Kampusdesa.or.id — Broken Strings yang ditulis oleh Aurelie Moeremans menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat Indonesia. Telah dirilis pada 10 Oktober 2025, memoar ini berfokus pada pengalaman pribadi penulis sebagai korban child grooming. Kejadian ini dialami 15 tahun yang lalu saat ia masih berumur 15 tahun. Fenomena child grooming sangat rentan terjadi di lingkungan kita, terutama terjadi pada anak di bawah umur. Inilah yang menjadi alasan buku ini perlu dibedah melalui beberapa perspektif dan dijadikan kajian sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat.
Kampus Desa Indonesia berkolaborasi dengan komunitas Ruwang Buku dan Rumah Budaya Ratna menginisiasi kegiatan bedah buku “Broken Strings” dalam prespektif psikologi dan sastra. Kolaborasi ini mendatangkan 2 pakar, Yusuf Ratu Agung, Dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan M. Anwar Mas’adi, Dosen Fakultas Humaniora di kampus serupa. Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Budaya Ratna dan bersifat umum. Peserta yang hadir hampir dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, pekerja, aktivis literasi maupun aktivis sosial yang berada di kota Malang.

Psikologi dan Manipulasi Kekerasan
Dalam sudut pandang psikologi, Yusuf Ratu Agung menyampaikan bahwa “Child grooming sering tidak dimulai dari kekerasan yang kasat mata, melainkan dari gaslighting yang sangat subtil. Pelaku perlahan membuat korban meragukan perasaan, ingatan, dan penilaiannya sendiri. Setiap konflik dibalikkan seolah korban yang berlebihan, sensitif, atau selalu salah. Dalam jangka waktu tertentu, korban belajar untuk menyalahkan diri sendiri atas hampir semua hal dan mulai bergantung secara emosional pada pelaku sebagai satu-satunya sumber validasi dan kebenaran.”
Baca juga: KATI; Eduwisata Berbasis Kecerdasan Alam di Malang
Lebih lanjut lagi, Agung menekankan bahwa “Pada fase awal, hubungan kerap terasa sangat manis melalui love bombing perhatian intens, janji masa depan, dan rasa ‘dipilih secara istimewa’. Fase ini sering menutupi red flags penting, seperti pembatasan relasi dengan keluarga dan teman. Pada korban remaja, isolasi ini kerap tidak disadari sebagai bentuk kontrol karena dibingkai sebagai cinta, kecemburuan, atau kepedulian diterima tanpa kritis karena kondisi mabuk asmara.”
Dari sudut pandang psikologi, grooming meninggalkan trauma relasional yang kompleks. Korban mengalami kebingungan emosional, self-blame, denial terhadap kekerasan yang dialami, hingga bargaining berpikir bahwa jika ia berubah atau lebih sabar, relasi akan membaik. Proses ini bisa berlangsung bertahun-tahun dan baru disadari saat korban telah dewasa, sebagaimana yang dialami oleh Aurelie yang mulai memahami pola kekerasan tersebut di usia 30-an.
Relasi kuasa menjadi kunci utama pelaku memegang kendali atas keputusan, emosi, bahkan identitas korban.
Pelaku menguasai korban melalui isolasi sosial yang dibungkus dengan narasi “perlindungan”. Korban dibuat merasa aman, diperhatikan, dan dijaga, padahal secara bersamaan ia dikunci dari dunia luar. Relasi kuasa menjadi kunci utama pelaku memegang kendali atas keputusan, emosi, bahkan identitas korban. Perilaku yang tampak protektif ini menciptakan kebingungan psikologis korban sulit membedakan mana perhatian tulus dan mana manipulasi yang sengaja dirancang untuk mengontrol hidupnya.
Pemateri menekankan bahwa pemulihan tidak bisa dilepaskan dari proses self-love dan acceptance. Korban perlu menerima bahwa apa yang dialami bukan kesalahannya, serta belajar membangun ulang relasi yang sehat dengan diri sendiri. Buku Broken Strings hadir sebagai panduan reflektif untuk mengenali pola relasi toksik, membantu korban agar tidak mengulang siklus yang sama, sekaligus berperan sebagai media edukasi dan pencegahan melalui komunikasi yang terbuka dan sadar relasi kuasa.
