Perempuan Dalam Pusaran Ekstremisme Islam (I)

0
169
Sumber foto : dw.com

Semakin hari, komodifikasi perempuan untuk gerakan radikalisme, ekstrimisme, dan pengantin bom bunuh diri atasnama agama mulai kentara. Bibit persemaiannya cukup beragam. Dari majlis taklim, testimoni media sosial melalui konten kebencian, turun jalan hingga bom bunuh diri. Sahdan, mengapa demikian? Apakah semua dibiarkan atau butuh prevensi sebelum para perempuan terjebak dalam komodifikasi?

Kampusdesa.or.id–Mei tahun lalu, publik seperti ditampar ketika mengetahui bahwa di antara pelaku pengeboman yang terjadi di tiga gereja di Surabaya adalah perempuan. Pemerintah, aparat keamanan, para pengamat, dan masyarakat umum seolah disadarkan bahwa ada gejala atau modus baru dalam aksi-aksi teror yang dilancarkan para jihadis. Modus tersebut adalah melibatkan perempuan di garis depan (front line) sebagai pengantin (istilah untuk pengebom bunuh diri).

Tidak hanya di Surabaya, bom panci yang terjadi di Jakarta Timur juga melibatkan perempuan. Berdasarkan laporan Direktur dari Rumah Kitab, Lies Marcus dalam acara workshop yang digelar oleh Pusat Studi Timur Tengah dan Perdamaian Global (PSTPG) FISIP UIN Jakarta (2017) penyerangan tersebut dirancang oleh perempuan.

Sebenarnya keterlibatan perempuan dalam pusaran ekstremisme bukanlah hal baru. Berbagai laporan menyebutkan bahwa perempuan memainkan beragam fungsi dalam gerakan ini sejak dulu. Misalnya laporan Maria Alvanou[i] (2007) yang dikutip Musdah Mulia menyebutkan beberapa fungsi yang dijalankan perempuan antara lain; informan, kurir, mata-mata, pendidik, perekrut, pelindung manusia (human shield), atau sekadar menjadi pemuas seks para jihadis.[ii]

Kasus bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya tahun lalu ini menunjukkan bahwa peran perempuan ternyata tidak sebatas apa yang dilaporkan oleh Maria Alvanou di atas. Melainkan telah meningkat perannya menjadi pengantin. Perempuan kini menjadi ‘senjata mematikan’ kaum jihadis yang lebih aman digunakan daripada laki-laki.

Perempuan tidak lagi memainkan peran domestik atau jihad shaghir (merawat keluarga dan menyiapkan logistik suami). Melainkan telah sejajar dengan laki-laki, yakni turut menjadi ‘syuhada’ dengan menjadi pelaku serangan.

Prof. Dr. Mufidah, M. Ag (kiri) sedang memberikan wawasan seputar tips mentransformasi dakwah damai bagi perempuan aktifis berpotensi ekstrimisme

Lalu bagaimana pola perekrutan perempuan hingga menjadi jihadis yang militan? Dalam kesempatan memberikan materi Pelatihan Penguatan Kapasitas Ulama Perempuan terhadap Isu Ekstremisme (22/7) yang dihelat AMAN dan Rahima di Hotel Pelangi, Malang, Mufidah Cholil, menjelaskan bahwa relasi gender patriarkhal memainkan peran siginifikan di sini.

Perempuan yang menjadi istri jihadis didoktrin bahwa menuruti peritah suami merupakan bentuk ketaatan yang imbalannya adalah surga. Selain itu, faktor lain adalah adanya iming-iming status sebagai istri dai/ustdaz yang gagah berani membela agama, fasilitas mewah. kurangnya daya kritis dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama.

Rendahnya posisi tawar tersebut menyebabkan perempuan mudah dipaksa untuk terlibat dalam aksi terorisme. Namun, masih menurut Mufidah, ada juga kasus dimana perempuan dengan sukarela menjadi pengebom. Hal ini terjadi terutama pada perempuan yang sudah melakukan internalisasi hikmah-hikmah yang ia petik dari posisinya sebagai istri kaum jihadis. Jika sudah sampai pada taraf ini, maka akan sangat sulit untuk diluruskan.[]

[i] Maria Alvanou, “Palestinian women suicide bombers: The interplaying effects of Islam, nationalism and honor culture,” Homeland Security Rev. 2 (2008): 1.

[ii] Siti Musdah Mulia, “Perempuan dalam Pusaran Fundamentalisme Islam,” MAARIF Journal 13, no. 2 (2018): 14–26.