Peran Pemuda dalam Mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

0
106
Pemuda, SDGs

0Shares
0

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah agenda global imPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendorong pembangunan berkelanjutan dalam rangka mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim dunia dalam bentuk aksi nyata yang dicanangkan melalui Resolusi PBB tahun 2015. Penguatan peran pemuda melalui daerahnya masing-masing sangatlah diperlukan untuk menyukseskan pencapaian SDGs tersebut.

Kampusdesa.or.id–Lamongan (17/10), Diaspora Muda Lamongan mengadakan kegiatan seminar daring (webinar) volume yang ke 11. Situasi pandemi Covid-19 tidak menyulut semangat pemuda Lamongan dalam diskusi Diskusi Kebijakan Publik bersama Dyah Roro Esti Widya Putri, B.A., PG.Dip., M.Sc. (Komisi VII DPR RI) dan Hilda Farida, S.P (Wakil Ketua Umum Diasda Lamongan) dengan topik “Peran Pemuda untuk Mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam Pembangunan Daerah di Tengah Pandemi COVID-19”.

Berbeda dengan agenda webinar sebelum-sebelumnya, acara ini melibatkan 28 organisasi kepemudaan dan NGO yang concern terhadap isu terkait serta didukung oleh 16 media partner. Acara yang diselenggaran via aplikasi Zoom Meeting ini dimoderatori oleh M. Alif Dzulfikar, pengurus Divisi Riset dan Kelembagaan Diaspora Muda Lamongan.

Acara dibuka dan diawali dengan sambutan dari Abdul Jalil, ketua umum Diaspora Muda Lamongan. Dalam sambutannya ia mengapresiasi pemateri dan peserta yang hadir dalam kegiatan webinar mengenai SDGs. Pria yang akrab disapa Abil ini juga memberikan motivasi kepada teman-teman muda pentingnya berinovasi dan terobosan terbaru. Karena pemuda berperan dalam membangun daerah untuk mendukung berbagai sektor di tanah kelahirannya.

“Timbul sebuah pertanyaan mengapa harus pemuda? Karena pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan tanah kelahirannya, dapat diartikan juga bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan,” katanya dalam sambutan.

Masuk ke materi, Bu Roro menyampaikan bahwa program SDGs adalah menjadi kesepakatan pembangunan gobal, termasuk di Indonesia dikenal dengan istilah agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang telah disahkan pada 25 September 2015 bertempat di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) oleh 193 kepala negara, termasuk Indonesia.

Ada sebanyak 17 poin SDGs, namun anggota DPR RI ini memaparkan SDGs no 7 dan 13 yang termasuk dalam fokus kinerja di Komisi VII, yakni salah satunya di bidang energi dan lingkungan hidup. Membahas terkait energi, di Indonesia energi baru dan terbarukan (EBT) sedang digalakkan. Menurut Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2019 – 2050, Kabupaten Lamongan dan Gresik masuk ke dalam 9 Kabupaten di provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi industri. Sehingga membutuhkan banyak energi. Namun, untuk memenuhi kebutuhan energi di kawasan industri tersebut, masih banyak penggunaan sumber energi yang berasal dari batu bara yang kurang ramah lingkungan.

Saat ini data prosentase sumber energi yang berasal dari gas bumi masih jauh lebih besar dibanding dengan EBT, yang mana bauran EBT di Jawa Timur hanya sebesar 4,86%. Tentu fakta ini sebagai alasan perlu adanya energi terbarukan. Topik EBT menjadi salah satu RUU yang didukung dan masuk prioritas program legislasi nasional (Prolegnas) oleh DPR RI. Gagasan bersama dengan pemerintah dan atas masukan berbagai pihak nantinya akan ditranslasi menjadi UU dan menyesuaikan daerah masing-masing. Karena negara Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, berbeda wilayah berbeda potensi dan kebutuhan.

Sebagai anggota DPR, ia mengatakan bahwa politik dapat dijadikan kendaraan (vehicle) untuk menyentuh lebih luas segala lapisan masyarakat. Terkait implementasi SDGs ini tentu bisa dilakukan melalui pembuatan UU yang pro aspek dasar SDGs, mengikuti kegiatan di Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP), belajar dengan negara yang sudah menerapkan atau merealisasikan SDGs. Ia juga menjadi sekretaris Kaukus Ekonomi Hijau di lintas fraksi dan lintas komisi.

“Melalui DPR di komisi VII, saya harus bisa berkontribusi, berkerjasama, dan bergotong royong agar Indonesia lebih maju sejahtera dengan menerapkan konsep berkelanjutan (sustainability). Salah satunya merumuskan langkah-langkah untuk mengatasi perubahan iklim (climate change),” papar perempuan lulusan S2 jurusan kebijakan lingkungan di Imperial College London ini.

