Bacon, Perintis Empirisme

0
104

0Shares
0

Salah satu tokoh penting empirisme adalah Francis Bacon. Hidup sekitar tahun 1561 hingga 1626. Seorang filsuf Inggris. Salah satu tokoh modernisme awal. Pelopor gerakan empirisme, dimana empirisme

Kampusdesa.or.id-Francis Bacon merupakan salah satu tokoh modernisme awal. Dia adalah putra dari seorang pejabat pada masa pemerintahan Ratu Eilzabeth. Sempat mengenyam pendidikan di Cambridge. Ayahnya meninggal ketika dia berumur delapan belas tahun. Dalam sebuah riwayat, dia mempelajari hukum kemudian menjadi pengacara.

Karyanya yang terkenal adalah Novum Organum. Judul lengkapnya adalah Novum Organum, Sive Indicia Vera de Interpretatione Naturae (New Organon, or True Directions Concerning the Interpretation of Nature). Buku ini dipublikasikan pertama kali dalam bahasa Latin tertahun 1620.

Pikiran Seorang Bacon

Bagaimana membangun objektivitas? Bagaimana mendapatkan gambaran yang objektif terkait sebuah objek? Inilah pertanyaan yang berusaha dijawab oleh Bacon dengan filsafatnya. Secara sederhana, Bacon hendak mengajarkan bagaimana memperoleh pengetahuan yang objekif.

Bagi Bacon, ada semacam tembok penghalang yang berada antara objek dengan pengamat. Bacon menyebutnya dengan istilah “idols.” Yang bisa kita tafsirkan dengan kata “berhala”.

Berhala-berhala itulah yang menjadi penghalang antara pengamat dengan objek. Dia menyebutnya dengan berhala, karena entitas itulah yang menggerogoti objektifitas. Juga sulit untuk mengikis entitas ini.

Menurut Bacon, ada empat macam idols. Yakni, the Idols of Tribe,  the Idols of the Cave, the Idols of the Market Place, dan the Idols of the Theatre. Untuk mendapatkan perspektif yang objektif, keempat idols ini harus dimusnahkan.

Pertama, the Idols of Tribe. Ini semacam keajekan ilmiah. Sehingga merasa tidak perlu dipertanyakan lagi.  Adapun jika ada pengecualian, dianggap mukjizat. Tidak perlu dipelajari atau dipertanyakan. Pikiran semacam itu menjadi prasangka kolektif. Sehingga tidak perlu lagi dibongkar.

Kedua, the Idols of the Cave. Artinya, pengalaman, pengetahuan, minat, itu semua berpengaruh terhadap cara kita melihat objek. Sehingga, sangat mungkin kita akan terbawa pada perspektif yang biasa dan subjektif. Akibatnya, tidak ada objektifitas.

Ketiga, the Idols of the Market Place. Ini adalah pikiran yang mengacu pada keyakinan, atau juga ideologi. Sehingga, kerap kali otoritas religius berpengaruh pada penilaian kita pada objek. Atau bahkan, objek tersebut menjadi tidak teruji. Karena tertutup tameng religius.

Empat, the Idols of the Theatre. Saya pahami ini sebagai ortodoksi. Dimana sebuah pemikiran akan bernasib seperti teater. Menjadi populer, kemudian tamat ketika selesai dipentaskan. Karena pikiran semacam ini adalah refleksi subjektif para pemikir. Bukan objek yang tetap dan abadi.

Selain pikiran tentang idols, Bacon juga memperkenalkan metode induksi. Metode ini masih digunakan dewasa ini. Menurutnya, pengetahuan adalah akumulasi antara ide dan pengamatan. Di sini pentingnya pendekatan empiris dalam memperoleh pengetahuan.

Induksi bukan hanya generalisasi. Tapi bagaimana menemukan pola umum atau prinsip-prinsip umum dari objek yang diamati atau dari eksperimen-eksperiman yang dilakukan.

Memang, metode seperti ini telah digunakan sebelumnya. Namun, keberatan Bacon terletak pada ketergesa-gesaan dalam melakukan generalisasi.

Bagi Bacon, tidak perlu hipotesis dalam melakukan pengamatan. Di sini semangat empirisme begitu tampak pada Bacon. Ini yang membuat Bacon menuai kritik dari beberapa pemikir.

Refleksi Atas Bacon

Bacon adalah perintis empirisme. Itu jelas. Metode yang diajukan oleh Bacon menjadi salah satu fondasi ilmu pengetahuan modern. Di sini peran penting Bacon dalam tatanan ilmu pengetahuan.

Teori tentang idols yang diajukan oleh Bacon adalah teori yang sangat radikal dalam konteks ilmu pengetahuan. Ini menunjukkan keseriusan Bacon dalam memperoleh pengetahuan yang objektif.

Teori tentang idols dapat kita rumuskan secara sederhana dalam sebuah diktum, “tidak ada apapun yang lebih penting dalam ilmu pengetahuan selain objektifitas.” Dari situ, tampak idealisme Bacon begitu kuat dalam ilmu pengetahuan.

Tentang metode induksi yang diajukan. Bacon tampaknya mengabaikan deduksi. Bagi saya, pengabaian atas deduksi yang ditunjukkan oleh Bacon adalah simbol kemerdekaan ilmu pengetahuan. Tidak ada yang lebih agung dari kemerdekaan dalam ilmu pengetahuan.

Dalam metode yang diajukan juga tampak dedikasi Bacon terhadap ilmu pengetahuan. Yakni bagaimana mengedepankan kejujuran terhadap objek pengamatan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan harus menjunjung tinggi objektifitas. []