Penanganan Covid-19 di Mata Masyarakat Jawa Lama

0
308
Komet Tebutt yang terlihat pada 1861 ini digambar oleh Edmund Weiss, seorang astronom dari Austria. Orang Jawa menyebut komet sebagai lintang kemukus (Sumber gambar: historia.id)

0Shares
0

Jangan memandang remeh terhadap ilmu titen yang tumbuh sejak lama di masyarakat Jawa hanya karena menganggap bahwa saat ini zaman sudah maju. Bersinergi nyatanya mampu mewujudkan sebuah gerakan yang efisien dalam membendung laju penyebaran wabah. Jadilah manusia yang mampu menghidupkan kembali tradisi lama dengan memiliki kepekaan tinggi terhadap fenomena alam yang terjadi. Harapannya peninggalan ilmu dan budaya dari sesepuh masyarakat Jawa ini akan membantu manusia terhindar dari wabah Covid-19 atau bala musibah lainnya.

Kampusdesa.or.id–Sejak kasus Covid-19 di Indonesia diumumkan pertama kalinya oleh presiden Jokowi pada tanggal 2 Maret 2020 jumlah pasien positif Covid-19 terus bertambah. Berita terakhir menyebutkan data pasien sudah menembus 5000 jiwa lebih. Beberapa kebijakan dilakukan oleh pemerintah untuk meminimalisasi dan menghentikan penyebaran virus tersebut. Mulai dari social distancing hingga karantina lokal.

Masyarakat juga dihimbau untuk selalu menjaga kebersihan seperti mencuci tangan dan membersihkan area yang sering diakses menggunakan cairan desinfektan. Peningkatan sistem imun juga benar-benar diperhatikan seperti berjemur di pagi hari, olahraga ringan sampai konsumsi vitamin.

Dalam ilmu titen, yaitu mengamati anomali atau kejadian di luar kebiasaan alam atau lingkungan yang dianggap sebagai pertanda akan suatu kejadian pada masyarakat Jawa lama, para leluhur sebenarnya sudah memberikan tinggalan berupa ilmu mengenai apa yang harus dilakukan ketika ada pagebluk atau sawan yang muncul di sekitar.

 

Menilik apa yang terjadi saat ini berkaitan dengan bagaimana respon masyarakat menanggapi wabah yang sedang melanda Indonesia, mau tak mau seperti menampar diri sendiri. Dalam ilmu titen, yaitu mengamati anomali atau kejadian di luar kebiasaan alam atau lingkungan yang dianggap sebagai pertanda akan suatu kejadian pada masyarakat Jawa lama, para leluhur sebenarnya sudah memberikan tinggalan berupa ilmu mengenai apa yang harus dilakukan ketika ada pagebluk atau sawan yang muncul di sekitar.

Ilmu ini mereka dapatkan dari mempelajari segala kejadian di alam dan menghubungkan dengan berbagai peristiwa untuk mendapatkan jalan keluar dari permasalahan yang muncul. Misalnya saja munculnya lintang kemukus yang sering dikaitkan dengan akan terjadinya pagebluk atau wabah yang menyerang. Dalam kaitannya dengan terjadinya pandemi virus corona saat ini, masyarakat Jogjakarta harusnya lebih dini aware akan apa yang akan terjadi. Karena sebelum gempar wabah corona yang menyerang berbagai negara di dunia mereka sudah meramalkan akan terjadinya pagebluk itu saat melihat lintang kemukus yang muncul sebelum wabah corona terjadi di atas langit Jogja.

Dari segi kebersihan diri, orang-orang Jawa lama sudah terbiasa menempatkan kendi dan padasan di depan rumah. Kendi berfungsi untuk menyediakan minum bagi mereka yang lewat agar tenggorokan tidak kering dan padasan digunakan untuk membasuh kaki dan tangan sebelum masuk ke dalam rumah. Hal ini sejalan dengan himbauan untuk membersihkan diri sebelum memasuki rumah agar tidak membawa virus ke dalam rumah dan menulari keluarga.

