Merdeka Belajar dan Mas Mendikbud, Mengapa Banyak Ditentang?

0
163

0Shares
0

Saat sedang menyaksikan ILC yang disiarkan tv One tentang POP (Program Organisasi Penggerak) beberapa waktu lalu, dimana Mas Mendikbud ditentang habis-habisan oleh semua pembicara, kecuali (tentu saja) oleh Pejabat Kemdikbud yang menangani POP, saya jadi teringat saat kuliah 40 tahun lalu. Ulasan saya kali ini tidak membahas tentang Merdeka Belajar dan Mas Mendikbud dari substansi Belajar Merdeka itu, namun dari kacamata keilmuan komunikasi.

Kampusdesa.or.id-Pada jurusan kuliah saya (dulu belum ada program studi), jurusan PLS IKIP Malang awal tahun 1980-an, ada satu mata kuliah yang menyita perhatian saya, yaitu mata kuliah Difusi Inovasi yang dibina oleh dosen yang sangat saya kagumi, Abah Dillah Abdillah Hanafi dan salah satu referensi yang disarankan beliau adalah buku karangan Everett M. Rogers dan Floyd Shoemaker yang telah dialihbahasakan oleh beliau sendiri.

Mengapa mata kuliah ini begitu meaningful bagi saya? Sebelum masuk kuliah saya telah bekerja sebagai penyuluh pertanian selama 10 tahun, sejak tahun 1971. Dari buku itu saya mencoba bercermin pada perjalanan diri saya ketika menawarkan ide-ide baru dalam bidang pertanian, yang semuanya cocok dengan yang diuraikan Rogers dan Shoemaker.

Lalu apa hubungannya dengan Mas Mendikbud dan Merdeka Belajar? Dalam buku itu, dikisahkan proses adopsi suatu inovasi yang saat itu boleh dikatakan gagal. Ada seorang agen pembaharu yang mengenalkan ide-ide baru yang sebenarnya baik dan bermanfaat namun tidak mendapat sambutan dari khalayak. Saya melihat ada kesamaan antara kisah dalam buku terjemahan Abah Dillah Abdillah Hanafi tersebut dengan kisah Mas Mendikbud dengan konsep Merdeka Belajar.

Dalam hal ini bukan karena ide Merdeka Belajar dan POP buruk, namun karena masyarakat belum siap menerimanya, dan bisa juga karena kesalahan strategi yang ditempuh oleh Mas Mendikbud bahkan juga oleh Presiden kita.

Dalam hal ini bukan karena ide Merdeka Belajar dan POP buruk, namun karena masyarakat belum siap menerimanya, dan bisa juga karena kesalahan strategi yang ditempuh oleh Mas Mendikbud bahkan juga oleh Presiden kita. Mengapa? Dalam profil masyarakat dilihat dari ilmu komunikasi, khususnya difusi inovasi, ada kelompok masyarakat, yaitu inovator, adopter awal, adopter awal mayoritas. Adopter lambat mayoritas dan lagard, jumlahnya dalam masyarakat sesuai dengan kurva normal. Dalam jumlah yang termasuk pencilan (outlier) adalah inovator di sisi kiri dan lagard di sisi kanan dengan jumlah populasi sekitar 2%, kemudian 1 SD (Standard Deviasi) adopter awal di sisi kanan dan adopter lambat di sisi kiri jumlahnya sekitar 14%, di tengah dalam proporsi terbanyak adalah majority early adopter dan majority late majority masing-masing 34%.

Dari sini bisa kita pahami, bahwa pendukung awal suatu inovasi itu amat sangat sedikit, hanya orang-orang gila, kata saudara saya, Nafik Naff, atau seperti yang saya katakan pada saudara saya yang lain Gus Lukman Hakim dari Sekolah Dolan, inovator ini adalah the right man in the right place, but in the wrong place, atau lahir sebelum waktunya, manusia untuk masa mendatang. Itulah mengapa dalam ILC di tvOne juga dituduhkan Mas Mendikbud lebih dekat dengan stafsusnya, karena dalam ilmu komunikasi juga dikatakan homofili, yaitu kecenderungan lebih suka mendekat ke orang-orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya.

Seharusnya arah difusi inovasi ini lebih diarahkan kepada tokoh-tokoh bidang pendidikan.

Namun, saya bisa memahami “salah strategi” dari Mas Mendikbud ini. Seharusnya arah difusi inovasi ini lebih diarahkan kepada tokoh-tokoh bidang pendidikan. Ditambah, Mas Mendikbud terhitung orang baru dalam dunia pendidikan sehingga banyak tokoh-tokoh karismatik pendidikan banyak yang menentang, dengan argumen “serahkan urusan pada ahlinya”.

Saya teringat saat awal jadi penyuluh di 50 tahun lalu di negerinya Gus Nafik dan kakak Rubi di Bojonegoro, saya dianggap masih anak kemarin sore, sementara beliau-beliau petani itu sudah jadi petani sebelum saya lahir. Saya secara alamiah, mencari petani-petani muda yang bersedia mendukung pembaharuan pertanian dan hasilnya saya malah tidak diterima oleh petani tua yang masih konvensional. Kesalahan ini baru saya sadari setelah saya ikut kuliah Difusi Inovasi dari Abah Dillah Abdillah Hanafi dan ternyata berkomunikasi dengan tokoh petani konvensional juga sangat sulit. Baru setelah petak-petak demplot dengan teknologi baru secara nyata hasilnya lebih baik secara signifikan para tokoh-tokoh petani early adopter mengikuti dan aktif mendukung pembaharuan pertanian.

Saya memahami ada kesenjangan cukup jauh antara pandangan konvensional pendidikan dengan Merdeka Belajar, juga antara para ahli pendidikan dengan mas Mendikbud.

Saya memahami ada kesenjangan cukup jauh antara pandangan konvensional pendidikan dengan Merdeka Belajar, juga antara para ahli pendidikan dengan mas Mendikbud. Apa yang saya alami saat diseminasi inovasi pertanian jauh lebih mudah dari yang dihadapi mas Menteri. Inovasi di bidang pertanian berwujud yang bisa diindera, bisa diamati, dilihat dan diukur, manfaatnya mudah dirasakan dan sifatnya immediatle, paling satu musim tanam sudah bisa dilihat dan ditimbang hasilnya. Namun inovasi di bidang pendidikan, hasilnya is not immediately, tidak bisa dirasakan segera dalam jangka pendek, serta kurang bisa diamati (observable) dan diukur (measurable) dengan pasti dan obyektif.

Dari sisi pandang ilmu komunikasi saya masih optimis bahwa Merdeka Belajar masih bisa diwujudkan, melalui ubahan strategi mendekati dan menyamakan pandangan tentang konsep Merdeka Belajar dengan belajar konvensional. Dari analisis rentang waktu, masih panjang proses difusi inovasi.

Namun ada yang saya takutkan, bila para pemangku kepentingan menghendaki immediately output dari Merdeka Belajar secara nyata saat ini dan atau tetap berpendapat bahwa Mas Mendikbud dengan Merdeka Belajarnya telah menjungkirbalikkan tatanan pendidikan yang telah dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun, seperti saat beliau menjungkirbalikkan tatanan taksi konvensionalnya dengan Gojek serta menekan pembuat keputusan di negeri ini untuk menghentikan disruptif pendidikan normal lama untuk mengganti dengan pejabat yang “ahli” dalam bidang pendidikan, maka tamatlah Merdeka Belajar, layu dan mati sebelum berkembang.