Perdamaian pun Bisa Dimulai dari Perempuan Muda

Penulis : Nur Aisyah Maullidah. Salah Satu Peserta Peace Leader, Girls Ambassador for Peace, dan Duta Damai BNPT di Lamongan

0
359
Peserta Peace Leader, Girls Ambassador for Peace, dan Duta Damai BNPT di Lamongan

0Shares
0

Apa jadinya jikalau perempuan angkat tangan dan kaki menjadi agen perdamaian untuk mencegah lahirnya generasi teroris dan radikal? Ya, tentu agen perdamaian tidak melulu laki-laki. Perempuan pun mampu didorong menjadi salah satu pilar agen perdamaian. Semua menjadi semakin lengkap dengan berbagai pembekalan yang didukung oleh berbagai sudut pandang keilmuan dan ketrampilan di era digital ini.

Pasuruan, KampusDesa–Acara ini dimulai dari tanggal 28 Januari sampai dengan 1 Februari 2018 di kompleks wisata keluarga Bhakti Alam, Pasuruan. Dengan diikuti sebanyak 46 peserta pilihan dari seluruh penjuru nusantara, serta peserta-peserta dari latar belakang keyakinan berbeda. Teman-teman dari muslim, Kristen Katholik, Kristen Protestan, dan Hindu. Program ini diprakarsai oleh AMAN Indonesia dengan kerjasama antara Peace Leader, Girls Ambassador for Peace, dan Duta Damai BNPT untuk mengajak perempuan-perempuan muda pilihan yang telah di pilih melalui proses seleksi esai dan video kreatif berpartisipasi dalam langkah-langkah menjaga perdamaian dan perlindungan terhadap perempuan di Indonesia.

Dalam serangkaian program ini, para peserta terpilih diajarkan banyak hal mengenai pengenalan dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan maupun pencegahan tindak terorisme, juga pengajaran mengenai kesehatan reproduksi dan manajemen skill dalam metode yang menyenangkan. Acara yang dibuka pada tanggal 28 malam ini menerapkan sistem kontrak belajar yang telah disepakati antar sesama peserta. Yang menjaga tertibnya program selama pelaksanaanya, dalam contoh misalnya para peserta sepakat untuk tidak menggunakan telepon genggam selama acara berlangsung untuk menjaga konsentrasi peserta selama materi disampaikan, dan tentu saja dengan beberapa kesepakatan kontrak belajar lain yang telah dilaksanakan.

Poin-poin materi penting yang disampaikan peserta meliputi studi gender mengenai pengenalan tentang keadilan gender secara menyeluruh, kemudian materi mengenai HIV/AIDS yang disampaikan oleh perwakilan dari PKBI Jatim (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) dan materi mengenai bullying yang disampaikan dengan metode story telling. Selain itu, ada bentuk permainan edukasi berupa board games yang mengasah strategi peserta dan kerjasama antar tim untuk memenangkan permainan. Bentuk kegiatan lain ada creative media activity yang mengharuskan kelompok peserta untuk membuat video pendek dan meme sesuai tema yang di tentukan. Dengan tujuan, peserta dapat memanfaatkan sosial media dengan membuat konten-konten kreatif untuk mengkampanyekan tindakan anti kekerasan dan terorisme.

Setiap sebelum memulai materi, perwakilan peserta diharuskan untuk menyampaikan ulasan materi hari sebelumnya untuk mengingat kembali tentang apa yang disampaikan di hari sebelumnya sebelum materi pada hari ini disampaikan. Pada hari selanjutnya, materi yang di berikan adalah mengenai kesehatan reproduksi dan girls leadership. Kemudian, para peserta juga menyaksikan beberapa film pendek mengenai tindak ekstrimisme yang beredar di masyarakat yang menjadikan kaum muda terutama perempuan sebagai sasaran. Film yang ditampilkan berjudul Jihad Selfie garapan YPP (Yayasan Prasasti Perdamaian). Dengan adanya pemutaran film ini, diharapkan peserta mampu mengenali modus-modus perekrutan dan masuknya paham-paham yang bersifat radikal yang dapat memecah belah kesatuan bangsa. Selain itu, peserta juga diberikan materi mengenai UNSCR yang mengusung hak perlindungan terhadap perempuan dan anak muda.

