Suhartono Taat Putra: Begawan Psikoneuroimunologi Berjuta Prestasi dan Rendah Hati (2)

1
251
Prof. Suhartono Taat Putra

0Shares
0

Suhartono Taat Putra tidak hanya sukses di segala bidang dengan berjuta prestasi. Ia rupanya memegang pondasi kehidupan secara islami dan menyadari arti penting suatu negara dan bangsa Indonesia. Dalam hidup harus bekerja dengan keras, cerdas dan ikhlas, memaksimalkan potensi pikiran dan hati, di bidang profesi masing-masing, demi mewujudkan Indonesia yang mandiri, bermartabat, unggul, berbudaya, produktif dan berdaya saing tinggi. Hal ini yang dapat dijadikan keteladanan, terutama bagi generasi muda.

Kampusdesa.or.id–Taat berhasil memulihkan citra sebagai insan berprestasi melalui proses pendidikan Pascasarjana [S-2 dan S-3] usai lulus dokter. Saat SD, SMP, dan SMA di Bojonegoro, ia berhasil menjadi “matahari yang bersinar terang”. S-1 ibarat mentari yang nyaris terbenam.  Setelah itu, matahari kembali cemerlang. Atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat menjalani proses penyelesaian S-3, pengidola Albert Einstein ini mendalami Cancer Immunology di Dundee, Scotlandia, UK. Ia berhasil menjadi peserta didik tercepat S2 dan menjadi lulusan terbaik seangkatannya.

Taat memang tidak mengambil jalur spesialisasi, meskipun banyak tawaran datang kepadanya. Sebabnya sederhana. Ia hobi meneliti. Buktinya, ia berhasil merintis dan mengembangkan Patobiologi dan Psikoneuroimunologi, hingga capaian Guru Besar dititi melalui ilmu yang dikembangkan tersebut (Patobiologi). Tak hanya di bidang itu, Taat juga ikut merintis dan mengembangkan riset neurosains [tentang otak sehat] dan sel punca [stem cells]. Saat ini Taat sedang merintis pembentukan prodi S2 Neurosain yang sedang berproses.

Perjalanan menuju puncak kesuksesan memang tidak bertaburan bunga. Taat seringkali mendapat komentar bernada negatif dan ujian berupa mental blocking dari rekan sejawat saat pertama kali merintis bidang Psikoneuroimunologi. Bahkan, tesis karyanya pernah dicampakkan oleh pengujinya. Namun semua itu dihadapi Taat dengan sabar. Semua kendala yang dihadapi dipersepsi sebagai peluang dan tantangan untuk dikembangkan. Hal ini berhasil dilakukannya, berkat hasil pelajaran hidup yang menempanya semasa menempuh pendidikan S-1.

Sukses di Segala Bidang

Tak banyak dokter yang akhirnya menekuni riset dan akhirnya menjadi Profesor. Taat termasuk perkecualian. Sebagai dokter umum, praktiknya laku keras. Rupanya banyak pasien yang sembuh berkat ridha Allah SWT melalui tangan dinginnya. Dari hasil praktik, Taat berhasil membangun tiga rumah, meskipun secara bertahap. Satu rumah digunakan sebagai tempat tinggal. Dua rumah dikontrakkan. Hasilnya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga saat Taat studi ke luar negeri.

Sepulang Taat dari studi postdoctoral di Amerika Serikat di bidang Genetic Engineering in XP Gene, tahun 1992, minat praktiknya menurun. Entah mengapa Taat menjadi hobi riset dan menyukai kegiatan mendidik. Ia menjadi pendidik D3, D4, S1, S2, PPDS, dan S3. Mahasiswa bimbingan S1 dan S2 berjumlah amat  banyak, sedangkan peserta didik S3 yang dipromotori tercatat lebih dari 118 mahasiswa, yang tersebar di seluruh Indonesia.

Di bidang penulisan, Taat juga terbilang mumpuni. Terdapat dua belas buku, 246 kajian serta laporan penelitian yang telah diselesaikannya. Satu buku masih dalam tahap penyempurnaan, yakni Patobiologi Kedokteran Indonesia. Sebenarnya konsep buku tersebut sudah pernah siap cetak di tahun 1993, sayangnya terkendala serangan virus Michael Angelo.

