Literasi dan Kemajuan Bangsa

0
158
literasi, kemajuan bangsa
sumber gambar: edukasi.kompas.com

0Shares
0

Pernahkah kita berfikir ulang mengenai perintah pertama yang Tuhan berikan pada Nabi kita Muhammad SAW?, bukan syahadat, sholat, atau puasa melainkan membaca. Bahkan perintah membaca diulang sampai tiga kali. Dan perintah Tuhan yang paling banyak ditinggalkan saat ini adalah membaca. Padahal membaca merupakan fungsi paling penting dalam kehidupan seseorang. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, tingkat keberhasilan baik di sekolah ataupun di kehidupan masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik.

Kampusdesa.or.id–Keterampilan membaca adalah komponen paling penting dalam berbahasa. Semakin tinggi keterampilan siswa dalam membaca, semakin besar kemampuannya untuk berkembang ke bidang-bidang lain. Bahasa adalah thingking skill yang paling utama. Artinya jika kemampuan berbahasa kurang maka bidang lainnya pun akan tertinggal. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai dan mengembangkan kemampuan bahasanya ke tingkat bahasa ilmu pengetahuan. Jika tidak mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak-anak, maka mimpi untuk bisa menjadi bangsa yang besar tidak akan terwujud.

Namun jika kita telaah ke belakang, data dari United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan bahwa hingga akhir tahun 2008 terdapat 9.763.256 orang penduduk Indonesia atau 5,97%, penduduk usia 15 tahun ke atas yang masih buta aksara, sebagian besar 6.248.484 orang atau 7,51% adalah perempuan dan laki-laki 3.514.772 orang atau 4,27%. Hal ini yang menjadikan bangsa kita kalah bersaing dengan bangsa lain, bahkan Indonesia menduduki peringkat di bawah Vietnam dalam hal literasi.

Saat ini kita ketahui bersama bahwa menteri pendidikan mewajibkan kembali gerakan literasi di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan rendahnya kemampuan baca rakyat Indonesia selama beberapa dekade ke belakang.

Saat ini kita ketahui bersama bahwa menteri pendidikan mewajibkan kembali gerakan literasi di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan rendahnya kemampuan baca rakyat Indonesia selama beberapa dekade ke belakang. Jika kita memutar ulang sejarah, akan kita dapatkan bahwa masa pada saat Negara kita dalam penjajahan bangsa Belanda, setiap murid di sekolah-sekolah masih diwajibkan untuk menamatkan minimal 25 buah buku sastra dan menulisnya kembali dalam bentuk resensi. Pada saat itu jumlah buku sastra yang disediakan berlimpah. Sehingga tokoh-tokoh besar bangsa kita pada masa itu tidak asing dengan nama Shakspeare, Leo Tolstoy, Mh. Roesli, Amir Hamzah, dan lain-lain.

Dengan kewajiban menamatkan berbagai karya sastra tersebut kemudian menuliskan kembali resensi dari kisah yang dibaca, membantu mengembangakan kemampuan berbahasa dan menulis secara serempak. Di mana kita tahu bahwa kemampuan berbahasa sangat dibutuhkan dalam bermasyarakat. Dan kemampuan menulis sangat dibutuhkan dalam akademik. Di beberapa Negara lain, minat baca masyarakat terbilang tinggi, seperti di beberapa Negara di Eropa, siswa masih diwajibkan untuk menamatkan beberapa buku sastra per tahun, menelaah dan menuiskan kembali resensinya.

Dari latihan tersebut, kemampuan membaca, berbahasa dan menulis meningkat pesat. Hal ini berdampak pada bidang akademik, ketika tugas membuat jurnal menjadi sangat mudah diselesaikan oleh para siswa. Sementara di Indonesia, Chairil Anwar pernah menuliskan sebuah puisi yang menyindir kondisi negara kita yang nol buku. Maksudnya siswa di sekolah-sekolah di Indonesia sama sekali tidak diwajibkan untuk membaca sama sekali baik buku biasa apalagi buku sastra. Keadaan ini mengakibatkan rendahnya kemampuan baca tulis siswa kita.

Baca Juga:

Dari sejarah yang ada, bisa kita ketahui bahwa kewajiban membaca dihilangkan sejak tahun 1950 dimana pemerintah lebih mementingkan untuk meningkatkan infrastruktur daripada membeli buku untuk masyarakat. Dengan dalih karena Negara baru saja merdeka, maka dibutuhkan dana sangat besar untuk memperbaiki infrastruktur. Karenanya dana untuk buku dipangkas habis. Ini jelas kesalahan besar yang dilakukan pemerintah.

Seandainya pemerintah kita memahami pentingnya kemampuan baca dan tulis masyarakat berbanding lurus dengan kemajuan bangsa tentu kebijakan tersebut tidak akan dilakukan.

Seandainya pemerintah kita memahami pentingnya kemampuan baca dan tulis masyarakat berbanding lurus dengan kemajuan bangsa tentu kebijakan tersebut tidak akan dilakukan. Bahkan Nabi Muhammad SAW ketika perang Badar dimenangkan oleh kaum muslim kala itu, sebagai tebusan untuk para tahanan perang, Nabi tidak meminta tebusan uang yang bisa mencapai 1000 dinar, tetapi mewajibkan para tahanan untuk mengajari minimal 10 orang masyarakat muslim baca tulis untuk membayar kemerdekaan mereka.

Jadi bisa kita simpulkan bahwa harga orang yang mampu baca tulis sama dengan 1000 dinar emas. Karena kebijakan beliau, maka lahirlah para cendekiawan muslim yang mendunia dan karya-karyanya diakui dan dipakai sebagai panduan dalam berbagai disiplin ilmu. Seperti Ibnu Sina, Al- Khawarizm, Jabir Bin Hayyan, dan lain-lain.

Jika Nabi Muhammad SAW saja sangat mementingkan kemampuan baca tulis padahal beliau adalah seorang ummi, maka seharusnya kita sebagai umat dapat mencontoh tauladan beliau untuk meningkatkan kualitas diri dengan kemampuan membaca dan menulis.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan, bahwa apabila kita ingin berjuang menjadi bangsa yang besar, maka kita perlu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Untuk itu hal mendasar yang saat ini perlu dan harus dilakukan di antaranya menanamkan baca buku sejak balita, mewajibkan pembuatan satu karangan per minggu untuk siswa, menyelesaikan membaca buku sastra 10 buah per tahun kemudian membuat resensi buku tersebut, mewajibkan membaca ±840.000 kata per minggu, dan melengkapi koleksi buku sastra di perpustakaan.

Selanjutnya tergantung dari kita sendiri, apakah kita mau dan mampu untuk memupuk kembali minat baca kita, untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis kita agar nantinya dapat dihasilkan generasi yang melek baca tulis dan membawa bangsa kita menjadi bangsa yang besar. Semoga saja!