Menanya Ulang Tujuan Pendidikan Modern

0
54

0Shares
0

Munculnya revolusi industri pertama abad 18 silam hingga tahap keempat hari ini telah mempengaruhi secara masif dunia pendidikan. Tujuan pendidikan yang semula ingin mendewasakan manusia baik secara jasmani maupun ruhani, beralih ingin menjadikan manusia compatible dengan kebutuhan industri. Pendidikan menjadi kian profan dan mulai kering dari sentuhan cahaya ketuhanan.

Kampusdesa.or.id-Termasuk efek dari kemunculan revolusi industri adalah tumbuhnya pola pikir dan gaya hidup yang menyokong dan berorientasi pada pertumbuhan industri. Coba lihat saja, makin hari gaya hidup manusia makin konsumtif, matrealis, hedonis, profit oriented, dan kompetitif. Ukuran-ukuran kebaikan juga mengalami pergeseran menjadi lebih profan. Semua ini merupakan tonggak penyokong pertumbuhan industri. Ironisnya, pendidikan ternyata tak bisa menghindarkan diri dari efek ini.

Paradigma pendidikan modern yang mengusung slogan humanisme, secara kasat mata memang menjadi angin segar bagi masa depan manusia. Martabat manusia sebagai makhluk yang berpikir, berkehendak, dan berhati nurani sangat dihargai. Karakteristik dan keunikan manusia mendapatkan tempat yang layak. Oleh karenanya, pembelajaran yang diselenggarakan di kelas-kelas ditekankan supaya memposisikan peserta didik sebagai pusatnya (student centered). Mereka difasilitasi untuk mengkonstruksi pengetahuan sendiri.

Paradigma lama dimana guru sebagai aktor utama di kelas dikritik keras. Akibatnya, metode ceramah yang dulu menjadi andalan, kini dinilai tak lagi efektif dan relevan (benarkah?)

Peran dan fungsi pendidik juga sedikit digeser (atau ditambah?) menjadi fasilitator bagi peserta didiknya. Harapannya, peserta didik mampu mengalami pembelajaran yang lebih bermakna, karena proses belajar lebih banyak memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengalami (learning by doing). Paradigma lama dimana guru sebagai aktor utama di kelas dikritik keras. Akibatnya, metode ceramah yang dulu menjadi andalan, kini dinilai tak lagi efektif dan relevan (benarkah?).
Sampai di sini tidak ada hal yang aneh atau patut dipertanyakan (debateble). Namun, bila kita berlanjut menyorot visi yang diusung pendidikan modern yang terus menerus ditanamkan ke dalam diri peserta didik sepanjang waktu, kita akan mengerutkan dahi. Terlebih jika kita pertemukan dengan visi utama pendidikan menurut Islam.

Paradigma pendidikan modern, di samping humanis, juga industrialis. Hal ini tampak pada sistem pembelajaran yang mengarahkan peserta didik menjadi pasokan modal bagi industri (human resource)

Mari sejenak kita telisik. Paradigma pendidikan modern, di samping humanis, juga industrialis. Hal ini tampak pada sistem pembelajaran yang mengarahkan peserta didik menjadi pasokan modal bagi industri (human resource). Para orang tua, guru, dan sekolah berharap anak-anak yang sekarang sedang belajar kelak tidak akan kesulitan mencari kerja. Mereka diharapkan mempunyai daya saing yang kuat, sebab persaingan di dunia kerja kini makin ketat dan global.

Peserta didik didorong untuk menjadi kontestan kompetisi yang mempunyai sederet keunggulan dibanding lawannya. Jam belajar bertambah, jam bermain berkurang.

Guna memacu motivasi peserta didik supaya belajar sungguh-sungguh, iklim kompetitif pun dibangun sedemikian rupa. Peserta didik didorong untuk menjadi kontestan kompetisi yang mempunyai sederet keunggulan dibanding lawannya. Jam belajar bertambah, jam bermain berkurang. Sepulang sekolah, anak-anak masih disuruh mengikuti les di lembaga bimbingan belajar atau secara privat. Tujuannya, jelas, supaya mereka menjadi pemenang. Mindset yang dibangun, hanya mereka yang pandai, cerdas, dan terampillah yang akan memenangkan kompetisi di dunia kerja.
Tapi, apakah sesepele itu hakikat tujuan pendidikan?

Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk manusia menjadi insan kamil, yaitu manusia yang memahami status kemanusiaannya, baik sebagai hamba, maupun khalifah.

Bila kita arahkan pandangan pada konsep pendidikan dalam Islam. Kita akan dapati bahwa tujuan pendidikan pada hakikatnya jauh lebih mulia dibandingkan itu. Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk manusia menjadi insan kamil, yaitu manusia yang memahami status kemanusiaannya, baik sebagai hamba, maupun khalifah. Insan kamil adalah mereka yang mampu bersyukur atas karunia Allah, beriman, bertakwa, dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.

Jadi, orientasi pendidikan semestinya tidak hanya memprioritaskan pada penguasaan kompetensi industrialistik tadi, tapi jauh menyentuh wilayah spiritual. Sebab, pada akhirnya, yang dibawa menghadap ke hadirat Tuhan adalah hasil olah spiritual. Proses pembelajaran yang dilakukan harus dirancang sedemikian rupa supaya dapat mendorong tumbuh-kembangnya spiritualitas peserta didik. Olah rasa dan olah jiwa menjadi prioritas utama di samping olah raga.

Pengabaian terhadap spiritualitas, akan berdampak pada keringnya hati peserta didik dari sentuhan cahaya ilahiah.

Kedalaman spiritual akan menyokong perkembangan domain afektif peserta didik. Tertanamnya iman, takwa, dan tawakal secara kuat dalam diri peserta didik akan menjaga mereka dari perilaku negatif atau menyimpang. Hati nurani mereka menjadi jernih, sehingga memudahkan guru memberikan teladan bagaimana hidup dengan akhlak yang mulia. Pengabaian terhadap spiritualitas, akan berdampak pada keringnya hati peserta didik dari sentuhan cahaya ilahiah. Pada akhirnya, mereka akan menjadi manusia yang hanya mempedulikan urusan duniawi dan lupa pada urusan ukhrawi.

Pendidikan modern semestinya menjadi model pendidikan yang memadukan secara seimbang pengembangan domain kognitif, efektif, psikomotorik dan juga spiritualitas.