Rahasia Menghadapi Sesuatu Di luar Dugaan

1
705

0Shares
0

Setiap manusia tentu mempunyai harapan agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Namun demikian, terkadang harapan tersebut terhenti sejenak karena adanya sesuatu di luar dugaan. Tidak mudah memang menyelesaikan masalah yang tiba-tiba hadir tanpa permisi. Apalagi jika kita tidak mempunyai cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada. Di sinilah pentingnya sebuah ‘cara’ untuk menghadapi berbagai hal di luar prediksi kita.

KampusDesa–Menjadi manusia saja sudah multifungsi, bisa menulis, membaca, melihat dan mendengar, apalagi dengan berbagai amanah. Bertakdir menjadi seorang perawat fungsional adalah amanah kesekian yang diemban. Mengapa? Sebab ada amanah yang lebih dulu tuntas. Seperti dahulu bagaimana menjadi anak yang baik dan berbakti.

Jika bukan panggilan jiwa, mungkin sulit sekali diri ini berdamai untuk menerima kodrat sebagai perawat.

Bicara soal perawat, tentu berkaitan dengan karir dan ke-profesional-an. Banyak yang menginginkan karir menjadi perawat, padahal menjadi perawat itu bukan hal yang mudah. Kalau bukan petinggi rasanya sulit sekali untuk merawat dengan tulus, apalagi hampir semua yang masuk ke rumah sakit sedikit yang pakai umum. Memang sih, yang kita kepoin adalah riwayat penyakit, pola hidup sehatnya dan semua hal yang berkaitan dengan kesehatan. Tetapi, jika bukan panggilan jiwa, mungkin sulit sekali diri ini berdamai untuk menerima kodrat sebagai perawat.

Problematika yang dihadapi tidak lain adalah dari diri sendiri, bagaimana kita bisa tetap semangat, tumbuh, menebar kebaikan dan kebermanfaatan dengan berada di posisi sebagai perawat fungsional. Simpelnya menempatkan diri pada posisinya. Jika di tempat dinas sebagai seorang perawat atau tenaga kesehatan, lain halnya di rumah yang menjadi suami atau istri, ayah atau ibu, mertua atau menantu, dan sebagainya.

Belum lagi beberapa hal yang timbul dari lingkungan. Seringkali dihadapi dengan berbagai stressor dari luar berupa kemacetan, misalnya. Bisa juga internal, yang mana ada kesenjangan dalam hubungan keluarga sendiri. Tetapi, ketika segaram itu dikenakan dan melekat dengan kulit, kita bisa apa? Selain menerima kenyataan, menghadapi dan berusaha meninggalkan beban yang dipikul dengan mengenal dan menempatkan diri pada amanah yang telah menanti di depan mata, seperti tugas perawat misalnya.

Andai rasa sabar dan syukur hilang, mungkin hidup ini telah berlalu bagai sembilu yang membunuh.

Tidak jarang tubuh merasakan lelah yang amat sangat karena pekerjaan rumah yang tak pernah usai. Belum lagi dengan berbagai sikap orang lain, yang memberikan respon tak diinginkan. Padahal, susah payah bagun dini hari agar keluarga dapat terurus lagi terawat sebelum merawat pasien. Namun, inilah realita hidup yang sesungguhnya. Andai rasa sabar dan syukur hilang, mungkin hidup ini telah berlalu bagai sembilu yang membunuh.

Perawat. Dunia perawat mengurusi manusia, menuntut jiwa besar menghadapi orang lain

Sebetulnya, tidak ada orang yang benar-benar senang dengan perubahan dan pepisahan. Walaupun memang, dari perpisahan mengundang pertemuan baru dan dari perubahan menghasilkan gagasan baru. Tapi, tetap saja rasanya berat jika legowo itu sempit. Untunglah bibir masih dapat tersenyum, menerima pasien baru dengan tangan lebat yang siap membantu dan merawat.

Meskipun senyum itu mudah, akan menjadi sulit jika terpaksa. Penting sekali menanamkan dan terus memupuk rasa sabar lagi ikhlas. Bukan hanya itu, banyak teman sejawat yang menjawab dengan berbagai variasi saat ditanya bagaimana rasanya jaga dengan bed full atau kosong sebagian?

“Enakkan full, jadi nggak ribet buat nerima pasien masuk,” atau ada juga yang menjawab, “Gapapa sih kosong, kan kerjaannya lebih ringan,” dan ada pula yang membuatku bingung dengan jawabannya, “Full bed boleh asalkan semua pasien berada ditarap partial care, jadi walaupun capek, nggak sampai ribet. Pun kalau sebagian kosong atau hanya ada beberapa pasien dengan total care, tidak masalah.”

Ternyata banyak cara pandang yang didapat dengan berbagai pendapat. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah memilah dan memilih pendapat yang paling relevan dengan diri kita. Maha Baik Tuhan yang senantiasa menyajikan sebuah cara untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada. Maka, bersyukurlah, tersenyumlah dan bersabarlah. Karena balasan untuknya adalah surga. Sungguh tiada yang sia-sia jika kita menumpahkan segala keluh kesah kepada-Nya.

أُوْلَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا

“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka.” (QS.al-Furqan:75).

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here