Salah Kaprah Hari Bumi

0
183
Gambar google doodle earth day 2020

0Shares
0

Semoga kita mulai sadar, kita ini hidup di bumi seharusnya kita juga tetap membumi. Bukan malah manfaat bumi seenaknya dan serakah. Tanpa ingat bahwa bumi adalah satu-satunya rumah kita yang harus kita rawat dan jaga, untuk generasi saat ini dan keberlangsungan kehidupan yang kita wariskan kepada anak cucu di masa mendatang.

Kampusdesa.or.id–Hari Bumi, apakah hari ini hari ulang tahun bumi? Tentu saja tidak. Berdasarkan situs National Geographic Indonesia, peringatan Hari Bumi berawal di Amerika Serikat pada tahun 1970 ketika kota-kota besar di hampir seluruh negara bagian Amerika Serikat sedang dilingkupi asap tebal yang menyesakkan dan air sungai banyak dicemari limbah beracun. Perayaan awal ini memusatkan perhatian pada isu lingkungan hidup yang mengusik kelestarian planet serta berimbas pada kesehatan manusia. Menurut Kathleen Rogers dari Earth Day Network, 22 April 1970 ditetapkan menjadi Hari Bumi karena alasan waktu yang ideal. Musim semi jatuh di bulan April itu, hingga cocok bagi pelajar untuk mendapatkan pendidikan tentang lingkungan.

Begitu halnya yang dilakukan oleh berbagai ormas, lembaga pemerintah, sekolah, maupun kampus-kampus saat memperingati Hari Bumi (Earth Day) ini. Mayoritas melakukan edukasi dan kampanye pentingnya menjaga lingkungan, hari tanpa asap kendaran dan asap rokok, aksi demontrasi terhadap kebijakan yang tidak pro lingkungan, memasang atau menyebarkan selebaran larangan membuang sampah sembarangan, illegal logging, dan penggunaan kantong plastik single use, dan lain sebagainya.

Saat dulu masih mahasiswa, saya cukup aktif di kegiatan serupa. Namun belakangan ini saya menilai peringatan Hari Bumi tampak menjadi “salah kaprah”. Di mana setelah Hari Bumi lewat, semua manusia di bumi melakukan rutinitas seperti sedia kala. Tanpa berpikir efek baik buruknya terhadap bumi yang kita huni ini. Malah cenderung tidak memperhatikan dampak negatifnya bagi lingkungan. Baik itu tanah yang kita pijak, air sebagai sumber kehidupan, dan udara tempat oksigen untuk bernafas.

Namun berapa sampah yang telah kita buang, ekploitasi sumber daya alam secara berlebihan, mengeruk bumi demi mencari minyak dan barang tambang, pohon-pohon tumbang ditebang sembarangan, kebakaran hutan, kekeringan, perburuan satwa liar untuk diperdagangkan, air tercemar dari limbah industri dan sampah rumah tangga mengambang, serta asap mengepul menambah kotor udara menjadikan lapisan ozon berlubang.

Kenapa manusia lalai dan seperti tidak peduli. Kebanyakan dari kita cenderung memperbaiki atau mengobati daripada melakukan pencegahan dini. Andai program peremajaan lingkungan tidak hanya dilakukan pada saat peringatan hari bumi, tapi seyogyanya diterapkan setiap hari. Pasti tidak ada lagi yang namanya bencana longsor, banjir, kekurangan air bersih, udara kotor akibat polusi.

Kenapa manusia lalai dan seperti tidak peduli. Kebanyakan dari kita cenderung memperbaiki atau mengobati daripada melakukan pencegahan dini. Andai program peremajaan lingkungan tidak hanya dilakukan pada saat peringatan hari bumi, tapi seyogyanya diterapkan setiap hari. Pasti tidak ada lagi yang namanya bencana longsor, banjir, kekurangan air bersih, udara kotor akibat polusi.

Bumi kita sudah semakin tua dan rapuh. Tanpa kepedulian kita semua, maka umur bumi ini akan semakin pendek. Kerusakan lingkungan banyak terjadi di sana-sini. Hal ini tidak terlepas dari akibat ulah manusia sehingga bumi semakin hari semain rusak. Apakah kondisi ini memang sudah menjadi tabiat manusia yang sudah di-nash (tercantum) dalam QS. ar-Rum ayat 42, yang artinya “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali.

Lebih ekstrimnya lagi terjadi pemanasan global dan pergeseran musim yang melanda dunia serta bencana besar lainnya merupakan efek dari kecerobohan manusia dalam mengelola lingkungannya. Semoga kita mulai sadar, kita ini hidup di bumi seharusnya kita juga tetap membumi. Bukan malah manfaat bumi seenaknya dan serakah. Tanpa ingat bahwa bumi adalah satu-satunya rumah kita yang harus kita rawat dan jaga, untuk generasi saat ini dan keberlangsungan kehidupan yang kita wariskan kepada anak cucu di masa mendatang.