Pengalaman dan Pengetahuan (Being and Knowing)

Dr. Sakban Rosidi, M.Si. Aktivis pergerakan dan pendidikan serta pegiat musik alternatif. Tinggal di Malang.

1
651

0Shares
0

Tim In Loco Parentis menyelenggarakan lokakarya kecil dengan tujuan untuk mengembangkan sekolah ramah kecerdasan anak. Kegiatan ini ditindak-lanjuti dengan asesmen psikologis dan pertemuan antara tim dengan para wali murid. Di sini, tim In Loco Parentis tidak hanya hadir sebagai ahli berbekal kompetensi dan dengan empati, tetapi juga hadir sebagai ahli berbekal kesanggupan introspeksi.

KampusDesa–Setahun lalu, tepatnya 3 Februari 2018, In Loco Parentis dan Sekolah Garasi (Madrasah Ibtidaiyah Amanah) menyelenggarakan lokakarya kecil bagi para guru dengan tema pokok mengembangkan sekolah ramah kecerdasan anak. Tim In Loco Parentis terdiri dari Dr. Sakban Rosidi Saminu, M.Si., Dr. Rofiqah Rosidi, M.Pd., Hadi Purnomo, S.Pd., S.Psi., dan Suprapto Akang Ato., S.Pd., dan Gilang AL Rosidi.

Kegiatan ini ditindak-lanjuti dengan asesmen psikologis terhadap siswa kelas 1, 2, dan 3, dengan piranti CFIT, SPM, dan CPM. Setelah data diolah dan dikategorisasikan, rekomendasi pedagogis berpendekatan psikologi positif dirumuskan menurut golongan kecerdasan anak. Rekomendasi untuk pengelolaan pendidikan, disampaikan kepada pimpinan lembaga dan para guru madrasah.

Ada tiga golongan kecerdasan anak yang direkomendasikan pedagogis menurut pendekatan psikologi positif.

Golongan pertama, direkomendasikan untuk dilayani melalui program kelas percepatan (acceleration class program). 

Golongan kedua, direkomendasikan untuk dilayani melalui program kelas konvensional (conventional class program). 

Golongan ketiga, direkomendasikan untuk dilayani melalui program pendidikan khusus (special education program). 

Dengan ungkapan lain, Madrasah Ibtidaiyah Amanah direkomendasikan untuk menerapkan pola sekolah inklusi, yang mendidik kelompok pencilan atas atau siswa sangat cerdas, kelompok tengah atau siswa berkecerdasan normal, tetapi juga mendidik kelompok pencilan bawah atau siswa difabel dan atau berkebutuhan khusus.

Kesempatan membagikan hasil asesmen psikologis kepada orangtua siswa, 2 Februari 2019, dirancang sekaligus untuk melaksanakan program keayah-bundaan sekolah (school parenting program). Bisa dibayangkan, di hadapan kami ada sejumlah orangtua yang putra atau putrinya tergolong Genius, Very Superior, Superior, High average, Average, Low Average, Borderline, hingga Mentally Defective. 

Kami tidak hanya hadir sebagai ahli berbekal kompetensi dan dengan empati, tetapi juga hadir sebagai ahli berbekal kesanggupan introspeksi.

Sungguh tidak mudah menjelaskan kenyataan demikian secara bersamaan, apalagi mengingatkan orangtua berputra genius dan membesarkan hati orangtua berputra mentally defective. Dengan pertimbangan demi kebaikan, maka kami tidak hanya hadir berbekal kualifikasi dan kompetensi, tetapi juga sebagai keluarga berputra difabel. Maka kami jadi ingat pertanyaan epistemologis Brian Fay, ‘Have One to be One to Know One?”. Walhasil, kami tidak hanya hadir sebagai ahli berbekal kompetensi dan dengan empati, tetapi juga hadir sebagai ahli berbekal kesanggupan introspeksi.

Tidak lupa terimakasih kepada Hadi Purnomo, para guru, kepala sekolah, dan sahabat senior saya, Mas Kentar Budhojo, atas segala jasa baiknya. Semoga bagi kita tidak sekadar bermakna kerja, tetapi juga bermakna karya. Mohon maaf pula atas “kesombongan” kami, karena menyebut diri sebagai ahli.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here