Cara Memberikan Bantuan Hidup Dasar pada Gawat Darurat / Pra Rumah Sakit

0
5561

0Shares
0

Bantuan hidup sangat penting untuk dipahami oleh siapa saja agar mampu melakukan tindakan dini sehingga seseorang dalam keadaan darurat bisa segera mendapatkan pertolongan. Pemahaman ini penting disajikan ke masyarakat agar bantuan hidup pada orang dalam keadaan darurat mampu ditopang oleh ketrampilan pertolongan darurat.

Kampusdesa–Bantuan hidup adalah suatu usaha di mana keadaan yang mengancam nyawa dapat terselamatkan dengan mempertahankan kehidupannya. Bantuan hidup dapat dibedakan menjadi dua; pertama, bantuan hidup dasar yang biasa disingkat BHD. Kedua, bantuan hidup lanjut atau BHL.

Bantuan hidup dasar merupakan dasar dalam mempertahankan  dan menyelamatkan penderita yang saat itu mengalami kondisi yang mengancam nyawa seperti didapati tanda-tanda henti jantung dan segera mengaktifkan sistem respon kegawatdaruratan. Kemudian segera lakukan RJP (Resusitasi Jantu Paru), dan lakukan segera defibrilasi dengan menggunakan AED (Automated External Defibrillator). Contohnya; menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirim mobil Ambulan dan meminta tolong pada orang terdekat.

Sedangkan bantuan hidup lanjut adalah penanganan dengan menggunakan alat dan pelaksanaan setelah resusitasi. Atau biasa juga dikenal dengan pra rumah sakit.

Hal yang perlu di ingat bahwa:

  • Orang yang henti jantung otomatis henti nafas, segera lakukan RJP
  • Orang yang henti nafas belum tentu henti jantung, berikan nafas bantuan

Cara melakukan RJP:

  • Cek nadi selama < 10 detik
  • Bila tidak teraba, mulai kompresi sebanyak 30 kali dan 2 kali ventilasi
  • Bila teraba, berikan 1 kali nafas tiap 5-6 detik, cek nadi kembali tiap 2 menit.

RJP yang berkualitas:

  • Kecepatan paling sedikit 100x/ menit
  • Kedalaman kompresi 2 inci atau 5 cm
  • Berikan dada recoil setiap setelah kompresi
  • Menimalkan interupsi terhadap kompresi dada
  • Hindari ventilasi atau nafas buatan yang berlebihan.

Resusitasi Jantung Paru (RJP
RJP merupakan salah satu yang mendasari bantuan hidup dasar dan dapat bervariasi dalam pendekatan optimal terhadap RJP. Tergantung pada penolong, penderita atau korban dan sumber daya yang tersedia. Tetapi hal-hal yang mendasar tidak mengalami perubahan,  yaitu bagaimana melakukan RJP segera dan efektif. Mengingat hal ini terus menjadi prioritas, pedoman AHA 2010  untuk RJP mengalami perubahan yaitu dengan mendahulukan sirkulasi sebelum penatalaksanaan jalan nafas dan pernafasan (chest compression, airway dan breathing) [CAB]. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan praktik dunia nyata dalam rangka meningkatkan hasil RJP.

Prinsip-prinsip dasar terhadap RJP adalah kekuatan dari rantai keberhasilan, diantaranya Anda dapat mengikuti sebagaimana panduan di bawah ini,

Segera mengenali tanda-tanda henti jantung dan mengaktifkan sistem kegawat daruratan. Salah satu cara simple untuk mengatahui henti jantung adalah meraba nadi yang ada di leher (nadi karotis). Kemudian meminta tolong pada orang sekitar dan menghubungi rumah sakit terdekat untuk dibawakan mobil ambulance.

