Ragam Reaksi Orang Tua terhadap Indikasi Gangguan Tumbuhkembang Anak

0
383
Gambar diambil dari www.holiday.com

Deteksi dini terhadap gangguan tumbuhkembang anak amat diperlukan orangtua. Seringkali orangtua tidak mengetahui anaknya mengalami gangguan tumbuhkembang hingga menyebabkan keterlambatan penanganan. Namun ternyata ada juga orangtua yang tidak proaktif dan bersyukur saat diberi tahu bahwa anaknya mengalami gangguan tumbuhkembang. Bahkan, tak jarang mereka marah dan mengingkari kenyataan tersebut. Reaksi demikian inilah yang justru menyengsarakan anak mereka sendiri.

Kampusdesa.or.id-Mempunyai pengalaman sebagai orang tua dari putra autis membuatku lebih peduli dengan perkembangan anak-anak yang kutemui. Meski putra pertama terdeteksi autis dan mendapatkan penanganan di usia yang cukup telambat yakni hampir 5 tahun, alhamdulillah perkembangannya cukup bagus. Berbekal pengalaman tersebut saya pun mensosialisasikan deteksi dini gangguan perkembangan pada anak-anak.

Upaya saya untuk mensosialisasikan dan menangani anak yang terindikasi mengalami gangguan perkembangan ternyata mendapatkan berbagai macam reaksi dari orang tua. Setidaknya ada 5 reaksi yang sering saya  terima saat saya sarankan orang tuanya untuk mengonsultasikan anaknya ke ahli tumbuh kembang anak saat ku ketahui ada gejala-gejala gangguan.

Reaksi pertama adalah berterima kasih dan bertanya ke mana mereka sebaiknya mengonsultasikan anaknya. Biasanya saya akan menyarankan untuk membawanya ke psikolog atau psikiater anak terdekat. Bila memungkinkan bisa dikonsultasikan ke ahli yang lebih banyak makan asam garam pertumbuhkembangan anak di Surabaya. Tentu senang bila mendapat reaksi positif dari orang tua.

Reaksi kedua adalah reaksi yang berkebalikan dengan yang pertama yaitu tersinggung dan mengira saya menghinanya. Meski ketersinggungan itu tak selalu diungkapkan dalam bentuk  marah, reaksi ini sering kali memunculkan kata-kata menohok dan menyakitkan dalam bentuk sindiran atau kata-kata pedas. Untuk menghindari hal ini terjadi biasanya saya tidak langsung memberitahu orang tua tentang kecurigaan saya perihal adanya gangguan perkembangan pada putranya. Saya akan amati terlebih dulu karakter orang tua tersebut. Bila memungkinkan diberi tahu sendiri ya diberi tahu sendiri, namun bila tidak memungkinkan saya akan mencari orang terdekatnya atau orang yang disungkaninya untuk memberi tahu.

Jenis reaksi yang ketiga yaitu marah atau gengsi dan menganggap saya mengada-ada. Type orang yang bereaksi seperti ini biasanya bukan tidak mengetahui akan adanya gangguan pada putranya. Reaksi ini justru sering terjadi pada orang-orang yang secara ekonomi cukup mapan dan orang yang berpendidikan cukup tinggi. Orang tua seperti ini biasanya lebih sulit didekati dan diberi masukan. Rasa gengsi yang tinggi seringkali mengorbankan kesempatan anak untuk mendapatkan intervensi dini dan mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai.

Selain ketiga jenis reaksi di atas, reaksi berikutnya adalah melakukan pengingkaran. Reaksi ini biasanya lebih dipengaruhi karena faktor ketidaktahuan, pengaruh lingkungan, keluarga yang juga mendukung pengingkaran tersebut. Anak yang hiperaktif dianggap sebagai anak sehat karena banyak bergerak, anak yang hiposensitif terhadap rasa sakit dianggap sebagai anak bandhel (istilah Jawa untuk anak yang tahan terhadap rasa sakit), anak nonverbal dikira terlambat bicara dan lain-lain. Umumnya mereka baru menyadari setelah anaknya tidak seperti teman-temannya dan tidak mampu  mengikuti pembelajaran di sekolah dasar.

Reaksi tarakhir adalah diam, tak bereaksi. Saya sering bingung bila menemui orang tua model begini karena tidak tahu apakah yang saya sampaikan sudah dimengerti atau belum. Biasanya saya akan menunggu dan mengamati bagaimana tindakan selanjutnya, apakah kemudian orang tua tersebut mencari bantuan atau tidak. Bila mencari bantuan kemana mereka mencari bantuan, jangan-jangan ke orang pintar/dukun.

Dari kelima reaksi tersebut agaknya cuma reaksi nomor satu yang menyenangakan. Keempat lainnya butuh kesabaran demi menolong anak yang terindikasi mengalami gangguan perkembangan. Terus terang kadang saya kecewa bila menerima reaksi kedua sampai kelima. Maka niat baik dan mental harus selalu disiapkan sebelumnya memberi tahu. Selain itu juga harus belajar berkomunikasi yang efektif  agar tujuan tercapai. Selebihnya kembalikan semuanya kepada Allah sebagai dzat yang bisa membuka hati dan kesadaran orang tua.