Solusi Islam untuk Problematika Pluralitas

0
112
Senior Tokoh Lintas Agama Malang

KEHIDUPAN memang tak akan pernah lepas dari keragaman. Karena memang kita diciptakan dalam keadaan beragam. Jangankan satu negara, dalam satu keluarga saja banyak terdapat keragaman. keragaman yang belakangan disebut sebagai pluralitas merupakan sunnatullah. Kita tak bisa menghindarinya atau meniadakannya. Justru dengan adanya pluralitas, dinamika kehidupan menjadi menarik dan penuh gairah.

Puralitas tidak menjadi masalah sepanjang tidak ada kepentingan-kepentingan untuk melakukan hegemoni antara satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Pluralitas juga tidak akan menjadi masalah sepanjang manusia dengan penuh kesadaran menerima dan mengakui perbedaan yang ada di sekitarya. Kesadaran ini disebut dengan pluralisme.

Pluralisme mutlak diperlukan dalam kehidupan berbangsa yang plural. Tanpa pluralisme, kehidupan berbangsa akan sangat rentan konflik horizontal. Golongan mayoritas akan semakin menekan minoritas. Sementara golongan minoritas semakin terpinggirkan, terisolasi dan termarjinalkan. Interaksi sosial pun menjadi selalu tegang karena adanya prasangka dan saling curiga. Akibatnya? Gampang ditebak, masyarakat menjadi terkotak-kotak menurut golongan masing-masing, masyarakat menjadi sensitif, fanatik, dan lahir kebencian membabi buta yang muaranya melahirkan kekerasan sara.

Ironisnya, belakangan ini umat Islam turut dan bahkan kerap menjadi aktor dalam fenomena ini. Serentetan peristiwa seperti penyerangan terhadap siswa SMA PIRI yang merupakan sekolah milik Gerakan Ahmadiyah Indoneia (GAI) di Yogyakarta karena dianggap sesat dan menyesatkan, perusakan gereja, teror bom (bom bali I, Bali II, JW. Marriot, Bom kuningan, dan sebagainya), ujaran kebencian dan saling hujat serta mendiskreditkan pihak-pihak tertentu menunjukkan rasa kepedulian, persaudaraan, dan toleransi umat Islam patut dipertanyakan. Hal ini tentu kontradiksi dengan konsep pluralitas dalam Islam, misalnya konsep peraudaraan atau ukhuwah.

Baik Al-Qur’an maupun hadits telah menegaskan bahwa umat manusia diciptakan dalam keragaman. Keragaman adalah rahmat Tuhan supaya manusia bisa saling mengenal, menjalin persaudaraan, dan tolong menolong. Bukan malah sebaliknya, saling menindas dan menguasai. Ukhuwah dalam Islam berperan untuk mengindahkan keragaman ini.

Terdapat empat level ukhuwah dalam Islam, yaitu ukhuwah nahdliyah, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariah. Ukhuwah nahdliyah adalah rasa persaudaraan karena kesamaan golongan. Ukhuwah Islamiyah adalah rasa persaudaraan karena kesamaan agama, yaitu Islam. Ukhuwah wathaniah adalah rasa persaudaraan karena kesamaan warga negara. Sementara ukhuwah basyariah adalah rasa persaudaraan atas dasar prinsip kemanusiaan.

KH. Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam ceramahnya di acara sewindu haul Gus Dur menyayangkan umat Islam sampai dengan saat ini masih berada di level ukhuwah nahdliyah. Yang hanya merasa bersaudara dengan mereka yang sepaham, sealiran, dan segolongan. Seharusnya, lanjut Gus Mus, umat Islam meneladani Gus Dur yang mampu mencapai level ukhuwah basyariah. Gus Dur dalam bergaul, menolong, berdialog dan beragam aktivitasnya didasarkan atas prinsip ukhuwah ini. Maka tak heran, sepeninggalnya, tidak hanya umat nahdliyin, umat Islam, dan orang Indonesia saja yang merasa kehilangan. Tapi mereka yang berbeda golongan, agama, dan negara turut berduka cita atas kepergiannya.

Seharusnya, lanjut Gus Mus, umat Islam meneladani Gus Dur yang mampu mencapai level ukhuwah basyariah. Gus Dur dalam bergaul, menolong, berdialog dan beragam aktivitasnya didasarkan atas prinsip ukhuwah ini.

Ukhuwah basyariah inilah yang hari ini diperlukan oleh umat Islam. Sebuah konsep persaudaraan yang tidak memandang manusia berdasarkan derajat sosialnya, golongannya, alirannya, agamanya, sukunya, dan negaranya. Melainkan memandang manusia berdasarkan kemanusiaannya. Ukhuwah basyariah menempatkan keragaman sebagai hak dan karakteritik khusus manusia. Sehingga harus dihormati, bukan untuk diberangus. Sebagaimana diajarkan dalam Islam, bahwa manusia memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Satu-satunya hal yang membedakan adalah kualitas keberagamaannya (ketakwaannya).

Semakin berkualitas keberagamaan seseorang, maka semakin mulia lah derajatnya. Maka dari itu, umat Islam diwajibkan untuk men-drive dirinya menuju ke arah itu. Konsep takwa secara sederhana dimaknai sebagai upaya untuk senantiasa menjalankan segala bentuk perinta Allah dengan penuh keikhlasan, kesadaran, dan kesabaran dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Orang yang mampu melakukan takwa ini berhak menyandang predikat Muttaqin. Dan sekali lagi, predikat ini adalah hak siapa saja, bukan hanya milik NU, Muhammdiyah, LDII, FPI, Ahmadiyah, Syi’ah, Wahabi, dan sebagainya.

Adapun indikator kadar ketakwaan sangat beragam, baik menurut Al-Qur’an maupun Hadits. Satu di antaranya adalah kepedulian sosial sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 177. Ketakwaan juga diukur dari bagaimana kemampuan seorang muslim dalam menahan amarah, sabar, dan memaafkan sesama.

Nah mari kita pertemukan kedua konsep ini, ukhuwah basyriah dan takwa dengan isu-isu kontemporer di tengah umat Islam hari ini. Patutkah sebagai manusia, apalagi muslm, saling menghujat satu sama lain, berbuat anarkis terhadap golongan lain, mendiskreditkan umat agama lain? Pantaskah umat dari agama yang penuh cinta kasih dan sayang menebar teror kepada umat lain?

Sekali lagi, pluralitas hendaklah dimaknai sebagai rahmat dan alat pemersatu. Bukannya pemecah belah persatuan. Umat Islam yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai “khairul ummah” haruslah mampu merepresentasikan kebesaran Islam sebagai agama cinta kasih dan rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here