Baca Juga: Hipokrisi dalam Penanganan Covid-19

Lalu dalam hal meningkatkan imunitas tubuh masyarakat Jawa terbiasa menanam kelor dan daun sirih di pekarangan rumah untuk nantinya dibuat masakan atau direbus sebagai jamu. Sampai saat ini khasiat daun kelor untuk kesehatan sangat diakui dunia. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim Drajat Irawan dalam detikNews menyatakan sampai akhir Maret 2020 kemarin Jatim mampu mengekspor 13 kali daun kelor ke Korea Selatan dengan total ekspor 55,8 ton atau setara dengan USD 155.247,90. Bukan hanya berhenti sampai disana, masyarakat Jawa terkenal sangat suka mengkonsumsi jamu yang terbuat dari aneka rempah yang kaya nutrisi baik untuk imunitas maupun juga untuk menyembuhkan penyakit.

Mengenai adanya himbauan social distancing yang digembar-gemborkan pemerintah, orang Jawa juga memiliki tradisi terkait dengan itu. Di mana untuk memberikan salam tidak dengan berjabat tangan tetapi cukup dengan menangkupkan tangan di depan dada seperti ritual namaste. Hal ini akan menghindarkan masyarakat dari penularan virus melalui sentuhan.

Selain beberapa hal di atas, isu bahwa berjemur dapat membunuh virus corona yang notabene salah kaprah dan terlanjur dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia tanpa pemahaman tentang itu, sebenarnya pun telah dilakukan secara biasa oleh masyarakat Jawa lama ataupun mereka yang hidup di pedesaan. Berjemur bukan membunuh virus corona, tetapi dinilai mampu meningkatkan imunitas tubuh. Sinar matahari pagi mampu menstimulus tubuh untuk memproduksi sendiri kebutuhan vitamin D, di mana mampu mendukung kinerja sel T yang berfungsi sebagai garis depan pertahanan melawan penyakit yang diakibatkan oleh virus.

Semenjak wabah corona menjadi pandemi yang ditakutkan masyarakat dunia. Anjuran berjemur di pagi hari mulai digalakkan bagi masyarakat agar tubuh mampu memproduksi imunitas untuk menghindari terpapar virus tersebut. Orang Jawa khususnya yang tinggal di pedesaan tidak perlu menunggu adanya anjuran tersebut. Setiap hari mereka sudah berjemur secara otomatis saat menggarap sawah atau ladang. Seperti sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sambil bekerja sambil melatih fisik dan mendapatkan manfaat sinar matahari pagi. Dengan begitu rata-rata masyarakat desa cenderung memiliki imunitas yang tinggi dibanding masyarakat kota yang jarang terpapar matahari pagi dan melatih fisik.

Dari paparan di atas masihkah kita men-judge bahwa mengikuti tradisi lama itu kuno dan tidak up to date. Padahal hal-hal yang kita lakukan saat pandemi saat ini tak lain tak bukan adalah ilmu yang lama diberikan oleh para sesepuh kita. Mereka lebih aware dan mampu mempelajari gejala alam lebih baik daripada kita meski tidak dibantu dengan teknologi yang canggih. Masihkah kita kesampingkan hal-hal yang terbukti baik bagi kita hanya karena itu tradisi lama dan ketinggalan jaman?

Jadi jangan memandang remeh terhadap ilmu titen yang tumbuh sejak lama di masyarakat Jawa hanya karena menganggap bahwa saat ini zaman sudah maju. Bersinergi nyatanya mampu mewujudkan sebuah gerakan yang efisien dalam membendung laju penyebaran wabah. Jadilah manusia yang mampu menghidupkan kembali tradisi lama dengan memiliki kepekaan tinggi terhadap fenomena alam yang terjadi. Harapannya peninggalan ilmu dan budaya dari sesepuh masyarakat Jawa ini akan membantu manusia terhindar dari wabah Covid-19 atau bala musibah lainnya.[]

 

Marwita Oktaviana. Adalah lulusan Teknik Mesin Universitas Udayana ini sekarang menjadi pengajar di SMKN 1 Kalitengah Lamongan di sela keaibukannya sebagai ibu dua orang anak. Cerpen dan puisinya pernah dimuat di Harian Solopos dan pernah menjuarai beberapa event kepenulisan. Saat ini aktif di komunitas menulis “One Day One Post”.