Semua Apa Kata Mama

0
582
http://www.wajibbaca.com/2017/05/cara-ampuh-menasehati-anak-agar.html

0Shares
0

Orang tua memang menentukan perkembangan anak. Peran mereka penting karena menjadi sub-sistem yang akan membantu anak menemukan aneka kebutuhan perkembangannya dan memfasilitasi anak menuju tahap perkembangan yang berkualitas. Namun demikian menjadi terkesan orang tua minded ketika orang tua selalu menjadi penentu pikiran anak sehingga menjadikan anak tidak lagi memiliki kemerdekaan berpikir bahkan mengambil keputusan sendiri untuk pilihannya.

KampusDesa–Ibu adalah pemegang utama dalam proses pengasuhan anak, pembentuk karakter handal untuk anak-anaknya, menyayangi, mencintai, melindungi, membimbing, mengayomi, memelihara, merangkul, mendukung, memberikan kehangatan, memberikan kenyamanan, mengontrol dan memonitorng segala akivitas anak. dan setumpuk tugas seorang ibu yang tak akan muat dalam lembaran-lembaran ini jika harus tertulis seluruhnya. Dan sebegitu berat tugas-tugas lain yang harus dilaksanakan oleh seorang ibu.

Sudah menjadi tanggung jawab bagi seorang ibu untuk menjadi role model bagi anak-anaknya, namun akankah semua harus sempurna dilaksanakannya?

Saat ini panggilan ibu telah banyak bergeser menjadi mama, megikuti alur zaman yang kekinian. Tidak menjadi masalah dengan segala panggilan yang diajarkan, yang terpenting dan menjadi perhatian untuk anak adalah Mama yang selalu ada dan peduli pada anak.

Besarnya dominasi seorang ibu dalam membentuk karakter anak adalah karena memang sikapnya sebagai seorang perempuan yang memiliki kondrat lemah lembut dan penuh kasih sayang. Anak akan lebih tenang jika mereka didekat ibunya. Anak akan menjadi lebih tertunduk apabila cara mengajarinya dengan perasaan yang penuh dengan kasih dan sayang tidak hanya sekedar menegakkan ketegasan.

Nah, saat ini populernya adalah menjadi Mama yang ideal untuk anak, para Mama yang berlomba-lomba untuk memperlihatkan kehebatannya anaknya masing-masing, karena keinginan yang terlalu tinggi untuk menjadi Mama yang ideal, hingga segala kebutuhan anak dan segala keputusan pada anak adalah tanggung jawab mama. Penting memang menjadi seorang Mama yang dapat memenuhi segala kebutuhan anak, baik itu asah, asih dan asuh. Akan tetapi keinginan yang berlebih untuk menjadikan anak menjadi yang utama dalam segala hal yang tidak dibarengi dengan pengarahan yang tepat ini juga bukan pilihan yang sesuai.

Seorang Mama memang akan memilihkan yang terbaik untuk anaknya, namun akankah pilihan ini diambil dengan melihat kemampuan anak atau hanya sekedar obsesi seorang Mama ingin menjadikan anaknya ideal?

Menjadi Mama ideal memang dambaan untuk semua anak, bahkan juga akan menjadi dambaan bagi mama-Mama yang lainnya. Mama akan bangga ketika anaknya dipuji oleh mama-Mama yang lain karena kehebatan anaknnya, mendapat juara, memang lomba dan bahkan anak yang bisa dalam segala bidang adalah anak yang paling menjadi pusat perhatian bagi semua orang sehingga untuk menunjukkan bahwa anaknya adalah anak yang paling hebat. Seorang Mama inilah yang bekerja keras untuk menjadi penentu dari segala jadwal aktivitas anaknya. Tanpa banyak campur tangan anak didalamnya, namun akankah seperti ini yang dikatakan sebagai mama ideal? Hal ini justru tidak menunjukkan mama ideal namun keadaan seperti inilah adalah obsesi untuk menjadikan anak ideal.

Melihat kenyataan dari beberapa anak yang saat ini sedang belajar bersama-sama dengan saya, karena pengaruh kuat dari Mama-Mama mereka hingga mereka tidak mampu menentukan sendiri apa yang sebenarnya mereka inginkan. Tak mampu untuk mengungkapkan pendapatnya karena semua telah diatur oleh mama.

