Harapan yang Dituliskan, Bisa Menjadi Kenyataan Meski Seolah Tidak Mungkin

Penulis : Nafisa Q. K | Siswi Kelas 7 Homeschoolling dan Santriwati PPTQ Madyopuro, Kota Malang. Salah satu dari beberapa Penulis Cilik Kampus Desa

1
706

0Shares
0

Seperti tidak mungkin mencapai kesuksesan di saat kita terpuruk, atau sedang menghadapi kendala untuk meraih sesuatu. Bahkan kendala itu berupa berhenti total karena sedang sakit sehingga tidak mungkin melakukan kegiatan yang menambah pundi-pundi dalam berproses menuju sukses. Namun, impian yang dituliskan oleh seorang siswi kelas 7 homeschooling ini, telah menembus keterbatasannya. Meski terkendala sakit dan absen dari belajar, Nafisa tetap berhasil meraih prestasi puncak.

KampusDesa–Ini bukanlah cerita tentang Cinderella yang bertemu pangerannya atas bantuan penyihir baik. Tapi ini tentang kisah pengalaman seorang anak yang mendapati bahwa apa yang pernah dituliskannya untuk menjadi target harapan ternyata menjadi kenyataan. Padahal ada begitu banyak rintangan. Secara akal sulit untuk diwujudkan.

Saat itu saya masih mondok di PPSQ Asy-Syadzili Putri. Sekaligus saya adalah pelajar kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Karena sekolah saya yang masih setingkat MI tersebut, saya digolongkan santriwati kecil. Berhubung sudah kelas 6 saya dianggap oleh pengurus sebagai kakak paling tua di antara santriwati kecil lainnya dan diamanahi membantu mengurusi adik-adik.

Ternyata di sekolah saya juga ditunjuk sebagai ketua kelas. Selain itu, saya juga memimpin pramuka dan gerak jalan persiapan lomba 17 Agustus 2017. Yup! Amazing. Empat kepemimpinan sekaligus dalam periode setengah tahun. Lumayan menguras tenaga maupun pikiran.

Kegiatan saya di pondok setelah subuh adalah setoran hafalan. Setelah itu menuntut ilmu di sekolah hingga pukul 1 siang. Kembali ke pondok untuk istirahat hingga pukul 14.30, lanjut dengan kelas Diniyah. Jadwal diselang-seling dengan latihan gerak jalan pada sore hari di sekolah. Kembali ke pondok menjelang Maghrib, meneruskan pelajaran hingga pukul 09.00 malam. Begitulah kegiatan saya sehari-hari hingga akhir tahun 2017.

Menjelang UAS saya sering pusing, mual, panas dan batuk tak henti-henti. Ternyata saya kena gejala tifus. Di sela-sela penggemblengan persiapan try-out saya baru ikut ujian susulan UAS di bulan Januari 2018.

Setelah try-out selesai, gantian penggemblengan persiapan UN.  Saat itulah penyakit kambuh. Kali ini positif tifus diserta ISPA. Saya diharuskan istirahat di rumah, untuk sementara tidak bisa mengikuti kegiatan belajar di pondok. Jadinya harus bolak-balik dari Cemorokandang ke Pakis di hari-hari tertentu.

Semakin mendekati UN, kondisi badan saya bukannya membaik. Saya mendapat ujian sakit satu lagi, yaitu ditemukannya butiran pasir di saluran urin saya sehingga dokter betul-betul menekan agar saya istirahat total. Artinya saya tidak bisa masuk sekolah lagi dan mendapatkan pembekalan dari para guru.

Menjelang UN, sekolah mengadakan rekreasi untuk anak kelas 6. Saya ingin sekali ikut tapi orang tua melarang. Hingga saya protes dan menangis. Ternyata sehari sebelum pemberangkatan rekreasi kakak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Keluarga saya berkabung. Komplit sudah…

Ya sakit, ya sedih, bedrest-nya ditambah. Saat ujian susulan selalu dadakan, tanpa persiapan, tanpa belajar. Untungnya saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mengikuti UN hingga tuntas.

