Hipokrisi dalam Penanganan Covid-19

3
299
Sumber: www.kompas.com

0Shares
0

Pandemi Covid-19 ternyata mampu memunculkan sisi gelap manusia Indonesia, seperti yang pernah disinggung Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat, yaitu hipokrit atau munafik. Manusia Indonesia yang terkenal berjiwa gotong-royong dan memiliki keterikatan sosial yang tinggi, di tengah krisis sekarang ini justru menampilkan diri sebagai makhluk yang mementingkan diri dan kelompoknya dibanding kepentingan umum.

Kampusdesa.or.id-Akhir-akhir ini jagad maya kembali dihebohkan dengan adanya penolakan sejumlah masyarakat terhadap pemakaman jenazah para korban Covid-19 dan juga penolakan terhadap tempat observasi dan penampungan sementara pemudik yang ada di daerahnya. Ketika saya memaklumkan bahwa Aula Sekolah Garasi siap dijadikan lokasi observasi saudara kita yang mudik dan pulkam (pulang kampung), timbul kegemparan laten atau tersembunyi dari masyarakat sekitar, dari wali siswa dan beberapa guru yang menentang.

Apalagi ketika ada tim survei dari gugus tugas kecamatan. Namun subhanallah walhamdulillah Gusti Allah menolong saya. Tim desa memilih lokasi lain yaitu di polindes, yang ada di kompleks balai desa, sehingga lebih mudah pengawasannya dan ya Allah, ada yang menyatakan jangan di sekolah saya, kasihan nanti akan mempengaruhi PPDB sekolah saya.

“Dengan berlindung di balik kontroversi semantik kata Mudik dan Pulang Kampung, masyarakat masih berduyun-duyun dari daerah satu ke daerah lain”

Kedua, kita bisa amati meskipun masyarakat tahu bahwa kunci penularan Covid-19 itu adalah human to human, karenanya pemutusan rantai penularan hanya bisa dicegah dengan pembatasan gerak individu dalam masyarakat. Pemerintah pusat maupun daerah telah sepakat menjalankan PSBB, namun bisa kita saksikan, dengan berlindung di balik kontroversi semantik kata Mudik dan Pulang Kampung, masyarakat masih berduyun-duyun dari daerah satu ke daerah lain, apakah itu namanya mudik, pulang kampung, kaum S3 (Setiap Sabtu Setor), mesti tahu bahwa hal itu berpotensi tinggi menularkan atau ditulari virus.

Saya lalu teringat semasa masih aktif sebagai peneliti, belum terlibat banyak kegiatan dan belum jadi anggota PLO. Sedikit banyak saya terengaruh pemikiran Prof. Sayogyo dan Prof. Mubyarto tentang sosiologi pedesaan. Pada akhir tahun 1980an saya meneliti tentang komitmen masyarakat terhadap gotong royong, dan hasilnya masyarakat terikat pada komitmen kesetiakawanan (loyalitas) yang tinggi terhadap masyarakat di sekitarnya, terutama di daerah pedesaan, baik di daerah Mataraman maupun daerah di daerah Maduran baik di pulau Madura maupun daerah tapal kuda di Jawa Timur.

Setelah itu saya meneliti gejala ini di tahun 1990an dari sisi yang berbeda, kesediaan untuk berbagi peran sosial. Saat itu saya tertarik bukunya Mochtar Lubis, Manusia Indonesia dan bukunya Koentjaraningrat tentang Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, yang memuat ciri-ciri manusia Indonesia. Salah satu ciri tersebut adalah hipokrit, alias munafiq dan suka menerabas.

Baca Juga: Seputar Virus Corona dalam Kacamata Sains-Agama

Saya dalam hal ini lebih suka menggunakan kata hipokrit sehingga kata itu saya gunakan dalam judul tulisan saya ini. Manusia Indonesia yang terkenal berjiwa gotong-royong dan memiliki keterikatan sosial yang tinggi, kok memiliki sikap yang mementingkan diri dan kelompoknya dibanding kepentingan umum, dalam hal ini menentang lokasi pemakaman dan penampungan penderita Covid-19 serta mengabaikan larangan pemerintah untuk eksodus dari satu daerah ke daerah lain. Saya lebih suka menggunakan kata eksodus atau ramai-ramai pindah dari satu tempat ke tempat lain, daripada istilah mudik atau pulkam, karena eksodus sudah menyangkut keduanya.

Saya saat itu meneliti isu kesetaraan gender yang sedang hangat diperbincangkan di awal tahun 1990an. Subyek penelitian kualitatif ini pria dewasa yang sudah kawin. Kesetaraan gender adalah hak wanita mulai dari memenuhi kebutuhan dasar sebagai wanita, hak untuk bekerja di sektor publik dan hak untuk menjadi pimpinan. Semua pendapat pria benar-benar 99% mendukung kesetaraan gender, namun dengan Kata-kata Kunci yang mengejutkan: “Asal_bukan_keluarga_saya.” Selama itu menyangkut wanita di luar keluarganya, hampir seluruh responden terbuka mendukung konsep kesetaraan gender. Tapi ketika itu menyangkut wanita dalam keluarganya, terutama istrinya maka jawabannya: “No Way”.

Lebih dari 80% responden tidak bisa menerima isterinya menempuh karir setinggi-tingginya di bidang pekerjaannya, terlalu banyak berada di luar rumah, apalagi menjadi pimpinan di tempat kerja suaminya dan memimpin dirinya. Dalam pengambilan keputusan keluarga juga hampir 80% tidak bisa menerima istri lebih banyak menentukan keputusan dalam kehidupan keluarganya. Dari hasil ini tampak ada hipokrisi sikap, secara normatif setuju, namun bila menyangkut kepentingan dirinya, maka tidak setuju.

