Kemerdekaan dan Kebebasan

0
107

0Shares
0

Kemerdekaan mutlak menjadi pengalaman personal. Kata itu tidak semata sebuah semangat merdeka dari penjajahan dan pertanda kemerdekaan bangsa yang dirayakan setiap 17 Agustus. Merdeka mencerminkan pilihan kehidupan tanpa keterpaksaan. Merdeka mengisyaratkan terpenuhinya hak bahwa manusia bebas dari belenggu orang lain yang menjadikannya lapuk sedemikian seseorang hidupnya tidak lagi berkuasa atas dirinya. 

Kampusdesa.or.id–“Suamiku memperlakukan aku sesukanya, tapi aku tak bisa menolaknya, ingin lepas darinya juga sulit karena dialah yang satu satunya mencari nafkah. Sedangkan kami juga punya anak,” bisikmu.

“Kamu nikah dulu umur berapa?” Tanyaku.

“Umur 16,” jawabmu.

Dan kini engkau pun menyadari betapa dirimu banyak kehilangan kebebasan masa remaja dan masa muda. Mestinya berkembang dalam interaksi sosial dengan belajar, tapi malah harus jadi pelayan dalam rumah tangga.

Jika kini kau sadar, masih ada potensi bagi dirimu untuk bangkit. Tentu dengan beban dan keadaanmu yang ada sekarang, itu adalah konsekuensi dari pilihan hidupmu di masa sebelumnya. Itupun masih bisa kau hadapi, setelah dirimu sadar.

Kemerdekaan didapat setelah manusia mengalami kesadaran baru.

Merdeka itu bebas dari dan bebas untuk. Bebas dari penindasan dan penghisapan (material), bebas dari penjajahan doktrin dan cara pandang (ideologis) yang mengendalikan jiwa dan karakter yang membuat kita tidak bisa berkembang.

Bebas untuk memilih dan bergaul dalam rangka mengembangkan diri, mencukupi kebutuhan dan keinginan, beraktualisasi diri. Bebas untuk melakukan apapun, sebagai hak-hak individu yang tidak bertentangan dengan hak-hak orang lain, dan dibatasi oleh aturan bagi yang telah memilih posisi yang dibingkai untuk mengarahkan peran yang sesuai aturan dan norma yang telah disepakati.

Kemerdekaan adalah produk berpikir dan perkembangan tenaga produktif masyarakat modern, sebuah hibah dari kebudayaan yang matang yang diatur oleh akal sehat dan hati nurani yang menempatkan tiap pribadi sebagai entitas manusia yang harus dihormati sebagai manusia yang bisa memajukan dirinya serta diberikan kesempatan di alam merdeka yang diberikannya.

Dan dengan dijunjungnya nilai-nilai hak asasi manusia dan akal sehatlah pula, kita bisa menguak upaya memasung kebebasan fisik maupun kebebasan berpikir. Kebebasan berpikir membuka ruang pikiran kritis untuk menggugat setiap upaya orang dan kelompok lain (atau lembaga-lembaga sosial politik) yang berupaya menindas dan memanipulasi kenyataan dan mendapatkan keuntungan dengan menyusahkan orang lain.

Saya pernah mendengar atau membaca tulisan yang kira kira begini: “tidak mungkin merdeka selama masih ada kebutuhan dan keinginan. Karena penyebab penjajahan adalah adanya keinginan dan kebutuhan dalam diri manusia.”

Namanya manusia hidup ya pasti punya keinginan dan kebutuhan. Kalau sudah mati keinginan tidak ada karena pikiran tidak ada. Karena organ-organ tubuh juga tidak ada alias rusak. Tidak ada jantung yang berdetak, tidak ada dada yang bergemuruh.

Baik hidup atau mati sebenarnya kita adalah bagian dari alam dengan keterikatan keterikatan pada hukum alam

Tapi apakah kalau manusia mati, apakah itu fisiknya dan sisa-sisa tubuh yang terurai menjadi merdeka? Tidak juga. Orang mati dikubur dalam tanah materi tubuhnya menyatu bersama tanah, mengurai bersama alam. Iya menjadi bagian dari alam raya seisinya. Artinya, baik hidup atau mati sebenarnya kita adalah bagian dari alam dengan keterikatan keterikatan pada hukum alam.

