Pesan Filosofis Capung untuk Generasi Muda

0
955

0Shares
0

Capung itu makhluk yang kecil dan dianggap kecil oleh banyak orang. Namun kita bisa belajar banyak darinya. Capung memiliki kehidupan yang singkat, namun melalui banyak hal di hidupnya yang singkat tersebut., Capung tidak pernah berhenti terbang dan berusaha sekuat tenaga untuk mencari penghidupan. Sudahkah kita belajar pada Capung tentang sebuah perjalanan hidup?

Kampusdesa.or.id-Capung. Makhluk kecil yang dahulu sewaktu kita kecil, kita sering diam-diam di belakangnya dengan membawa sebatang lidi yang ujungnya dikasih getah pohon nangka atau getah pohon waru, kemudian kita dengan mengendap-ngendap menempelkan ujung lidi itu ke sayap capung. Dan menempellah capung tersebut, kita tangkap. Untuk apa? Untuk umpan mancing ikan mujahir atau bethik di jumblang belakang rumah.

Capung itu makhluk yang kecil dan dianggap kecil oleh banyak orang. Namun kita bisa belajar banyak darinya. Meskipun dia kecil, namun ternyata banyak filosofi yang dapat kita ambil darinya. Sebagaimana dilansir dalam www.amazine.com, terdapat makna simbolisme capung dalam berbagai budaya bangsa.

Dari berbagai makna simbolisme yang disampaikan terdapat beberapa hal yang dapat kita terapkan dalam diri seorang pemuda. Beberapa hal itu antara lain:

Pertama, Jalani hidup sepenuhnya.

“Berbuat baik tidak harus menunggu tua. Pemuda yang baik akan memulai berbuat baik sedini mungkin”

Capung memiliki kehidupan yang singkat, namun melalui banyak hal di hidupnya yang singkat tersebut. Capung memberikan pelajaran bahwa kita harus selalu berperan baik dalam hidup meski dalam keadaan sempit. Seberapa lama to menjadi pemuda atau seberapa lama kita hidup di dunia ini? Berbuat baik tidak harus menunggu tua. Pemuda yang baik akan memulai berbuat baik sedini mungkin.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad Saw. menyebutkan tujuh golongan yang pada hari kiamat akan mendapat naungan Allah Swt. Satu diantaranya adalah pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Allah Swt.

Jika orang tua sering ke masjid dan berlama-lama beribadah di masjid itu biasa saja. Karena mereka sadar bahwa kesempatan untuknya berbuat baik tinggal sedikit saja. Namun seorang pemuda, yang masih kuat nafsunya, banyak sekali godaan untuk beraktivitas lainnya, bisa bersenang-senang dan berfoya-foya, namun dia bisa selalu rutin beribadah di masjid. Sungguh pemuda yang dirahmati oleh Allah Swt.

Kedua, Memiliki tujuan hidup yang jelas.

Capung tidak pernah berhenti terbang dan berusaha sekuat tenaga untuk mencari penghidupan. Tujuanya adalah agar dia bisa melanjutkan hidup dengan baik dan dengan usaha yang nyata. Tak pernah kita melihat capung yang hanya nongkrong-nongkrong di teras rumah menunggu makanan datang. Kalau kita menunggu pesanan grabfood mungkin iya.

“Pemuda harus mempunyai target dan tujuan hidup. Jangan sampai hidup itu hanya mengalir seperti air di sungai”

Pemuda harus mempunyai target dan tujuan hidup. Jangan sampai hidup itu hanya mengalir seperti air di sungai. Jika alirannya seperti paralon mudah saja. Jika mengalirnya itu seperti turun dari puncak gunung, maka akan ada jurang, ada batuan cadas, akan ada kayu-kayu yang besar menghalangi air tersebut sampai bawah. Dan itu akan sangat susah tentunya.

Jangan sampai sejak bangun tidur kita tidak memiliki tujuan apapun hingga akhirnya kita tidur lagi. Langkah-langkah apa yang harus kita buat, hal apa saja yang harus kita kerjakan, mana hal yang prioritas untuk dilakukan, mana hal yang perlu usaha khusus untuk dikerjakan, mana hal yang berpengaruh kepada banyak orang, dan sebagainya. Semuanya itu harus dipersiapkan secara matang dalam rangka mencapai target hidup.

Kita bisa membayangkan jika orang tidak memiliki target hidup. Hidupnya akan hampa tanpa rasa. Tak ada usaha, tak ada semangat, tak ada penyesalan, tak ada kebahagiaan, dan tak ada kesedihan.

“Pemuda harus memiliki semangat dan keyakinan bahwa dia harus lebih baik dari orang tua dan generasi sebelumnya”

Pemuda harus memiliki semangat dan keyakinan bahwa dia harus lebih baik dari orang tua dan generasi sebelumnya. Jika orang tua kita sekarang hidupnya susah, maka pemuda atau sang anak harus semangat dan yakin bahwa dia harus bisa kaya dan bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Jangan sampai hanya dengan doa saja kita membalas budi baik kedua orang tua. Meskipun doa anak sholeh adalah jariyah bagi kedua orang tua. Ya kalau doanya dikabulkan, jika tidak? Maka akan menjadi angin lalu saja. Namun jika sang anak bisa melakukan sedekah dan membantu sesama, memberikan sumbangsih pemikirannya bagi kemajuan agama dan bangsanya, tentunya akan lebih besar lagi jariyah dan doa banyak orang yang akan sampai kepada kedua orang tuanya.

Pemuda harus semangat dan membuang jauh-jauh rasa malas dalam dirinya jika ingin hidupnya menjadi baik. Telah masyhur sebuah doa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. agar terhindar dari rasa malas.

Anas bin malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca do’a: “Allahummma inni a’udzubika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhli. Wa ‘adzubika nin ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamati.”

Yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.”

“Dengan siapa kau berteman dan sering berkumpul, maka itu akan berpengaruh pada keadaanmu 20-25 tahun yang akan datang”

Sebagai penutup kata, saya pernah menyampaikan kepada peserta didik. “Kehidupanmu 20-25 tahun yang akan datang dapat dilihat saat ini atau saat kau telah lulus SMA. Dengan siapa kau berteman dan sering berkumpul, maka itu akan berpengaruh pada keadaanmu 20-25 tahun yang akan datang.”

Pemuda adalah penentu maju mundurnya sebuah bangsa di masa mendatang. Dia bisa sebagai aset emas yang menyilaukan, pun bisa menjadi bom waktu yang menghancurkan.

 

Moh. Alim (Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Kepohbaru, Anggota Aktif Komunitas Menulis Kita Belajar Menulis (KBM) Bojonegoro, Penulis Buku Kumpulan Puisi Jejak Sakinah, Sastra Dalam Sanubari, dan Catatan di Kota Malam).