Meskipun saya tidak melanjutkan studi secara longitudional tentang sikap masyarakat ini, jelas dengan gelaja-gejala yang saya kemukakan di awal tulisan ini; diam saat jenazah korban Covid-19 dimakamkan atau lokasi penampungan ada di daerah lain, dan bersuara lantang saat berkaitan langsung dengan kepentingan dirinya, tampaknya hipokrisi masyarakat ini semakin kuat.

“Manusia adalah mahluk yang unik. Ia adalah mahluk individual, mahluk sosial dan juga mahluk religius. Titik temu kordinat tiga aspek itulah yang menentukan kepribadian individu”

Manusia adalah mahluk yang unik. Ia adalah mahluk individual, mahluk sosial dan juga mahluk religius. Titik temu kordinat tiga aspek itulah yang menentukan kepribadian individu. Ada yang ketiga aspek itu seimbang, atau ekstrem ke salah satu titik kordinat saja, Namun yang benar-benar seimbang atau akstrem hanya mengarah ke salah satu dari tiga aspek juga jarang. Yang terbanyak punya kecenderungan ke arah salah satu saja.

Baca Juga: Pandemi Corona dan Teologi Fatalistik yang Fatal

Orang-orang yang lebih cenderung sebagai mahluk individual. Cenderung menolak pemakaman jenazah atau penggunaan daerahnya sebagai lokasi penampungan dengan berbagai alasan yang sering tidak masuk akal, meski sudah dijelaskan seilmiah, serasional dan seobyektif mungkin.

Kita juga bisa menyaksikan betapa Bunda Theresa menerjunkan dirinya di tengah masyarakat papa di India, yang berpenyakitan, bahkan banyak yang kritis menunggu ajal tiba tanpa takut dirinya tertular. Di negara kita, kita juga bisa melihat betapa Romo Mangun membina masyarakat Girli di Kali Code dengan melepas semua kepentingan pribadinya. Ini adalah contoh pribadi yang ekstrem sebagai mahluk sosial dan atau sekaligus mahluk religius. Juga ada pejuang-pejuang kemanusiaan dan kelestarian alam yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dana, bahkan sering juga nyawanya dalam membela hak-hak azasi manusia.

Kebanyakan orang menyimpan kecenderungan yang ada pada dirinya. Pernah dalam kuliah pada mahasiswa saya beri rambutan Binjai asli Blitar. Ada dua perilaku berbeda dari mereka. Saat rambutan itu dibagikan ramai-ramai, maka setiap individu itu akan cenderung mengambil dan memakan rambutan yang paling merah sementara kalau diberikan per mahasiswa sudah dalam paket sendiri-sendiri ada kecenderungan mereka memakan yang kurang baik lebih dulu dan yang terbaik akan dimakan terakhir, sebagai gong kata mereka.

“Sebenarnya dalam diri sebagian besar manusia itu cenderung sebagai mahluk individual yang lebih mementingkan dirinya sendiri”

Jadi, sebenarnya dalam diri sebagian besar manusia itu cenderung sebagai mahluk individual yang lebih mementingkan dirinya sendiri. Dalam situasi yang memungkinkan merangsang sikap egois itu muncul, maka akan mudah diletupkan dengan suatu tindakan provokatif. Itulah mengapa ada demo menentang lokasi pemakaman dan penampungan korban Covid-19.

Sebagian besar mereka sebenarnya tidak begitu paham tentang dampak Covid secara ilmiah, obyektif dan rasional. Namun begitu kepentingan-kepentingan mereka ini dipicu dan dipacu oleh provokator yang berkepentingan dengan isu itu, mereka mudah digerakkan. Itu hasil kuliah Psikologi Sosial yang dibina oleh dosen saya Eyang Mulyadi Guntur Waseso yang paling saya ingat.

Tentu saja sikap hipokrisi menyulitkan negara dan para pakar untuk menangani pemutusan mata rantai penularan Covid-19, meski telah dijelaskan secara gamblang, ilmiah dan rasional setiap hari di madia massa. Arus ke daerah lain dengan berlindung di balik berbagai nama masih berlangsung, warung-warung dan tempat berkumpulnya warga masyarakat masih dibuka dan petugas harus kucing-kucingan untuk mengatasinya.

Tindakan represif yang mengandung pemaksaan tidak akan efektif, selain semakin memenuhkan ruang penjara dan tahanan, terapi ini hanya menyentuh kulit-kulitnya, bukan pada core problem masalahnya. Perlu ada rekayasa sosial (social engineering) namun pertanyaanya, siapa yang bisa melakukannya?.

Teringat saat sekelompok tikus ketakutan menghadapi seekor kucing. Ada seekor tikus yang cerdas dan kreatif mengusulkan pemasangan giring-giring (klintingan) sebagai kalung di leher si kucing sehingga kedatangan si kucing bisa diketahui dari jauh. Semua setuju ide itu, namun masalahnya, tikus mana yang bersedia memasang kalung berkelintingan itu di leher kucing, karena semua tikus merasa ide itu baik, tapi jangan saya yang memasangnya.

Penghargaan yang setinggi-tingginya pada para pejuang pemberantas Covid-19, mulai dari sukwan, petugas keamanan, tenaga medis dan para medis yang lebih memenuhi panggilan jiwa daripada mementingkan diri sendiri, asal jangan saya.[]