Baca juga : Memaknai Sosok Warok Dalam Perayaan Hari Besar Kemerdekaan

Jadi sebenarnya selama kita itu ada sebagai materi, kita adalah bagian dari materi yang lebih besar yang menjalin suatu ikatan. Kita akan tunduk pada hukum-hukum materi itu dan hukum-hukum dialektika alam. Sebenarnya, kita tidak pernah berdiri sendiri. Dan bukankah kita bisa mengatakan merdeka setelah kita merasa bahwa kita bagian dari hubungan dengan orang lain dan dengan alam?

Salah satu hukum alam itu adalah jika kaum adalah makhluk hidup, maka kau pasti terikat dengan hukum-hukum alam sebagai makhluk yang hidup. Salah satunya adalah punya kebutuhan dan keinginan!

Keinginan dan kebutuhan juga menjadi penyebab gerakan mencapai kemerdekaan! Justru kemerdekaan dan kebebasan bisa kita pahami ketika kita sudah terbebas dari kontradiksi-kontradiksi hidup yang kita alami. Kita lapar lalu kita mendapatkan makanan dan kita makan, maka kita bebas dari rasa lapar. Kita harus selalu berusaha untuk mendapat atau mencari minuman, maka kita bebas dari rasa haus.

Jadi kemerdekaan adalah sebuah situasi yang kita dapatkan setelah kita berjuang, perjuangan untuk mengatasi kontradiksi yang kita hadapi.

Dan makna kemerdekaan didapat akibat dari keberadaan kita dalam relasi kita dengan alam dan manusia lain. Kita adalah bagian dari alam. Kita menghadapi alam. Kita adalah bagian di dunia di mana di dunia ini ada manusia lain. Kita juga berhubungan dengan orang lain.

Maka dari situlah muncul frase “bebas untuk” dan “bebas dari”!

Sebagai manusia kita bebas untuk mewujudkan keinginan keinginan kita, kebutuhan kebutuhan kita, mengembangkan diri kita, mengaktualisasikan diri kita sebagai bagian dari hak kita untuk hidup dan berkembang sesuai dengan keinginan dan potensi yang kita miliki.

Sebagai manusia kita bebas untuk mewujudkan keinginan keinginan kita, kebutuhan kebutuhan kita, mengembangkan diri kita, mengaktualisasikan diri kita sebagai bagian dari hak kita untuk hidup dan berkembang sesuai dengan keinginan dan potensi yang kita miliki. Kita bebas untuk membawa diri kita, tubuh dan pikiran kita kemana saja sesuai dengan keinginan kita dan keyakinan kita. Orang lain di luar kita juga berhak seperti itu. Hak kita akan berhadapan dengan hak orang lain, karena itu di situlah diperlukan aturan yang merupakan kesepakatan bersama.

Baca juga: Memaknai Kemerdekaan: Problem Kebijakan Untuk Kesejahteraan Rakyat

Sebagai manusia kita juga punya hak untuk bebas dari hal-hal yang kita tidak inginkan atau yang menghambat perkembangan diri kita dan yang menentang keinginan keinginan kita. Secara naluriah, manusia ingin bebas dari penjajahan dan penindasan orang lain, kelompok lain, dari lembaga-lembaga sosial politik, atau kekuatan apapun yang membuat kita kehilangan hakikat kita sebagai manusia. Manusia akan cenderung menghindar dari keadaan yang membuatnya tidak bebas dan tidak merdeka. Bahkan manusia akan melawan hal-hal atau keadaan yang membuatnya tidak bebas dan tidak merdeka. Manusia ingin cenderung bebas dari keadaan-keadaan yang menyusahkan dan pihak-pihak yang membuatnya kehilangan hak-haknya.

Dalam sejarah perjalanan manusia, mereka akan cenderung mencari tempat-tempat yang mudah untuk ditinggali, yang memudahkannya mencari makanan dan mengembangkan kehidupan. Mereka akan berpindah tempat supaya terbebas dari kondisi alam kehidupan yang membuat mereka kesulitan untuk hidup. Mereka ingin terbebas dari penjajahan kondisi alam yang sulit.