Mengenali Emotional Burnout dan Tips Untuk Mengatasinya

0
146
Emotional Burnout
Sumber gambar: https://brightside.me

0Shares
0

Istilah emotional burnout beberapa tahun belakangan ini sering digunakan untuk menggambarkan rasa stress dan tertekan akibat pekerjaan, sehingga menimbulkan rasa lelah yang menumpuk dan berkepanjangan. Dalam tulisan ini akan mengenal apa itu emotional burnout dan bagaimana cara mengatasinya.

Kampusdesa.or.id–Satu kondisi yang rata-rata hampir dialami oleh semua orang, yaitu kondisi lelah. lelah karena tumpukan pekerjaan, lelah karena padatnya aktivitas atau lelah karena rutinitas yang sama dalam kurun waktu yang lama. Jika kita tidak dapat mengatasi lelah kita sendiri, sehingga menjadi kelelahan yang berkepanjangan akibatnya bisa memicu terjadinya tekanan-tekanan dan tantangan yang menimbulkan ketegangan emosional dan jika ini berlanjut maka akan menimbulkan stress.

Mungkin kamu juga pernah mengalami. Tiba-tiba merasa tidak semangat dan tidak berminat melakukan suatu hal, tiba-tiba suka marah pada hal-hal yang sebenarnya itu remeh. malas melakukan apa-apa padahal bukan karena mager tapi lebih kepada hilangnya motivasi.  Lalu efeknya juga kefisik menjadi lebih gampang capek padahal waktu istirahat tidak berkurang.

Nah, kalau kamu juga sedang dalam kondisi tersebut berati kamu perlu waspada, karena kondisi tersebut merupakan tanda-tanda stress. Wajar saja kalau lelah karena setiap hari kita harus melawan fikiran kita yang kadang bertolak belakang dengan kemampuan yang kita miliki. Kondisi stress ini juga tidak dapat dihindari dengan mudah, karena yang namanya kita hidup, normal sekali kalau kita merasakan beban yang begitu berat dan sangat penat.

Setiap orang pasti pernah mengalami stress bahkan anak kecil sekalipun, namun setiap orang juga dibekali cara pegalihan stress yang berbeda-beda. Setiap orang juga hebat karena dia sanggup mengalihkan atau mengatasi stressnya sehingga menjadi kuat untuk menjalani hidupnya.

Jika kita mampu melakukan hal yang masih membuat kita senang ketika kita dalam keadaan stress itu bukan merupakan masalah yang serius. Namun jika lelah kita terus berkepanjangan dan tidak bisa kita hilangkan, emosi yang terus menerus tidak stabil dan berefek pada rutinitas sehari-hari, sampai malas makan mandi atau tidur, tidak bisa menikmati hidup dan sampai beranggapan bahwa “aku sudah tidak berdaya menjalani hidupku” mungkin kamu harus kenal dengan emotional burnout.

Emotional burnout merupakan kondisi psikologis yang negatif yang memunculkan gejala baik itu secara fisik, tingkah laku, koginitif atau cara berfikir kita. Nah, kelelahan emosinal sendiri merupakan bagian dari dimensi emotional burnout (Maslach, 1993).

Churiyah (2011) mendefinisikan kelelahan emosional merupakan bagian dari perasaan seseorang yang ditandai dengan rasa tidak berdaya dan depresi. Menjalani hubungan yang tidak seimbang antara apa yang dikerjaan dengan dirinya sendiri. Sehingga emosi menjadi terkuras karena adanya ketegangan. Kelelahan emosional ini biasanya ditandai dengan munculnya rasa cemas ketika akan melakukan sesuatu pekerjaan kemudian dia merasa tidak berdaya untuk menghadapi tuntutan-tuntutannya.

Emotional burnout adalah tumpukan dari stress, terdengar sederhana namun emotional burnout ini sangat berbahaya, karena bisa mengganggu kita berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Emotional burnout ini bisa menyerang siapa saja dari berbagai usia, tapi dari penelitian (Cooper, dkk, 2001) ditemukan kalau yang paling banyak terserang emosional ini adalah pekerja yang berusia muda dibanding pekerja yang berusia tua. Profesi pelayanan (seperti guru, perawat ataupun ASN) menjadi profesi utama yang menyebabkan seseorang mengalami emotional burnout, karena profesi ini melibatkan tuntutan emosional setiap harinya.

Lalu bagaimana sih caranya kita bisa mengenali apa saja penyebab dari emotional burnout sehingga kita bisa tau sejauhmana kondisi kita dan bagaimana cara mengatasinya??

Ada banyak sekali faktor yang menjadi penyebab seseorang mengalami kondisi emotional burnout mulai dari faktor dalam individu sendiri, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan status perkawinan. Termasuk yang belum menikah lebih rentan mengalami emotional burnout lhoo… Kemudian faktor kepribadian seseorang (konsep diri yang rendah, individu yang terlalu insecure dan bahkan individu yang terlalu fleksibel atau sulit berkata tidak pada peran yang datang).

Selanjutnya faktor pekerjaan (seseorang yang terlalu banyak peran dalam bekerja terlalu terbeban dengan tanggungan kerja yang banyak dengan waktu yang singkat  atau seseorang yang belum menemukan peran dalam pekerjaan masih ambigu dengan apa yang harus dia kerjakan). Adapun penyebab terakhir adalah faktor organisasi (tekanan yang berat tanpa adanya dukungan baik itu dari diri sendiri, keluarga, teman dekat, atau dukungan dari kelompok yang lebih luas lagi menjadi faktor pemicu munculkan emotional burnout dalam seseorang).

Penyebab-penyebab tersebut jika tidak disikapi dengan tepat maka akan menimbulkan gejala emotional burnout seperti kehilangan energi, keletihan yang terus menerus, kebosanan disertai sikap apatis, lari dari kenyataan, merasa tidak dihargai, emosi yang semakin tidak stabil, peyangkalan terhadap kenyataan akan keadaan dirinya sendiri dan bahkan bisa menimbulkan psikosomatis. Lantas bagaimana kita mengatasi emosional burnout ini?

Baca Juga:
Telekonseling: Gangguan Psikosomatis di Tengah Pandemi

Pertama, ketika kita merasakan kelelahan secara fisik segerakan untuk mengambil teknik relaksasi atau bisa dengan refreshing untuk menghilangkan kepenatan sejenak dari rutinitas yang kita lakukan setiap harinya. Kedua, ketika emosi kita mulai tidak stabil maka berilah waktu untuk dirimu sendiri, karena ketika kita merasa lelah kita menjadi lebih gampang marah dengan hal-hal yang sepele sehingga kita sulit untuk berfikir positif.

Ketiga, ketika kita mulai merasakan semangat atau performance kita menurun maka segeralah memotivasi dirimu sendiri terlebih dahulu dengan prestasi yang telah kamu dapatkan sebelumnya. Terakhir, ketika kita merasa sangat lemah dan tidak berdaya lagi mulailah aktivitas dengan kegiatan yang bertemu dengan banyak orang dari sinilah kita akan menemukan semangat dari oranglain yang akan memberikan efek positif bagi kita sebagai langkah menghindarkan diri dari kondisi emotional burnout atau kelelahan yang berkepanjangan.