Ramadhan di Pesantren dan Implementasinya di Masa Kini

1
305
pesantren, ramadhan, kitab kuning
Maknani kitab kuning di pesantren Ramadhan (Sumber gambar: mualliminenamtahun.net)

0Shares
0

Semoga tahun-tahun selanjutnya masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan ini dan saya sangat meyakini bahwa tiada setiap kejadian tanpa campurtangan Allah SWT yang sudah tertulis di lauhul mahfudz.

Kampusdesa.co.oid–Ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan yang diagung-agungkan karena banyak keutamananya. Bulan Ramadhan merupakan bulan ampunan, penuh rahmat dan keberkahan serta segala amal ibadah dilipat gandakan. Bulan dimana diturunkan al-Quran (nuzulul qur’an) dan di dalamnya ada malam malam seribu bulan (lailatur qadar) ini selalu dinanti-nanti oleh semua umat muslim. Menurut Islam wajib puasa sehari dari terbit fajar (subuh) hingga terbenam matahari (maghrib) diperuntukkan bagi yang sudah baligh. Dalam kitab Safinatun Najah karangan Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dijelaskan bahwa tanda-tanda baligh itu ada tiga yakni, genap berusia 15 tahun bagi laki-laki maupun perempuan, mimpi basah, baik laki-laki maupun perempuan dan haid bagi perempuan yang telah berumur 9 tahun.

Anggap saja jika kita hitung, secara peribadi seingat saya mulai puasa Ramadhan sehari penuh tidak berbuka diwaktu dhuhur (Jawa: poso bedug) adalah ketika kelas empat SD. Yaa, sekitar berusia 10-11 tahunan. Maka di usia menginjak 27 tahun ini berarti sudah sekitar hampir 17 tahun berpuasa. Bagaimana dengan Anda? Pasti bisa menghitung sendiri sudah berapa lama menjalankan ibadah puasa. Menariknya, dalam kurun waktu itu ada momen di mana Allah SWT menakdirkan saya menjalankan puasa Ramadhan di pondok pesantren (Ponpes).

Sebenarnya bulan Ramadhan adalah masa yang paling menyenangkan jika bisa kumpul bersama keluarga. Tetapi sayangnya sedari kecil saya memang tidak pernah menikmati sebulan Ramadhan penuh bersama keluarga. Sejak  SD sampai SMP saya tinggal (ikut) bersama mbah. Ketika menginjak SMA saya sekolah di madrasah dan masuk pondok pesantren. Di pesantren inilah pertama kali Ramadhan berstatus sebagai santri. Mulai dari situ rasanya Ramadhan dari tahun ke tahun begitu berkesan, sehingga sampai sekarang menyisahkan kerinduan.

Banyak kisah yang pernah saya alami ketika bulan Ramadhan dari tahun ketahun. Akan tetapi menurut saya pengalaman saat menghabiskan bulan Ramadhan di pondok pesantren adalah sangat menyenangkan. Kenangan manis dan berharga itu tidak mungkin dapat saya lupakan. Cerita ketika menjadi santri tidak akan pernah ada habisnya. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, pasti ada kegiatan-kegiatan menarik yang gak mungkin dapat dirasakan oleh anak-anak lain di luar sana –yang tidak pernah nyantri.

Semangat-semangatnya ibadah ketika menjadi santri. Sebagai bekal untuk mereka di akhirat nanti. Begitu juga ketika bulan Ramadhan tiba, pengajian kitab rutin, salat berjamaah, tarawih, gerakan i’tikaf di masjid, hingga khataman al-Qur’an atau tadarus bergiliran dengan santri lainnya adalah rutinitas yang tidak pernah tergantikan dan selalu dirindukan. Ingin rasanya mengulang masa-masa selain itu. Masa di mana dapat merasakan indahnya buka bersama selepas ngaji sore, masak bareng-bareng dan makan sahur dalam satu wadah talam.

Momen yang tidak terlupakan adalah saat saya sempat mengikuti kegiatan pondok Ramadhan di Ponpes Langitan Tuban. Bagi masyarkat Jawa Timur, Ponpes Langitan yang berdiri sejak 1852 ini merupakan salah satu pusat pendidikan agama Islam (diniyah) terbesar di Indonesia. Puluhan ribu santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, datang ke Ponpes yang lebih dikenal dengan pola pendidikan salaf untuk belajar dan mendalami agama Islam. Bulan Ramadan di pesantren salaf tidak hanya khataman al-Qur’an, melainkan waktunya khataman kitab-kitab kuning juga. Kitabnya pun beragam, semisalnya kitab ihya’ ulumuddin, tafsir jalalain, bidayatul hidayah, uqudulujain, dan lainnya. Nantinya, para santri boleh memilih pengajian apa saja yang akan diikuti dan berlangsung di kompleks yang berbeda. Akan tetapi, biasanya untuk ngaji umum dilaksanakan di masjid utama secara serentak diisi oleh pengasuh.

