Isi Raport Siswa Selalu Membosankan Apapun Kurikulumnya. Mengapa?

0
253

Laporan hasil belajar siswa seringkali hanya dilihat dari aspek kognisi. Aspek afeksi yang sejatinya justru mempunyai peran jauh lebih besar masih kerap dianaktirikan. Hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi kita semua, baik orang tua, pendidik, maupun lingkungan sekolah. Apalah arti nilai angka setinggi langit jika tidak diiringi dengan akhlak yang mulia?

KampusDesa–Saya diingatkan oleh facebook bahwa empat tahun lalu saya pernah menulis status facebook begini,

“Masih berharap dan sedang mencari sekolah formal yang bisa memberi apresiasi kepada kemampuan siswa dalam mengaplikasikan ilmunya di kehidupan nyata yang nampak pada cara berakhlak mulia kepada sesamanya dan berakhalak mulia kepada Sang Khaliq melalui semangatnya untuk senang beribadah sosial dan ritual yang benar dan tepat.

Klise, melihat raport siswa yang cuma begitu-begitu saja yang dilaporkan kepada orang tua. Ya tentang nilai mata pelajaran matematika, IPA, IPS, Fiqh, al-Quran, dan lain-lain. Demikian itu sebagai tolak ukur bagi siswa, bahwa ia peringkat sekian dari sekian siswa dalam kelasnya.

Belum saya temukan report siswa yang mendefinisikan peringkat kelas siswa dengan tolak ukur yang antara lain; ia yang gemar sholat dhuha, taat pada aturan sekolah, menghormati guru, menyayangi teman dan nilai-nilai moral lainnya.

Sehingga (mungkin) akhirnya masih banyak  moral-moral yang (sedikit) mengecewakan di masyarakat dan ternyata pelakunya include insan-insan yang dulunya rangking kelas.

Pendidik dan sekolah adalah salah satu tempat bersandarnya harapan orang tua agar anak-anaknya terdidik dan akhirnya menjadi makhluk-makhluk yang rohmatan lil ‘alamin.

Sadar betul, juga realistis tidak mudah menyusun instrumet penilaian semacam itu bagi para pendidik. Namun, menyadari bahwa pendidik dan sekolah adalah salah satu tempat bersandarnya harapan orang tua agar anak-anaknya terdidik dan akhirnya menjadi makhluk-makhluk yang rohmatan lil ‘alamin. Tidakkah instrument penilaian itu akan mudah disusun? Sekali lagi dengan mengingat, membayangkan tentang harapan orang tua yang disandarkan kepada pendidk dan sekolah.

Siswa-siswa itu memang sebagian besar waktunya di luar sekolah, lebih banyak di rumah dan lingkungan sekitarnya, tapi begitu hebatnya sekolah jika ia bisa memberi konstribusi besar terhadap kebaikan moral masyarakat dengan dimulai dari mengapresiasi ibadah sosial/ akhlak siswa juga ibadah ritual mereka dalam bentuk penilaian yang terukur dalam buku laporan siswa/ raport siswa”.

Tanggapan komentar dari akun atas nama Kentar Budhojo,

Pangkalnya dari orientasi kurikulum kita yang berbasis KKNI yang diimplementasikan dalam kurikulum berbasis kompetensi, membuat anak hanya seperti robot yang diperlukan dunia kerja, butuh kemampuan kerja yang terukur, yang kebanyakan hanya menyangkut pengetahuan (K3) dan kemampuan melakukan suatu kinerja standar (K4), sementara kaitannya dengan K1 (etika moral dan agama) dan K2 (kedewasaan dalam hidup bersosial di tengah manusia lain) kurang diperhatikan, atau malah tidak diperhatikan sama sekali.

Lalu saya tanggapi dalam komentar tersebut,

Pak, apa mungkin ya dunia kerja bisa diajak bekerjasama dalam hal ini, ya agar persyaratan untuk menjadi pegawai melalui proses penilaian ahlak, dan itu menjadi persyaratan utama?

Beliau menjawab,

karena “buruh” dianggap faktor produksi, atau lebih tepat “mesin produksi” yang penting kerja … kerja … kerja, tidak perlu akhlak karena menurut New Weberian … akhlak itu malah bisa menghambat kerja sebagai homo economicum.

Tanggapan saya,

Pak, berarti sistem pendidikan kita terjajah oleh gaya kapitalis? Orientasinya materi melulu. Padahal, materi juga akan mudah diperoleh dengan beretika yang baik. Kira-kira begitu?

Warna-warni kehidupan justru di hati bukan di otak.

Beliau yang menjabat dosen salah PTN di Malang ini membalas,

Panjenengan tidak merasakan? Standardisasi pendidikan menjadikan manusia kerja hanya untuk memenuhi standard yang kuantitatif, sementara itu pendidik yang mendidik dengan hatinya untuk menyentuh hati anak didiknya yang dilakukan dengan sepenuh hati dan dengan cara yang hati-hati semakin langka karena sistemnya dibuat semuanya serba otak, serba rasional, serba logis; yang berbasis feeling dikatakan cengeng; padahal warna-warni kehidupan justru di hati bukan di otak.

Selanjutnya ada komentar dari akun atas nama Isa Ansori yang profilnya menjelaskan bahwa beliau anggota dewan pendidikan Jawa Timur. Berikut ini komentarnya,

Itu kembali kepada gurunya apakah didalam membuat indikator penilaian memasukkan variabel variabel moral dalam penilaiannya, kebanyakan guru kita dalam penilaiannya hanya melihat faktor kognisi lupa di sisi afeksi, apalagi gak pernah ada guru membuat indikator yang memuat capaian afeksi, monggo dimulai dari kita sendiri dengan membuat RPP yang partisipatif sehingga indikator afeksi juga bisa kita buat sebagai pijakan penilaian.

Dan dilanjutkan komentar beliau berikutnya setelah mendapatkan komentar balasan dari Pak Kentar Budhojo,

Karena tuntutannya seperti itu mas Isa Ansori Motivator Pendidikan.

Guru adalah profesi mulia seperti profesinya para nabi, jadi guru harus pandai pandai menyelipkan kebenaran dan ideologi pendidikan yang menjadikan murid bermartabat dan bertanggung jawab.

Jawab Pak Isa Ansori,

Inggih bapak Kentar Budhojo, tapi sebetulnya ruang kelas itu kalau dipahami sebagai ladang jihad, maka guru tidak boleh seratus persen mengikuti aturan yang tidak baik dalam penilaian, guru adalah profesi mulia seperti profesinya para nabi, jadi guru harus pandai pandai menyelipkan kebenaran dan ideologi pendidikan yang menjadikan murid bermartabat dan bertanggung jawab, saya masih berkeyakinan kalau murid dilibatkan dalam proses perencanaan pembelajaran maka dia akan menjadi anak yang bertanggung jawab.

Nah, sampai sekarangpun tetap demikiankan? Raport siswa yang diterimakan tiap akhir semester, meskipun berorientasi pada pendidikan karakter ada KI-1 sebagai pengejawantahan nilai moral, tetap rasanya garing tidak berdampak kepada hasil laku yang berubah secara signifikan.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah