Perawat; Dari Ancaman Paparan Corona, Pisah Ranjang, hingga Perceraian

0
709
Situasi di sebuah rumah sakit, bagaimana perawat berjuang demi melawan Covid-19. Foto: Dokumen penulis

0Shares
0

Petugas kesehatan, utamanya perawat, bak buah simalakama menghadapi pandemi Corona. Tidak bisa menghindar dari tugas, resiko tertular virus tinggi, dan bahaya lain yang tentu membikin tugas mulianya penuh ancaman. Di rumah, mereka pun dihantui penyingkiran oleh suami, pisah ranjang, bahkan anjuran mertua menceraikan si perawat. Hantu itu menjadi masif setelah beredar surat Gubernur DKI yang hoaks mengenai petugas kesehatan yang tidak boleh berhubungan suami istri sampai batas waktu tak tentu. Ruang-ruang privat pun terjarah.

Kampusdesa.or.id–Menjadi perawat bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi di tengah wabah seperti ini. Mungkin ini bukan yang pertama, masih banyak jejeran penyakit lainnya yang pernah menjadi nomor satu di dunia. Bahkan saat ini, bukan hanya corona yang sedang naik daun. Tetapi, DBD juga. Hanya saja itu penyakit lama yang biasa berulang sehingga meskipun kematian karena DBD dianggap biasa. Sedangkan corona ini penyakit baru dan belum banyak yang terbiasa dengan virus ini, sehingga banyak sekali dampak yang dirasakan bagi manusia di dunia, khususnya perawat. Apa saja dampak yang mereka rasakan? Yuk simak!

Pasangan tidak mau satu selimut

Semenjak berita Corona merajalela, sebagian manusia di bumi mulai mengikuti beberapa cara pencegahannya. Mulai dari menyetok hand sanitizer sampai menimbun masker sehingga tatkala permintaan meningkat, harga pun melambung tinggi 10 kali lipat. Bahkan beberapa tips yang tidak disarankan seperti menimbun makanan pun dilakukan oleh sebagian manusia.

Lebih parahnya lagi beredar surat edaran dari Gubernur DKI Jakarta untuk tidak melakukan hubungan suami istri bagi pasutri, yang ternyata hoaks pun tetap menebar efek kepada keluarga perawat. Imbasnya, beberapa pasangan (perawat) mengalami harga diri rendah lantaran pasangannya menghindari. Tidak hanya rasa tersinggung dan rendah diri, rasa kecewa, dan merasa diabaikan pun bermunculan.

Dikucilkan oleh tetangga

Sudah begitu banyak berita dimana seorang perawat diusir dari kostan hanya karena pemilik takut tertular corona. Virus corona bukan hanya merusak sistem pernapasan, bahkan virus ini mampu mengikis keimanan seseorang. Pun kini para perawat mulai curhat karena setiap ia lewat, semua orang langsung menghindarinya. Padahal hanya lewat, tidak mengusik apalagi melakukan perbuatan keji.

Mengisolasi diri

Tentu sudah sering sekali membaca atau menonton berita gugurnya seorang medis dan paramedis yang gugur di medan perang. Demi kalian kami tetap bekerja dan melakukan pelayanan tanpa membedakan. Sampai takdir berkata kamilah selanjutnya, lalu kami mulai mengalami tanda gejala yang serupa.

Kami mengisolasi diri sendiri tanpa keluarga yang menemani. Sebab kami paham betul bagaimana resikonya bila dipaksakan.

Setelah itu, surat dari direktur atau management rumah sakit memberikan perintah untuk istirahat di rumah selama 14 hari. Bukan tanpa alasan, demi orang yang kami sayangi di rumah agar tidak tertular. Kami mengisolasi diri sendiri tanpa keluarga yang menemani. Sebab kami paham betul bagaimana resikonya bila dipaksakan.

Orang tua/ pasangan meminta untuk resign

Kedengarannya sepele, bukan hal yang sulit. Tetapi, corona menyebabkan krisis menoter yang susahnya melebihi tahun 98. Bukan maksud hati ingin sok paling jago bertahan dengan karir ini. Hanya saja kami sudah terlanjur bersumpah, sumpah profesi perawat. Dimana kami akan berusaha keras dan mengeluarkan seluruh energi untuk semua demi melawan virus corona.

Bukan maksud hati ingin sok paling jago bertahan dengan karir ini. Hanya saja kami sudah terlanjur bersumpah, sumpah profesi perawat.

Meskipun ada 1 atau 3 orang yang akhirnya tetap memilih resign ketika terpilih menjadi tim covid-19. Sekali lagi, bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah teman sejawat kami yang dimana istrinya tengah mengandung anak pertamanya. Kami hanya bisa mendoakan semoga pilihanmu yang terbaik untuk keluarga, khususnya istri dan anak yang dikandungnya.

Mertua nyuruh pisah

Poin ini sama seperti poin kedua, hanya yang membedakan pelakunya. Sangat tidak manusiawi, bukan? Sungguh ini perbuatan yang paling keji untuk ditiru. Tak layak diceritakan, tapi beginilah keadaan kami di sini. Pasangan mana yang sebelum menikah bercita-cita untuk cerai atau berpisah? Pasangan mana yang memimpikan mendapatkan orang tua atau mertua yang sehina itu?

Tak pernah menyangka dan tak terbayang sama sekali. Tetapi, sungguh ini murni dan ceritanya fakta. Kami yang mampu mendoakan, semoga dikuatkan, ditegarkan, dibantuin, dan diridhoi Allah. Semoga kedepannya kau mampu mendapatkan pasangan dan keluarga baru yang mampu menerimamu dengan utuh dan penuh kasih sayang, serta keimanan yang jauh lebih baik lagi. Aamiin Allahumma Aamiin Allahumma Aamiin ya Allah.

Percayalah, dunia ini tidak pernah sama. Selalu dan akan terus bergulir seiring berjalannya waktu. Wabah virus corona ini semoga secepatnya lenyap dari muka bumi ini, khususnya bumi pertiwi.