Saat ditanya, anak usia yang lebih dari 12 tahun, tidak memiliki gambaran cita-cita sama sekali, mereka mengatakan “tidak tau, mama.” Maknanya, mamalah yang menentukan mereka akan menjadi apa. Kemudian hal-hal kecilpun mampu menarik perhatian saya, jawaban-jawaban yang mereka berikan mengarahkan bahwa “semua kata mama.” Hampir sebagian besar keputusan kehidupan mereka adalah otoritas dari mamanya.

Realitanya, ada hal yang terjadi pada anak ketika mama adalah penentu dari segala kegiatannya, dan beberapa realita yang ditunjukkan tidak mengarah pada hal yang akan membuat anak semakin baik namun malah sebaliknya, karena sikap mama yang otoriter dan obsesi.

Kebiasaan yang terlalu mengekang anak inilah yang menjadikan dampak buruk bagi anak. Anak menjadi tak mampu untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, meskipun hanya untuk keputusan-keputusan kecil dalam aktivitas kesehariannya.

Kebiasaan yang terlalu mengekang anak inilah yang menjadikan dampak buruk bagi anak. Anak menjadi tak mampu untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, meskipun hanya untuk keputusan-keputusan kecil dalam aktivitas kesehariannya. Ketika kita sering mendengar kata “terserah” dari anak, hal ini dapat diartikan bahwa anak sering dipatahkan dalam pemenuhan keinginannya, sehingga dia akan menjadi malas untuk memutuskan karena keputusan yang pernah dia buat sebelumnya sering tidak diterima, malas yang menumpuk dan berkembangbiak inilah yang akan menjadi efek-efek negatif di kemudian harinya.

Ditambah tidak diarahkan bagaimana anak untuk memilih apa yang sedang dibutuhkan olehnya. Misalkan saja anak menjadi mulai malas untuk belajar, ini adalah pemberontakan ringan dari anak, jika anak tetap dikekang dan didekte dalam semua kegiatan tidak heran jika dia akan mulai malas untuk sekolah, dan tiba-tiba berhenti dari aktivitas yang mama jadwalkan, perasaan tertekan anak inilah yang mungkin saja belum dipahami oleh mama.

Karena obsesi menjadikan anak ideal, anak juga menjadi kurang mandiri, karena kembali lagi “semua, apa kata mama.” Hal inilah yang membuat anak tidak mencoba belajar untuk mempersiapkan dengan baik masa depannya. Karena semua aturan hidupkan telah dirancang sesuai apa kata mama. Kepercayaan dirinya melemah, konsep diri anak juga akan menjadi buruk, kerena sulitnya mengambil keputusan untuk dirinya membuat anak menjadi mudah kecewa dan putus asa.

Anak adalah miniatur orangtuanya, hal inilah mengapa orangtua perlu bijak dalam menanggapi semua kebutuhan anak. Memiliki rasa khawatir pada massa depan anak boleh, akan tetapi ketika kekhawatiran yang berlebih itu akan membuat seorang Mama menjadi diktator untuk anak jangan menyalahkan anak mulai bosan dengan aktivitas dan rutinitas yang mama buat karena ekspektasi mama sendiri.

Menjadi mama ideal memang perlu, namun memaksakan diri untuk menjadikan anak ideal tanpa melihat kemampuan yang dimiliki anak, mematangkan masa depan anak tanpa memberikan pelajaran pada anak untuk mencoba mempersiapkannya, bukanlah hal yang baik.

Menjadi mama ideal memang perlu, namun memaksakan diri untuk menjadikan anak ideal tanpa melihat kemampuan yang dimiliki anak, mematangkan masa depan anak tanpa memberikan pelajaran pada anak untuk mencoba mempersiapkannya, bukanlah hal yang baik. Tak dapat disebut mama ideal untuk keputusan yang mungkin saja baik namun memunculkan dampak-dampak negatif pada akhirnya.

Saat ini, anak akan memandang orangtua ideal ketika orangtua dapat realistis menghadapi perkembangan anak dengan lebih memahami jiwa anak dan lebih bersikap demokratis, memiliki kesamaan pendapat antara anak dan orangtua, tidak hanya pendapat dari orangtuanya saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here