Alhamdulillah, saya pernah ngaji kitab ihya’ disampaikan langsung oleh Almaghfurlah KH. Abdullah Faqih (Kyai Khos). Sewaktu Ramadhan seperti ini, di Langitan tidak hanya santri yang mukim di sana. Banyak masyarakat umum juga ikut ngaji kilatan ini. Sistem pengajian dilakukan dengan metode bandongan. Kyai membaca kitab beserta maknanya, dan para santri akan menulis makna pada kitab masing-masing. Target selesai dalam kurun waktu satu bulan menjadikan memaknai kitab lebih cepat. Sampai-sampai tangan rasanya malah tambah lancar menulis Arab pego.

Semua kenangan tersebut sangat membekas hingga kini. Setelah lulus dari pesantren, saya tidak pernah melewatkan Ramadhan sama seperti itu. Waktu kuliah S1 dulu pun ngajinya juga cuma pengajian ala kajian mahasiswa sebelum maghrib (buka puasa) dan setelah Subuh. Apalagi sekarang Allah SWT menakdirkan jalan lain. Sejak memperoleh beasiswa kuliah S2 dan menyelesaikan proyek riset di KMUTT Bangkok mengharuskan saya menjalankan puasa Ramdhan sudah kali ke empat ini di Thailand. Negara di mana agama mayoritas penduduknya adalah Budha. Kebanyakan komunitas muslim tinggal di wilayah Thailand Selatan yang lebih dekat dengan Malaysia. Barangkali kalau saya tinggal di sana, pendidikan semacam pondok pesantren pasti masih bisa saya temukan. Syukur-syukur apabila bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Melayu.

Lain halnya di Bangkok, mungkin dapat dibilang sangat jarang ditemukan pesantren di sini. Saya pernah sekali menjumpai lembaga pendidikan semacam pesantren (mereka menyebut dengan Islamic college) pun full pakai bahasa Thailand. Sedangkan saya di sini masih dungu berbahasa Thai. Ada pepatah yang mengatakan, “man ‘arafa lughota qoumin amina min makrihim” (Barang siapa yang mengetahui bahasa suatu kaum, ia akan aman dari tipu daya kaum tersebut).

Tapi di lain sisi memang rasanya seakan-akan hampa. Semua kenangan di pesantren jadi benar-benar dirindukan. Tak hanya merindukan momennya, saya juga merindukan para kyai, ustadz-ustadz, teman-teman sekamar dan satu komplek. Semoga mereka semua dikaruniai kesehatan dan umur yang panjang oleh Allah SWT. Kalau ada kesempatan, rasanya ingin kembali menjalani Ramadan di pesantren salaf lagi. Istilahnya dulu begini “mondok sampek rabi, ngaji sampek mati”. Betapa bahagianya saya jika suatu saat nanti dapat menjalankan ibadah di bulan yang istimewa ini bersama para santri seperti dulu.

Terakhir sebagai catatan dan koreksi pribadi. Seharusnya segala kegiatan di bulan suci ini harus pula sama semangatnya saat bulan-bulan biasa. Tidak hanya giat pada saat bulan Ramadhan saja. Lebih parahnya lagi cuma sekedar bersifat seremonial dan rutinitas belaka. Harapannya tidak cukup di situ, namun ilmu agama tetap selalu ditambah, iman terus dijaga, dan ibadah semakin baik setiap harinya. Maka suatu kelak ilmu agama yang sudah kita dapatkan di pondok pesantren menjadi bermanfaat. Selain diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, juga dapat diajarkan kepada masyarakat dan maslahah untuk umat. Sehingga apa yang telah kita peroleh tidak sekedar diingat sebagai kenangan dan sebatas dapat dicatat sebagai sejarah. Akan tetapi ilmu kita tidak hanya menguap begitu saja seiring kesibukan-kesibukan duniawi yang silih berganti datang.

Semoga tahun-tahun selanjutnya masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan ini. Meskipun selalu bertepatan dengan kegiatan dan sikon yang tidak mendukung, sehingga mengharuskan tidak bisa pulang. Tapi saya sangat meyakini bahwa tiada setiap kejadian tanpa campurtangan Allah SWT yang sudah tertulis di lauhul mahfudz. Wallahua’lam bishowwab. [ ]

1 KOMENTAR

Comments are closed.