Segera lakukan RJP dengan penekanan pada kompresi dada. Pastikan pasien dalam keadaan berbaring, letakkan kedua telapak tangan saling bertumpuan, lengan sejajar lurus dengan tulang belakang (tujuannya agar penolong tidak mengalami cidera), beri tekanan di daerah bahu, biarkan telapak tangan yang menekan dada. Hitung 1 s/d 30, cek nafas, bila tidak ada berikan nafas buatan dengan sekali atau duakali hembusan yang besar. Namun, jika didapati ada hembusan nafas, cukup cek nadi selama kurang dari 10 detik, bila belum teraba lakukan terus secara bergantian dengan penolong yang lain.

Segera defibrilasi. Bila ternyata ambulan datang lebih cepat, maka segera alihkan pada pihak yang lebih menguasi seperti tim dari kegawat daruratan.

Bantuan hidup lanjut yang efektif. Tindakan di rumah sakit dengan menggunakan alat teknologi kesehatan yang lebih memadai, keamanan pasien dan perawat lebih dinaungi, hingga tak ada ancaman. Serta alat-alat medis yang terjaga sterilisasinya.

Perawatan henti jantung yang terintegrasi. Sebelum keluar dari IGD, pastikan dokter penanggung jawab dapat menilai kondisi pasien untuk di tempatkan ke ruang intensifkah atau ruang biasa.

Selain hal tersebut, ada baiknya Anda juga memahami apa saja kriteria untuk memulai dan mengakhiri RJP. Ada dua konteks, kapan Anda menentukan untuk memulai dan mengakhiri RJP

Saat berada di luar rumah sakit

Kreteria untuk tidak memulai RJP. Saat di luar rumah sakit, ada beberapa keterbatasan baik tenaga ahli atau alat yang tidak tersedia, maka kita bisa tidak memuali RPJ oleh karena beberapa alasan antara lain;

  • Tempat untuk melakukan RJP dapat meningkatkan resiko injury serius bahkan kematian bagi penolong maupun penderita. Jika korban ditemukan berada digenangan air, selokan, jurang, bawah kolong mobil atau tempat terpentalnya korban. Baiknya pindahkan dahulu ke tempat yang di mana korban dapat berbaring, penolong mampu memberikan bantuan hidup dasar dengan maksimal
  • Sudah terdapat tanda-tanda kematiaan biologis seperti kekakuan dan lebab pada mayat. Jika korban yang dipindahkan ternyata sudah kaku dan lebab dingin, dapat dipastikan kejadian sudah lebih dari 10 menit yang lalu.
  • Ada keterangan jelas bahwa penderita tidak perlu dilakukan RJP. Misalkan ambulan sudah datang lebih dulu

Kreteria untuk mengakhri RJP. Anda pada kondisi ini, boleh jadi Anda melakukan tindakan RJP dan ketika melihat tanda-tanda di bawah ini maka Anda dibolehkan mengakhiri RJP karena beberapa alasan antara lain;

  • Adanya respon dari penderita, bisa berupa gerak, teraba nadi dan bernafas
  • Tim bantuan lanjut datang
  • Penolong kelelahan, lingkungan berbahaya, atau kelangsungan usaha resusitasi berbahaya untuk penolong dan penderita
  • Terdapat tanda-tanda kematian

Saat berada di dalam rumah sakit

Kreteria untuk tidak memulai RJP. Ada kriteria saat mana RJP-pun tidak dilakukan untuk pasien. Diantara tanda-tandanya untuk dikenali adalah sebagai berikut;

  • Sudah terdapat tanda-tanda kematiaan biologis seperti kekakuan dan lebab pada mayat. Karena keterlambatan 10 menit, 1 dari 100 yang berhasil ditolong.
  • Ada keterangan jelas bahwa penderita tidak perlu dilakukan RJP. Dokter penanggung jawab mengatakan pasien sudah meninggal, atau keluarga pasien yang keberatan dan meminta untuk tidak dilakukan tindakan apapun yang menyakiti.

Ini hanyalah ringkasan dari buku panduan, jika kurang jelas dapat mengacu pada sumber resmi.

Daftar pustaka

Tim Penulis Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118. 2015. Buku Panduan Basic Trauma Life Support and Basic Cardiac Life Support. Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118: PT. Ambulans Satu Satu Delapan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here