedulikan kepada para pekerja yang memang benar-benar saat ini sulit untuk mendapatkan pekerjaannya. Tentunya melalui berbagai hal seperti dalam pemberian sembako, makanan, atau bahkan kelengkapan kesehatan seperti masker dan sanitizer.

Perlu disadari bahwa semua memiliki peran androgini atau setiap orang memiliki karakter maskulin dan feminis.

Berbagai masalah pun mulai muncul sesungguhnya banyak sekali kerugian-kerugian yang dialami oleh negara karena Covid-19. Terlepas dari itu semua peran gender di dalam rumah tangga harus dibangun dengan mengusung konsep keseimbangan. Baik dari kaum laki-laki maupun perempuan harus berpondasi atau harus menyadari bahwasanya Covid-19 ini adalah pandemic, bencana yang dialami oleh kita semua.

Perlu disadari bahwa semua memiliki peran androgini atau setiap orang memiliki karakter maskulin dan feminis. Tidak ada pembedaan dari segi tanggung jawab, semua harus mengedepankan sikap saling melengkapi diantara keduanya. Pada situasi saat ini yang dibutuhkan adalah sikap saling mengerti dan saling membantu dalam penyelesaian tugas.

Sesungguhnya peran wanita jauh lebih berat dan lebih banyak jika dibandingkan dengan lelaki. Dalam urusan rumah tangga khususnya, mulai dari urusan dapur, mengurus anak, mengurus rumah, belum lagi bagi mereka yang berkarir harus mengurus pekerjaannya. Sementara kebanyakan dari kaum lelaki yang dikerjakan adalah tanggung jawab dalam urusan menafkahi. Saat ini dunia sedang menunjukkan dan menyadarkan peran yang sesungguhnya baik dari kaum laki-laki maupun perempuan.

Dari sinilah perlu kesadaran yang tinggi bagaimana saling bergotong royong mengurus apa-apa yang dikerjakan dari rumah. Contoh kecil yang dapat dilakukan di rumah seorang wanita harus berurusan dapur maka setidaknya untuk meringankan bebannya membantu dalam hal menyiapkan dalam membimbing anak untuk belajar secara daring/online. Dengan adanya instruksi untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah perlu sebuah manajemen yang mana di dalamnya bagaimana seorang wanita dan lelaki berbagi tugas dalam rumah tangga.

Dari kejadian yang menimpa saat ini, maka dapat disimpulkan menjadi 3 typologi : pertama, relasi gender yang timpang, kedua, relasi yang memahami dengan kondisi, dan yang ketiga kebiasaan. Memahami typology yang pertama bahwa relasi gender yang timpang ketika hubungan antara wanita dengan lelaki dalam rumah tangga terjadi karena berat beban lebih pada wanita. Kemudian pada typology kedua relasi yang memahami kondisi bahwasanya dalam situasi seperti ini beberapa dari pasangan rumah tangga saling memahami terhadap pandemi Covid-19. Typology yang ketiga kebiasaan, peran wanita yang memang sejak dahulu sudah lebih banyak maka dengan situasi seperti ini bukan suatu hal yang perlu dihadapi dengan gegabah.

Melalui konsep mubadalah bahwasanya keberadilan sangat dibutuhkan dalam rumah tangga, melihat situasi saat ini sesungguhnya harus sangat berhati-hati. Mengapa hal demikian harus diperhatikan, ketika semua dilakukan dari rumah maka seharusnya yang lebih dibangun adalah hubungan yang harmonis, yang saling memahami, mengasihi dan menyayangi. Jika konsep keberadilan ini tidak dipahami kemungkinan yang akan terjadi adalah munculnya kekerasan dalam rumah tangga. Dengan konsep tersebut mengajarkan seseorang untuk bagaimana memandang orang lain seperti dirinya sendiri. Maka dari itu inti dari pada pandemic Covid-19 ini mengajarkan kepada kita bahwa semuanya harus memiliki kesadaran, solidaritas, dan juga empati antar sesama.