Diam-diam saya khawatir dan takut dengan hasil kelulusan dan peringkat nilai saya. Pada saat menerima undangan wisuda, ingin rasanya saya tak menghadirinya. Bagaimana kalau nilai saya jeplok dan tidak lulus gara-gara terlalu banyak absen?  Eh, malah guru saya memberikan tugas sebagai MC di acara itu.

Tibalah saat wisuda. Hasil kelulusan dan peringkat nilai pun disampaikan. Saya tidak punya harapan. Merasa deg-degan, takut dinyatakan tidak lulus. Hasilnya bikin shock. Saya dinyatakan mendapat peringkat 3 di kelas saya (kelas 6A). Dengan selisih 5 poin dengan anak peringkat 2.

Saat nama saya diumumkan. Saya tak maju ke depan. Pikir saya mungkin saya salah dengar. Jadi dengan wajah tanpa ekspresi dengan santainya saya tetap duduk manis. Sampai teman saya geram melihat tingkah saya. Ia menegur saya untuk maju ke depan. Saya benar-benar bingung. Bagaimana bisa? Apalagi beberapa waktu kemudian setelah Danem resmi diumumkan. Saya mendapat nilai tertinggi.

Suatu hari saya sedang bersih-bersih rumah. Saya pun menata rapi tumpukan buku yang berantakan. Tiba-tiba saya melihat sebuah buku batik berwarna hijau terjepit di dipan kasur. Seperti tak asing bagi saya. Saya menariknya. Terlihat sedikit usang. Ya saya ingat, Itu buku saya yang lama hilang.

Saya buka lembar demi lembar supaya tak ada yang terlewatkan. Secarik tentang masa lalu kembali saya ingat.  Senyum-senyum sendiri saat membacanya. Hingga ada tulisan besar di salah-satu lembaran itu.

Target Pencapaian 2018

Tulisan itu berwarna biru. Di bawahnya ada tulisan warna-warni yang ukurannya lebih lecil dari yang di atas. Tulisan saya sendiri. Banyak rangkaian kalimat yang menggambarkan harapan dan keinginan saya. Salah-satunya tertulis bahwa Di KELAS ENAM SAYA HARUS MASUK DALAM PERINGKAT 3 BESAR.

Suatu ketika di pondok saya pernah menonton video motivasi yang menyatakan bahwa ‘pikiran kita adalah magnet dari apa yang kita inginkan.’

Subhanallah, saya sempat melupakan semua ini. Suatu ketika saya pernah menonton video motivasi di pondok saya yang isinya menyatakan bahwa ‘pikiran kita adalah magnet dari apa yang kita inginkan.’ Mama juga mengajari saya untuk selalu menuliskan harapan-harapan saya di buku.

Harapan atau cita-cita yang kita tuliskan dan kita beri gambarannya akan mempermudah pencapaiannya. Allah akan menggerakkan alam semesta untuk membantu mengabulkan apa yang kita mau.

Harapan atau cita-cita yang kita tuliskan dan kita beri gambarannya akan mempermudah pencapaiannya. Allah akan menggerakkan alam semesta untuk membantu mengabulkan apa yang kita mau. Awalnya saya hanya coba-coba menuliskannya. Setiap akan dan bangun tidur saya melihatnya.  Sampai saya sakit dan melupakannya. Lalu banyak peristiwa pahit yang membuat semua harapan saya itu seolah-olah mustahil terjadi. Ternyata Allah mengijinkan yang terjadi SESUAI DENGAN HARAPAN YANG TELAH SAYA TULISKAN. Allahu Akbar! Alhamdulillah ya Rabb. Sekarang menjelang tahun 2019 saya ingin sekali kembali menuliskan harapan dan keinginan saya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here