Sebuah Pesan untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ‘Masa Kini’

0
677

0Shares
0

Istilah guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa kini telah beralih untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Seiring dengan berkembangnya zaman, makna dari seorang guru seolah tidak lagi sesakral dahulu kala. Kian lama makna keikhlasan seorang ‘guru’ telah terkikis oleh waktu. Fenomena dekadensi moral pun tidak bisa dipungkiri telah menjamur di berbagai sudut kota. Lalu, benarkah jika hal ini terus berlarut-larut?

KampusDesa–Coretan berikut ini tidak bermaksud menyudutkan apalagi mendiskreditkan pendidik atau guru. Coretan ini hanya bertujuan sebagai bahan introspeksi diri saja. Agar sebagai agent of change, guru dapat terus meningkatkan kualitasnya.

Kerap kali terucap bahwa hasil pendidikan karakter generasi lampau lebih baik dibandingkan dengan hari ini.

Setiap pembicaraan mengenai pendidikan karakter, hampir selalu ada pembandingan antar-output pendidikan lintas generasi. Hasilnya, kerap kali terucap bahwa hasil pendidikan karakter generasi lampau lebih baik dibandingkan dengan hari ini. Padahal dari segi modernitas, kalah jauh.

Mengamini pendapat ini, muncullah gagasan untuk mengembalikan paradigma pendidikan ke masa lampau. Karena memang sudah terbukti dan teruji mampu menghasilkan manusia-manusia yang berkarakter kuat, memiliki skill matang, dan mampu berperan dalam kehidupan di masyarakat.

Pada titik ekstrimnya, ada yang mengatakan sistem pendidikan kita telah gagal. Semakin modern tatanan sistem pendidikan nasional, ternyata tidak cukup efektif menghasilkan output sebagaimana pendidikan masa lampau. Hal ini lalu dikaitkan dengan fenomena dekadensi moral yang menjangkiti generasi muda saat ini.

Benarkah anggapan demikian bisa diterima?

Tentu untuk membuktikannya dibutuhkan kajian mendalam dan menyeluruh. Namun sebenarnya secara sederhana dapat kita telisik mengapa para pendidik generasi lalu sukses dalam menanamkan karakter kepada murid-muridnya.

Tidak hanya mendo’akan, seorang guru juga melakukan tirakat untuk murid-muridnya.

Ada beberapa faktor yang saling berresonansi mewujudkan hal tersebut, satu di antaranya adalah keikhlasan pendidik untuk mendo’akan muridnya. Bahkan tidak hanya mendo’akan, mereka juga melakukan tirakat untuk murid-muridnya. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa do’alah yang akan menjadi washilah turunnya ridlo Allah SWT. Sehingga apa yang dipelajari oleh para murid dapat menjadi ilmu yang bermanfaat.

Barangkali hal sederhana inilah yang luput dari pengamatan kita. Seiring berkembangnya zaman, banyak orientasi hidup yang telah bergeser. Termasuk orientasi dalam mendidik. Dijadikannya guru sebagai profesi dengan berbagai derivasi kebijakan yang menyertainya di satu sisi ternyata melahirkan masalah baru. Keikhlasan dan ketulusan guru dalam mendidik menjadi terdegradasi.

Berbeda dengan zaman dahulu, kini tujuan utama menjadi guru telah bergeser untuk mendapatkan penghasilan.

Tujuan utama menjadi guru tidak lagi semata-mata untuk mengamalkan ilmu dan mendidik manusia. Namun telah bergeser untuk mendapatkan penghasilan. Sungguh pun hal ini sah-sah saja, mengingat konstitusi dan sistem pendidikan nasional juga mengamini. Namun ternyata telah menimbulkan dampak yang tidak sederhana.

Orientasi yang demikian akan menggiring guru melupakan tugas esensialnya sebagai pendidik. Mereka akan disibukkan oleh hal-hal administratif yang menjadi syarat utama kenaikan pangkat dan peningkatan kesejahteraan. Akibatnya, pembelajaran menjadi sambilan. Murid tidak terpenuhi hak-haknya.

Mirisnya, jika terjadi kenakalan atau perilaku menyimpang dari murid, semua sibuk mencari kambing hitam. Termasuk mengkambinghitamkan murid sendiri. Meski tidak menampik bahwa individu murid juga menjadi faktor terjadinya kenakalan dan perilaku menyimpang. Namun guru sebagai role model bagi murid tetap akan menjadi pihak yang paling disudutkan.

Akhirnya, mewujudkan generasi yang berkarakter kuat dan berbudi luhur tidaklah cukup hanya dengan konsep dan sistem pendidikan yang modern. Aspek spiritual berupa keikhlasan dan do’a dari para pendidik juga sangat diperlukan.

Omahe Mbah Alim, 02 Februari 2019

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here