Islam Pondasi Kehidupan

Di dalam menjalani kehidupan keseharian, Taat selalu berpedoman pada agama Islam yang diimani. Berbagai nilai Islami selalu diaktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Taat aktif di RW tempat tinggalnya dan sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina, Penasehat dan Pengawas (DP3) di masjid Al Wahyu di kompleks rumahnya. Saat itu, ketika  ia diamanahi mengelola Seksi Sosial Agama di Kepengurusan RW (tahun 1984), Taat berhasil mendirikan PKSM  (Perkumpulan Kesejahteraan Sosial Muslim) RW04 Rungkut Menanggal Harapan (RMH).

PKSM-RMH kian lama kian berkembang pesat. Kekompakan Pengurus dan Jamaah muslim di RW 04 mampu mendirikan masjid dan KBTK (Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak), membeli tanah makam, membantu pemulasaraan jenazah, termasuk kegiatan memandikan, menyolati, hingga memakamkan.

Beragam aktivitas di RW dan PKSM ini memberikan pelajaran kehidupan baru yang semakin mematangkan mental. Contohnya saat memediasi berbagai persoalan sensitif di dalam keragaman persepsi agama Islam dari masyarakat yang heterogen. Pelajaran demikian sangat tidak mungkin didapatkan dari bangku perkuliahan.

Otak Sehat

Berbagai pengalaman hidup ini membuat Taat berpendapat bahwa untuk sukses hidup tidak ditentukan oleh prestasi intelektual semata namun lebih dari itu, sukses hidup sangat memerlukan kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. Taat berpendapat bahwa ada beda menyolok antara Otak Normal (era Neuroanatomi) dan Otak Sehat (era Neurobehavior). Menurut Taat, Otak Normal memerlukan asupan gizi seimbang, sedang Otak Sehat memerlukan pendidikan, baik di pendidikan keluarga yang penuh kasih sayang.

Pendidikan di keluarga sangat dibutuhkan untuk membina dasar akhlak mulia anak, di institusi pendidikan untuk memantabkan akhlak dan membina kecerdasan intelektual, serta pendidikan di kehidupan diperlukan untuk mematangkan nalar dan “hati” dalam menyelesaikan masalah hidup. Pendidikan terakhir inilah sejatinya pendidikan yang sesungguhnya untuk meraih sukses hidup. Suatu bentuk pendidikan, baik silabus maupun dosennya adalah Allah SWT sendiri. Bukankah setiap kejadian hidup atas kehendak Allah SWT adalah pelajaran bagi yang mau berpikir?

Memberikan Keteladanan

Taat menaruh perhatian besar di dalam mengimplementasikan pendidikan Islami di lingkungan keluarga. Ia melakukannya dengan memberikan contoh nyata dan mendidik dengan memberikan keteladanan. Dengan demikian, istri dan kedua anaknya dapat dengan mudah melihat yang dilakukannya, lalu mengikutinya. Inilah hal fundamental yang dilakukan Taat di dalam membina keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Berada dalam kondisi keluarga seperti ini, Taat sangat bersyukur, sebab serasa menikmati surga dunia. Meskipun demikian, Taat mengakui kalau momentum kebersamaan, saat hidup bersama istri dan ke dua anaknya di rumah sendiri yang sangat sederhana tetap merupakan kenangan terindah sepanjang masa.

Taat mempunyai dua orang anak. Arief Budiarto Asnar Suhartono, dr, SpA, anak pertama, tinggal di Banjarbaru, bekerja di RS Ulin Banjarmasin. Bayu Budinugroho Asnar Suhartono, SPsi, MM adalah anak ke dua, yang bekerja di salah satu Fakultas Kedokteran di Universitas yang berbasis Islam di Surabaya, bersama istri dan kedua anaknya diminta Taat untuk hidup bersamanya. Saat ini istri Bayu yang bekerja di Balai Monitor Kelas II Surabaya sedang hamil anak ketiga. Bayu  dan keluarganya menempati lantai dua. Rumah Bayu sendiri dikontrakkan dan hasilnya digunakan sebagai tambahan biaya hidupnya. Tampaknya Taat ingin mengajari ke dua putranya untuk hidup dengan berbagai sumber pendanaan.

Indonesia Jaya

Berbicara tentang Indonesia, pria penggemar gendhing Jawa ini memiliki blue prints dan grand strategy untuk mewujudkan Indonesia Jaya, yakni Indonesia mandiri unggul bermartabat yang senantiasa dalam ridho Allah SWT.

