Tiga Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Ghazali

0
375
Tiga Tingkatan Orang Berpuasa

0Shares
0

Alangkah ruginya orang yang puasa jika dari puasanya itu ia hanya mendapatkan lapar saja, hanya gara-gara kita tidak disiplin dalam mengimplimentasikan puasa itu sendiri. Kita berpuasa, tadarus, tarawih, dan ibadah sunnah lain di bulan suci Ramadhan. Namun mulut kita sering mengecewakan orang lain, tulisan tangan kita di media sosial acapkali guyonan saja tanpa nutrisi ilmu yang menggores hati para pembaca.

Kampusdesa.or.id–Jumat pagi (24/04) kemarin penulis ditelfon oleh pihak takmir masjid al-Hidayah untuk menjadi Khotib Jum’at. Karena pihak yang berkewajiban berhalangan hadir, akhirnya penulis diminta menjadi badal (pengganti) nya.

Karena hari ini, hari perdana umat Islam mengawali ibadah bulan suci Ramadhan, penulis mengutip sebuah firman Allah SWT.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS.al-Baqarah:183)

Mari kita cermati ayat di atas. Dalam ayat tersebut Allah menyeru orang beriman saja, bukan seluruh manusia. Jadi siapapun yang merasa dirinya beriman maka ia wajib memperhatikan seruan tersebut.

Sungguh aneh, manakala ada oknum politisi tertentu meminta kepada MUI dan organisasi keagamaan untuk mengeluarkan fatwa agar tidak usah berpuasa di tengah merebaknya wabah Covid-19.

Sungguh aneh, manakala ada oknum politisi tertentu meminta kepada MUI dan organisasi keagamaan untuk mengeluarkan fatwa agar tidak usah berpuasa di tengah merebaknya wabah Covid-19.

Ada tiga tingkatan puasa menurut Hujjatul Islam al-Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin nya,

Pertama, puasanya orang kebanyakan yaitu hanya menahan dari makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari.

Tingkatan kedua adalah puasanya orang khusus. Dalam konteks ini, yang puasa tidak hanya mulut an sich namun juga seluruh anggota badan mulai dari mata berpuasa dengan melihat sesuatu yang diharamkan, telinga berpuasa dari mendengar gosip yang tidak jelas, mata berpuasa dari pandangan yang dilarang, tangan berpuasa dari tulisan status yang membuat resah orang lain.

Dan tingkatan ketiga adalah puasanya orang yang paling khusus (VVIP). Inilah puasanya para Nabi dan para Shiddiqin. Mereka bukan hanya mulut dan tubuhnya yang berpuasa, namun hatinya juga berpuasa dari sifat dengki, iri hati, takabbur, dan lain sebagainya.

Dari paparan di atas kita bisa memberikan asessment kepada kualitas puasa kita selama ini, apakah puasa kita termasuk kategori puasanya orang awam, puasanya VIP, atau puasanya kelas VVIP.

Ada satu penggalan hadits yang perlu kita renungkan,

Berapa banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya melainkan rasa lapar….“(HR. Ahmad)

Alangkah ruginya orang yang puasa jika dari puasanya itu ia hanya mendapatkan lapar saja, hanya gara-gara kita tidak disiplin dalam mengimplimentasikan puasa itu sendiri. Kita berpuasa, tadarus, tarawih, dan ibadah sunnah lain di bulan suci Ramadhan. Namun mulut kita sering mengecewakan orang lain, tulisan tangan kita di media sosial acapkali guyonan saja tanpa nutrisi ilmu yang menggores hati para pembaca.