Sesi malam dilanjutkan dengan sharing session bersama co-founder Rumah Faye yaitu Faye Simanjuntak mengenai human trafficking dan penanganan yang dilakukan. Kemudian, debat tentang materi-materi yang telah diterima dilaksanakan pada penghujung malam untuk mengetes kepahaman peserta dan pengasah kemampuan peserta agar kritis dalam menganalisis masalah.

Hari berikutnya, peserta mengikuti serangkaian kegiatan adventure hike yang pada tiap pos pemberhentiannya, peserta diberikan tantangan yang berkaiatan dengan materi yang telah diberikan. Dan pada malam penutupannya, peserta dengan grup yang telah dibentuk memberikan persembahan penampilan. Selama sesi cultural night ini, peserta memakai pakaian adat sesuai dengan daerah masing-masing. Sebagai bentuk pengesahan sebagai anggota Girls Ambassador for Peace, peserta mengucapkan ikar untuk kemudian menjadi lebih siap berkontribusi pada daerah masing-masing untuk menjaga dan mengkampanyekan perdamaian.

Banyak sekali kebiasaan-kebiasaan baik yang coba diterapkan selama camp berlangsung, seperti berdoa dari masing-masing keyakinan yang dipimpin oleh perwakilan peserta, membiasakan tertib dan tepat waktu serta membiasakan iklim belajar yang nyaman dengan melaksanakan kesepakatan pada kontrak belajar yang telah disepakati, bukan hanya itu, selama beberapa har, peserta dibiasakan berada pada satu lingkungan yang berisi beragam teman dari berbagai etnis dan keyakinan untuk membiasakan hidup berdampingan bukan sebagai masyarakat suatu etnis saja, melainkan hidup berdampingan sebagai warga negara Indonesia yang memiliki ragam budaya. Pada tujuan akhirnya, diharapkan, peserta yang telah mengikuti Girls Camp 2019 mampu menjadi agen pelopor menyebarkan semangat cinta damai kepada masyarakat di seluruh penjuru negeri.

Berita sebelumyaSebuah Pesan untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ‘Masa Kini’
Berita berikutnyaMembangkitkan Kesadaran Sains Sejak Dini
Cukup panggil Aisy dari tiga suku kata nama saya. Begitu mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado, kalimat besar Sitou Timou Tumou Tou yang memiliki arti manusia hidup, untuk memanusiakan orang lain akan menyambut para pendatang. Bagi saya, ada beberapa pegangan yang perlu hadir untuk terus menjadi pengingat. Lebih dari sekedar hidup seorang diri sebagai individu, manusia hadir untuk memanusiakan sesamanya. Fastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan adalah ‘pegangan’ lainnya. Terlebih, terciptanya manusia di bumi ini adalah sebagai khalifah yang akan merawat dan mensejahterakan bumi, karena saya lahir sebagai Orang Jawa, maka tidak akan lepas dengan kiasan “Lakon, Dudu Penonton” yang artinya menjadi penonton saja tidak cukup, namun harus menjadi lakon atau terlibat langsung sebagai bagian dari bagian perubahan. Tiga kutipan tersebut tidak begitu saja dipilih sebagai pegangan, tetapi lahir dari semacam akulturasi. Ibu dan ayah saya tinggal di Manado selama kurang lebih tujuh belas tahun. Budaya minahasa menjadi sebagian kecil dari diri saya. Sedangkan sebagian besar waktu saya tumbuh dihabiskan di Jawa. Saat ini saya menempuh pendidikan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Hubungan Internasional. Sedang menjadi abdi di beberapa komunitas yaitu GA4P Lamongan, Diaspora Muda Lamongan, DYPLO, dan YIPC Jakarta. Sapa saya melalui sosial media, saya ramah kok! hehe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here