CAK: Antara Penghormatan dan Tradisi

0
575

0Shares
0

Seringkali kita mengabaikan panggilan untuk orang yang lebih tua dengan menyebut namanya secara langsung. Bagi sebagian orang mungkin adalah hal yang biasa. Namun bagi sebagian yang lain, hal ini tentu dianggap ‘tidak sopan’. Apalagi di lingkungan pesantren, khususnya di Jawa. Panggilan ‘cak’ menjadi sebuah penghormatan bagi seorang adik kepada kakaknya. Selain sebagai penghormatan, panggilan ini sudah menjadi tradisi di kalangan santri.

KampusDesa–Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Berawal dari adanya Zawiyah yang diadakan oleh para ulama Sufi kemudian berkembang menjadi tempat pendidikan bagi para murid atau santri yang ingin menimba ilmu. Pada tahap perkembangan berikutnya, pesantren terus bermunculan di seluruh wilayah Indonesia dan tidak selalu didirikan oleh ulama tasawuf. Sampai sekarang keberadaan pesantren sudah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan yang ada di Indonesia.

Secara umum pesantren merupakan lembaga pendidikan “Tafaqquh Fiddin” atau lembaga pendidikan agama Islam. Di pesantren diajarkan berbagai fun atau cabang ilmu keislaman baik menyangkut aqidah, ibadah maupun muamalah. Termasuk diajarkan pula pengembangan bahasa, utamanya bahasa Arab. Disamping itu, yang tidak kalah penting adalah pengajaran dan pengembangan akhlak atau tata krama.

Pengembangan akhlak atau moral di pesantren sejauh ini banyak yang menilai lebih berhasil dibandingkan dengan lembaga pendidikan yang lain. Hal ini dikarenakan pendidikan moral atau tata krama di pesantren tidak sekedar diajarkan, melainkan langsung dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan moralitas itu langsung bisa diketahui dan dijalani langsung oleh para santri. Apalagi peri kehidupan moral di pesantren langsung diteladankan oleh para kyai, ustadz, pengurus pesantren dan santri senior sebab semuanya hidup bersama selama 24 jam dalam satu lingkungan. Dengan demikian, santri sekalipun santri baru bisa langsung mengetahui bagaimana moralitas seorang santri kepada santri senior, kepada para ustadz, pengurus dan juga para kyai.

Salah satu tradisi menarik penanaman moral di pesantren, utamanya di Jawa adalah penggunaan panggilan “Cak” untuk para santri pria. Setiap menyapa teman, utamanya untuk teman santri yang lebih tua, selalu diawali dengan kata “Cak”. Para pengurus dan ustadz pun memanggil santri dengan panggilan cak.  Panggilan kepada teman yang tidak kenal pun cukup menggunakan kata Cak. Bahkan, para kyai pun memanggil santri juga tidak langsung memanggil namanya namun didahului dengan kata Cak.

“Cak”, dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kata “Kakak”. Kata Cak berasal dari kata “Cacak” yang artinya kakak, yaitu saudara kandung yang lebih tua. Namun demikian, di pesantren kata Cak digunakan untuk panggilan kepada siapa saja, termasuk kepada teman yang usianya masih lebih muda.

Panggilan cak mengandung tiga makna, yakni sebagai bentuk penghormatan, menjalin keakraban, dan keteladanan dari orang yang terhormat.

 

Dari tradisi panggilan tersebut, jika kita cermati, ada beberapa makna yang terkandung di dalamnya yang patut untuk kita hayati sehingga bisa kita budayakan di lingkungan luar pesantren. Diantaranya mengandung makna:

Pertama, bentuk penghormatan.

Sudah menjadi pengetahuan setiap insan bahwa seseorang harus menghormati orang lain yang lebih tua. Penghormatan itu meliputi ucapan, sikap dan perbuatan. Jika ucapan, sikap dan perbuatan seseorang kepada orang yang lebih tua tidak sesuai maka seseorang itu bisa dikatakan sebagai orang yang tidak sopan. Diantara ucapan yang juga harus dijaga sebagai wujud penghormatan kepada orang yang lebih tua adalah dalam hal panggilan. Dalam budaya Jawa panggilan tidak boleh “jambal” atau tidak sopan misalnya dengan langsung panggil nama. Namun bisa menggunakan kata cak atau kang. Dalam tradisi pesantren,  penggunaan kata cak sebagai panggilan merupakan wujud rasa hormat kepada orang lain sekalipun bukan kakak kandungnya. Dengan pembiasaan sehari-hari tidak jambal,  diharapkan semua santri juga melakukan hal yang sama untuk menghormati sesama santri, utamanya yang lebih tua, setiap memanggil menggunakan kata Cak. Dengan demikian, setiap bertemu siapa saja santri tidak akan memanggil dengan panggilan “jambal”.

Kedua, menjalin keakraban.

Dibalik penghormatan, panggilan cak juga merupakan sarana menjalin keakraban diantara sesama santri. Walaupun sesama santri tiada saling kenal, apalagi di pesantren yang jumlah santrinya banyak,  ribuan atau puluhan ribu, panggilan cak merupakan panggilan akrab. Dengan panggilan cak akan terasa bahwa mereka satu nasib dan seperjuangan dalam pesantren. Dengan demikian seakan tiada sekat dan batas antara santri yang satu dengan lainnya.

Ketiga, keteladanan dari orang terhormat.

Santri senior, para ustadz dan pengurus pesantren serta kyai adalah orang yang dianggap terhormat di lingkungan pesantren.

Dalam tradisi pesantren, biasanya para ustadz, pengurus pondok dan juga kyai memanggil santri dengan panggilan cak ini mengandung makna keteladanan bagaimana menghormati orang lain,  bahkan kepada orang yang lebih muda. Dengan keteladanan ini diharapkan santri akan berfikir, orang yang lebih tua dan terhormat saja memanggil dengan panggilan yang sopan dan menghormati (tidak jambal) kepada yang usianya lebih muda, apalagi orang yang lebih muda harus lebih sopan dan hormat lagi kepada yang lebih tua, terlebih kepada para ustadz dan kyai.

Di tengah-tengah kondisi moralitas bangsa yang semakin memprihatinkan karena tata krama dalam kehidupan sehari-hari seakan semakin keropos, maka pembiasaan panggilan yang tidak jambal “cak” bisa menjadi alternatif penanaman karakter yang baik. Berawal dari pembiasaan sederhana ini, diharapkan lambat laun bisa meningkat kepada karakter baik selanjutnya. Wallahu a’lam bisshowab.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here