Broken String dan Estetika Fragmentasi
Dalam sudut pandang sastra, Anwar Mas’adi menegaskan bahwa “Buku ini berfungsi sebagai alarm dini bagi orang tua dan lingkungan terdekat. Perubahan perilaku anak menjadi lebih tertutup, menjaga rahasia berlebihan, atau tiba-tiba menunjukkan kebencian terhadap keluarga bukan sekadar fase remaja yang wajar. Dalam konteks grooming, tanda-tanda ini sering kali merupakan hasil manipulasi psikologis yang disengaja.”
Melalui deskripsi sensorik yang detail, pembaca tidak hanya memahami trauma secara kognitif, tetapi juga merasakannya secara fisik: sesak, bingung, dan lelah.
Judul Senar Putus (Broken String) menjadi simbol runtuhnya identitas Aurelie selama fase grooming dari kepercayaan palsu, keterikatan emosional, hingga abuse yang berlapis. Metafora ini merepresentasikan bagaimana diri korban perlahan kehilangan ketegangan sehatnya, hingga akhirnya rapuh dan terputus. Melalui deskripsi sensorik yang detail, pembaca tidak hanya memahami trauma secara kognitif, tetapi juga merasakannya secara fisik: sesak, bingung, dan lelah. Pendekatan ini membuat trauma tidak sekadar diceritakan, tetapi dialami bersama pembaca.
Baca juga: Saweran dan Ekstase Panggung
Secara naratif, Broken String tidak selalu hadir sebagai cerita linear yang rapi. Potongan ingatan, emosi yang meloncat, dan repetisi tertentu justru mencerminkan cara trauma bekerja dalam ingatan korban. Dalam kajian sastra, ini disebut sebagai estetika fragmentasi di mana bentuk teks meniru kondisi batin tokohnya. Dengan begitu, trauma tidak hanya diceritakan, tetapi diwujudkan lewat struktur narasi. Buku ini mengajak orang tua untuk lebih peka, hadir tanpa menghakimi, dan membangun komunikasi yang aman agar anak tidak terjebak dalam relasi yang merusak tanpa disadari.

Sesi ngobrol santai ini ditutup dengan refleksi singkat yang disampaikan oleh Rektor Kampus Desa Indonesia, Mohammad Mahpur. Beliau menyampaikan bahwa narasi child grooming ini menyingkap bagaimana korban dikendalikan, bukan melalui paksaan yang kasat mata, melainkan lewat isolasi sosial yang dibungkus sebagai perhatian dan ilusi rasa dilindungi.
Manipulasi yang berlangsung terus-menerus membuat korban sulit mengenali kekerasan yang dialami, karena kontrol tampil sebagai kasih, dan dominasi menyamar sebagai perlindungan.
Relasi kuasa menjadi fondasi utama yang memungkinkan manipulasi psikologis bekerja secara efektif. Pelaku memposisikan diri sebagai satu-satunya sumber rasa aman, validasi, dan arah hidup, sementara akses korban terhadap keluarga, teman, dan realitas alternatif perlahan diputus. Dalam kondisi ini, korban mengalami kebingungan emosional yang mendalam antara merasa aman dan terkurung hingga daya kritisnya melemah dan ketergantungan terbentuk. Manipulasi yang berlangsung terus-menerus membuat korban sulit mengenali kekerasan yang dialami, karena kontrol tampil sebagai kasih, dan dominasi menyamar sebagai perlindungan.
Bagi generasi muda, buku ini menjadi edukasi yang penting, khususnya anak-anak dan remaja di bawah umur untuk selalu dan lebih berhati-hati serta meningkatkan kesadaran terhadap pola relasi yang tidak sehat. Pemahaman sejak dini membantu mereka mengenali tanda-tanda manipulasi, membedakan perhatian yang tulus dengan kontrol terselubung, serta berani menjaga batas diri dan mencari bantuan ketika merasa tidak aman. Kesadaran ini menjadi langkah awal pencegahan agar anak tidak mudah terjebak dalam relasi yang membahayakan.