Di samping itu, Bu Roro juga menjelaskan bahwa di tengah pandemi Covid-19 ini ada beberapa faktor penghambat dalam mengimplementasikan SDGs. Di antaranya dikarenakan realokasi anggaran, peningkatan produksi sampah plastik dari sektor medis yang mengancam lingkungan, dan penurunan pertumbuhan ekonomi mempengaruhi investasi, termasuk investasi dalam proyek SDGs.

Sedangkan faktor pendukung implementasi SDGs antara lain peningkatan kemajuan dan pemanfaatan teknologi komunikasi menghilangkan faktor jarak, karena banyak diskusi atau
forum bisa dilakukan secara virtual. Serta sebagai momentum perubahan paradigma dan untuk pemulihan hijau (green recovery) pasca Covid-19. Pembangunan ke depan setelah pandemi berlalu harus memperhatikan faktor lingkungan dalam perencanaan dan implementasinya, penggunaan energi yang ramah lingkungan, dan sebagainya.

Selanjutnya materi kedua dari mbak Hilda Farida, berkenaan dengan peran pemuda dalam dunia pertanian yang kaitannya terhadap penerapan SDGs. Berbicara tentang SDGs tentu tidak terlepas dengan upaya menghapus kemiskinan, mengakhiri kelaparan, sehingga memperoleh kehidupan yang layak, kesehatan yang baik, dan dapat mencapai kesejahteraan.

Dalam sejarah revolusi hijau, Indonesia pernah swasembada beras tahun 70-an dengan jalan meningkatkan produksi melalui penggunaan pupuk sintetis. Padahal di negara lain sedang gencar-gencarnya meninggalkan pupuk sintetis karena dianggap tidak baik untuk kesehatan.
Padahal di setiap wilayah Indonesia makanan pokoknya berbeda tapi proyek swasembada pangan dari pemerintah menyebabkan masyarakat meninggalkan makanan lokal. Sehingga ada persepsi bahwa jika tidak punya beras atau tidak makan nasi maka dianggap miskin.

Kedaulatan pangan bisa dimulai mengganti pangan. Kembali kepada makanan lokal seperti dulu, seperti sagu, ketela, ubi, sorgum, dan masih banyak lagi. Adanya diversifikasi makanan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Karena makanan pokok yang dikonsumsi dan produksi pertanian menjadi bervariasi dan para petani tidak terfokus pada satu jenis saja. Di sinilah peran pemuda dibutuhkan.

“Ketika jauh-jauh kuliah tapi ketika pulang tidak bisa membaur bersama rakyat, petani dan berkontribusi kepada desa dan mempunyai keterpedulian kepada negara,” pungkas wakil ketua umum Diaspora Muda Lamongan ini.

Baca Juga:

Pada sesi tanya jawab, antusiasme peserta cukup besar, banyak yang mengajukan pertanyaan di sesi diskui. Akan tetapi dikarenakan waktu yang sangat terbatas, maka hanya dibatasi tiga penanya saja. Adapun pertanyaan pertama dari Wildan dari PT. Berkah Kawasan Makmur Sejahtera (BKMS) Gresik, mengenai dukungan yang dapat diupayakan oleh DPR sebagai mitra pemerintah untuk mendukung langkah energi bersih dan terjangkau. Di lain hal, sekarang pemerintah tengah menggalakan pembangunan proyek percepatan 35.000 megawatt yang didominasi oleh PLTU yang mana hanya terjangkau tapi kurang bersih.

Bu Roro menjelaskan bahwa langkah konkrit dalam menyusun sebuah UU perlu adanya transparansi dan membutuhkan kajian dari para saintis atau ahli. Sehingga terkait solusi energi bersih dan terjangkau saat ini sedang didiskusikan di DPR dan membuka ruang kepada masyarakat untuk memberi masukan. Sejauh ini di Indonesia sedang dimaksimalkan penerapan EBT tenaga surya (solar panel) dalam skala besar. Terkait adanya wacana ke depan akan ada pembangunakan PLTN di Indonesia, sebagai anggota DPR di komisi yang membidangi energi tentu setuju. Karena nuklir sebagai salah satu sumber energi terbarukan.

“Sebagai anggota DPR yang juga pernah menjadi panitia kerja (panja) kelistrikan, saya berpendapat bahwa Indonesia memiliki prospek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, tapi dari segi keamanan harus terjamin dengan baik. Kita juga harus memikirkan negara tetangga apakah mengimplementasikan hal yang sama,” terang Bu Roro.

Untuk itu, menurutnya penggunaan teknologi nuklir yang sudah terbukti dan aman bisa diwujudkan. Namun itu tidaklah mudah, perlu kajian panjang dan sebuah pertimbangan mtang. Mengingat Indonesia yang rawan gempa bumi ini sering menjadi isu keberadaan PLTN. Sehingga terkait rencana ini memang harus didiskusikan secara intensif dalam RUU EBT.

