Tentang Dua Orang Pegiat Gusdurian dari Jendela Sosiologi

Penulis : Wasis Sasmito. Mantan aktifis era 90an dan seorang aktor lingkungan sekaligus pecinta buku-buku kiri. Penasihat Gusdurian Malang yang selalu membantu para kader Penggerak untuk belajar lebih baik

1
594

0Shares
0

Psikologi penggerak toleransi adalah proses in-group dan outgroup. Saat belum menjadi bagian dari Gusdurian pencarian teman se-visi menentukan kemampuan seseorang menjadi pribadi tolerans dan damai. Dua sosok Kristian dan Muslim pada akhirnya mampu bergerak dari keberagamaan yang monologis menjadi dialogis. Sebuah komentar dari Wasis Sasmito terhadap buku Saiful Haq berjudul “Tak Seiman, Tapi Sejalan,” menjelaskan bagaimana kedua sosok itu berproses menjadi aktifis lintas agama tetapi tetap matang secara aqidah.

KampusDesa–Buku yang bersumber dari sebuah skripsi ini berangkat dari pertanyaan dasar bagaimana proses dua orang yang memiliki motivasi berbeda saat dengan sadar bergabung dalam ‘imagined group” yang disebut komunitas GusDurian Malang.

Catatan pertamaku, buku yang memang berangkat dari disiplin ilmu psikologi ini, diberi kata pengantar oleh dua orang dengan background akademis yang sama: psikologi juga. Satu sisi, terkesan terasa tepat dan menjadi pas ulasan-ulasan yang muncul.

Tetapi, di sisi lain, (mungkin) memberikan dampak munculnya persepsi bahwa buku ini hanya akan bisa ‘dikunyah’ dengan baik jika dilihat dari perspektif psikologi, sukur-sukur oleh orang dengan background disiplin ilmu psikologi.

Moga lontaran persepsiku di atas hanya sebatas kekuatiran subyektifku.

Padahal, paparan yang dibuat oleh Saiful Haq atas dua kawan pegiat Gusdurian Malang (keduanya aku kenal dengan baik), bisa dilihat dan diulas dari sudut pemahaman tentang kelompok sosial, lebih spesifik pada proses munculnya in-group dan out-group oleh dua pegiat Gusdurian Malang tersebut.

Dika memutuskan untuk mencari info tentang apa dan siapa Gusdurian Malang, adalah proses identifikasi sosial oleh Dika. Dan ketika Dika merasa nyaman dan banyak kesesuaian kepentingan dan harapan, maka proses internalisasi identitas kelompok pun terjadi.

Bagaimana Dika memutuskan untuk mencari info tentang apa dan siapa Gusdurian Malang, adalah proses identifikasi sosial oleh Dika. Dan ketika Dika merasa nyaman dan banyak kesesuaian kepentingan dan harapan, maka proses internalisasi identitas kelompok pun terjadi.

Selanjutnya, Dika mengidentikkan dirinya sebagai bagian dari kelompok sosial tersebut.

Sembilan nilai Gus Durian, dalam batas tertentu adalah unsur utama yang menjadi pembeda dengan kelompok sosial yang lain. Juga, sebagai sumber nilai dan norma yang disepakati para individu di dalamnya, oleh karena itu dipelihara dan terefleksikan dalam perilaku dan aktifitas para individu yang ada di dalamnya.

Kelompok sosial, bisa diartikan sebagai himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama karena saling berhubungan di antara mereka secara timbal balik dan saling memengaruhi.

Sementara in-group, secara sederhana bisa dimaknai sebagai kelompok sosial di mana individu-individu mengidentifikasikan dirinya. Sementara out-group bisa dipahami sebagai semua kelompok sosial yang ada, dimana seorang individu tidak merasa menjadi bagian darinya.

Baca juga : Tak seiman, tapi sejalan; perjalanan psikologis Gusdurian

Meski harus diakui, pilihan in-group dan out-group ini memiliki potensi penyederhanaan yang menghilangkan unsur-unsur penting dalam interaksi sosial. Tetapi, cukup menarik untuk melihat lebih rinci bagaimana individu-individu menempatkan Jaringan Gus Durian sebagai ‘imagined community’-nya. Paparan tentang pilihan-pilihan aktifitas dua pegiat Gusdurian Malang yang dibahas oleh penulis, memberi ruang tafsir yang cukup besar dari sisi sebagai proses interaksi sosial; interaksi antar individu dalam kelompok, interaksi antar individu yang berbeda kelompok, serta dinamika interaksi antar kelompok sosial.

Sungguh akan menarik jika ada peluang membedah buku ini dari sisi sosiologi maupun antropologi. Sehingga akan memperkaya spektrum sebaran pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Baca tulisan selengkapnya di facebook Wasis Sasmito

Kottablater, 13 Des 2018

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here