Indonesia merupakan negara yang dirahmati Allah SWT, kaya akan sumber daya alam, memiliki lokasi geografis nan strategis. Sayangnya,  kualitas SDMnya masih belum memadai. Saat ini, Indonesia sedang mengalami dampak “proxy war”. Berbagai cermin kekuatan tertentu di luar sana yang ingin menguasai SDA Indonesia, dengan sengaja menjauhkan SDM Indonesia dari berbagai nilai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Wajar saja bila banyak generasi muda saat ini galau, yang kehilangan karakter, integritas, dan wawasan kebangsaan dalam menerima informasi global. Bangsa kita mengalami krisis multidimensi, ditandai dari dekadensi moral, pornografi, seks bebas, narkoba, korupsi, berita hoax, dan lain sebagainya.

Dampak dari semua ini, insyaAllah dapat dipulihkan melalui pendidikan yang berbasis karakter unggul di tiga lini, baik pendidikan di keluarga, di institusi pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat. Prosesnya bertahap, boleh jadi memerlukan proses yang relatif lama. Taat merasa optimis. Memang sangat sulit, namun insya Allah bisa dilakukan. Saat ini Taat sangat disegani mahasiswanya, terutama yang tidak memperhatikan berperilaku dan berpakaian santun, seperti yang diatur dalam peraturan Rektor tentang Berperilaku dan Berpakaian di Kampus. Taat berprinsip bahwa kampus merupakan tempat pendidikan intelektual (benar-salah), etika (layak-tidak layak dilakukan), dan estetika (indah-jelek) agar lulusan unggul bermoral. Pendidikan etika berbasis karakter bangsa harus ditanamkan kepada mahasiswa.

Berbagai elemen bangsa yang masih menyadari arti penting suatu negara dan bangsa Indonesia, harus bekerja dengan keras, cerdas dan ikhlas, memaksimalkan potensi pikiran dan hati, di bidang profesi masing-masing, demi mewujudkan Indonesia yang mandiri, bermartabat, unggul, berbudaya, produktif dan berdaya saing tinggi. Kita harus bersinergi memberantas kemiskinan dan kebodohan. Keduanya membuat elemen bangsa mudah diombang-ambingkan oleh berbagai isu yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Berbagai elemen bangsa yang masih menyadari arti penting suatu negara dan bangsa Indonesia, harus bekerja dengan keras, cerdas dan ikhlas, memaksimalkan potensi pikiran dan hati, di bidang profesi masing-masing, demi mewujudkan Indonesia yang mandiri, bermartabat, unggul, berbudaya, produktif dan berdaya saing tinggi. Kita harus bersinergi memberantas kemiskinan dan kebodohan. Keduanya membuat elemen bangsa mudah diombang-ambingkan oleh berbagai isu yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Generasi muda perlu kita disadarkan kembali bahwa “dunia yang memerlukan Indonesia, dan bukan sebaliknya!” Hal ini dapat tercapai melalui pendidikan yang mampu menyehatkan otak normal [maksudnya, otak yang secara neuroanatomi tidak ditemukan kelainan] menjadi otak sehat (otak normal yang mampu berkinerja menjadikan dirinya bermanfaat bagi yang lain dan rahmat bagi semesta alam). Taat berkomitmen secara profesional, menjadikan diri sendiri sebagai salah satu insan yang berada dalam proses tersebut.

Nasihat Bagi Generasi Muda

Harapan narasi ini dapat dijadikan teladan untuk masyarakat umum, khusunya satu profesi dokter. Namun lika-liku kehidupan dan perjuangan pendidikan dapat dipetik oleh para generasi muda. Nasihat bagai generasi sekarang, banggalah sebagai bangsa Indonesia. Syukurilah semua yang telah disiapkan Allah SWT untuk bangsa Indonesia melalui manifestasi syukur yang benar, baik, dan indah, yaitu dengan cerdas memaksimalkan waktu yang tersedia untuk belajar.

Belajar dalam arti luas, baik di rumah, di institusi pendidikan, dan di kehidupan, agar menjadi manusia unggul yang berakhlak mulia sehingga produktif dan berdaya saing tinggi. Syukurilah setiap peristiwa yang Anda alami sebagai suatu pelajaran hidup yang pasti akan bermanfaat Anda di kemudian hari. []