Pertanyaan kedua dari Bagas Prasetyo Adi mengenai kondisi petani di Indonesia mengalami kerugian dalam mengelola lahan pertanian baik itu padi, garam, atau yang lainnya. “Apa yang dilakukan pemerintah untuk membantu para petani meningkatkan hasil panennya dan apakah di Indonesia akan terus menerus mengimpor bahan pokok yang dibutuhkan oleh masyarakat?” tanya mahasiswa Universitas Hangtuah Surabaya ini.

Mbak Hilda selaku pemateri kedua yang menyinggung soal pertanian memberikan saran bahwa dalam problem semacam ini yeng terjadi di Indonesia, tentunya menjadi peluang bagaimana peran pemuda berinovasi membantu petani meningkatkan hasil produktifitas. Bukan saatnya selalu menyalahkan pemerintah, setiap pemuda mempunyai peran menerapkan sebagaimana ilmu yang didapat di bangku pendidikan.

Pertanyaan ketiga dari Muhammad N. Hassan, founder Diaspora Muda Lamongan yang menyoal kendala kebijakan “ban single use plastic” secara meyeluruh di Indonesia, serta bagaimana peran pemuda dalam isu ini.

Seperti yang kita ketahui bersama, atau bisa disaksikan dalam sebuah film dokumenter “Plastic Ocean”, bagaimana sampah plastik mencemari sungai dan lautan. Bahkan riset dari The Ellen MacArthur Foundation mengatakan bahwa pada tahun 2050 nanti jika tidak ada upaya pengendalian, jumlah plastik diperkirakan akan lebih banyak daripada jumlah ikan yang ada di lautan.

Langkah sederhana bisa diawali dengan gerakan anak muda mengkampanyekan bahaya sampah plastik dan pelarangan menggunakan single use plastic. Karena sampai saat ini belum ada large scale commitment secara nasional untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai. Karena kebijakan ini perlu adanya kajian tersendiri.

“Namun kepedulian ini dapat diimplementasikan saat rapat di DPR, harus menjadi contoh yang bagus kepada masyaraat keseluruhan dan harus memulai dari kita sendiri. Karena percuma ada di institusi hanya membicarakan permasalahan berkenaan lingkungan, tapi masih memakai botol single use plastic ketika rapat. Semoga dapat dicontoh oleh institusi lainnya,” terang anggota DPR RI dapil Jatim X ini.

Selain itu, untuk melakukan sebuah perubahan harus ada keberanian (one massive movement). Meski kendalanya nanti industri-industri plastik akan menggugat dan menentang akan kebijakan tsb, seperti halnya sudah pernah terjadi di Bali. Begitulah dalam political will harus menyeimbangkankan antara ekonomi dan kebijakan. Sehingga nantinya kebijakan dapat diikuti oleh semua pihak.

Pemateri kedua menambahakan bahwa mengurangi sampah plastik bisa dilakukan dengan gerakan tidak membeli produk makanan dan minuman impor, memakai piring dari bahan yang biodegradable, membawa botol minum sendiri, dan menggunakan tas belanja yang bisa dipakai berkali-kali.

“Kita sebagai generasi muda jangan hanya bisa utopis, tapi mari memulai gerakan tersebut dari lembaga atau organisasi kita sendiri. Sehingga kita bisa saling sinergi dan mengisi untuk membangun Indonesia lebih maju,” tambah Hilda Farida.

Tidak terasa satu setengah jam berlalu, acara ini ditutup dengan kesimpulan singkat dari moderator yang mengajak teman-teman semua harus memikirkan masa depan. Karena kepentingan generasi yang akan datang juga sangat penting seperti halnya kepentingan kita hari ini.

Terakhir, closing statement dari kedua pemateri. Bu Roro memberi PR setiap sebelum tidur untuk menanyakan diri sendiri apakah sudah melakukan small actions creating big impact.

“Kalau ada yang bisa dilakukan sekecil apapun, jika itu membawa perubahan dan dampak yang besar dan baik, maka lakukanlah,” pesan legislator muda ini.

Senada dengan itu, pemateri kedua mengajak teman-teman agar membuat gerakan perubahan dari diri sendiri. “Apa yang bisa dilakukan bersama-sama dengan sebuah gerakan dimulai dari diri sendiri pasti akan membawa perubahan besar buat bangsa Indonesia menjadi lebih baik,” tutup mahasiswi S2 di Department of Farm Plants, Faculty of Agriculture, Erciyes University, Turkey ini.

Semoga acara diskusi di malam minggu ini berfaedah dan bisa membawa manfaat dan amunisi semangat pemuda-pemudi di Lamongan dan sekitarnya. Harapannya kita semua sebagi aktor-aktor muda bisa bersama-sama berupaya mewujudkan apa yang sudah menjadi tujuan pembangun berkelanjutan di negeri ini. (ag/ht/nh)