Perjalan dan Sosok Dibalik Ojo Leren Dadi Wong Apik dan Konvensi Pendidikan

0
165

0Shares
0

Ojo Leren Dadi Wong Apik (OLDWA), bisa dibilang orang gila. Mereka membuat terobosan untuk membangun kesadaran baru mengenai pendidikan yang memanusiakan. Kesadaran kolektif yang memantik lahirnya sebuah konvensi, bisa dibilang marjinal. Eh, maksudnya konvensi tanpa dasi. Pertemuan yang mengompilasi pemikiran-pemikiran alternatif untuk mengembangkan pendidikan yang terjerat sistem kuasa dan politik hegemonik. Entah sebutan ini terlalu kasar atau upaya membangun ruang merdeka, bahwa pendidikan masih butuh transformasi menuju pendidikan yang memanusiakan. Siapa toh mereka ini?

Kampusdesa.or.id–Banyak yang mempertanyakan hal-hal aneh di Konvensi Pendidikan VIII di Sekolah Rakyat Petung Ulung Nganjuk kemarin, Ada yang heran kok bisa seramai itu dan betapa banyak terjadi saling berbagi ilmu. Namanya juga aneh-aneh, ada OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik), ada kata Konvensi, ada Sekolah Rakyat dan sebagainya.

Apa itu OLDWA, apa kumpulannya orang-orang tua karena ada OLD? Namun yang hadir kok ya banyak yang belum tua?

Apa itu Konvensi, kan biasanya konvensi itu dihadiri tokoh-tokoh dengan berjas dan berdasi dan tempatnya di hotel mewah di kota? Lha ini kok yang datang kayak mau buwuh ke kemanten aza? Apa hanya karena ingin terkenal menggunakan kata Konvensi?

Apa itu Sekolah Rakyat? Bukankah sekarang sudah diganti dengan Sekolah Dasar (SD). Apa ini ada kaitannya dengan program partai tertentu?

Dalam kesempatan ini saya akan mencoba menjawabnya, namun belum semuanya.

Peristiwa ini berawal pada suatu hari di tahun 2013, ingat saya bulan September 2013, ada beberapa orang duduk-duduk di kantin di belakang Kantor Dinas Pendidikan di Jagir Surabaya. Ada mas Totok Isnanto, ada mas Hardjito, ada om Thomas Muda dan saya hanya membersamai sarapan siang saat itu. Mas Totok Isnanto saat itu Kasi PAUD Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, sedang mas Hardjito dan mas Thomas Muda adalah stafnya mas Totok Isnanto.

Keempatnya adalah sahabat akrab saya, saat masih di Kanwil Departemen Pendidikan Jawa Timur, nama kantor semasa masih belum otonomi daerah dan Mas Totok Isnanto serta mas Hardjito adalah pegawai di bagian Pendidikan Masyarakat, sementara oom Thomas Muda adalah Kepala SKB Ngoro, Jombang. Saat itu PAUD belum lahir, bahkan masih belum dikandung badan.

Terjadilah reformasi di tahun 1998, dari semula sentralistik menjadi otonomi daerah. Kanwil Departemen Pendidikan yang merupakan perpanjangan pemerintah pusat diganti dengan Dinas Pendidikan Propinsi yang merupakan dinas propinsi dan kabupaten. Dalam zaman reformasi itulah lahir Direktorat PAUD di Dirjen PLSPO Departemen Pendidikan Nasional, saat presidennya Gus Dur, Dirjen PLSPO nya bapak Fasli Jalal PhD dan Direktur PAUDnya pertama bunda Faiqoh dan kemudian diganti dengan Bapak Dr Gutomo.

Dalam peralihan di tingkat Propinsi, Kanwil menjadi Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, dibentuklah Seksi PAUD yang untuk pertama (dan terakhir) dijabat oleh sahabat baik saya, mas Totok Isnanto.

Saat itu angka partisipasi kasar PAUD hanya 26%, hampir seluruhnya di TK. Dirjen PLSPO, bapak Fasli Jalal, dokter yang doktor gizi sangat melihat bahayanya anak-anak usia dini yang 74% itu bila stimulasi pendidikan dan gizi untuk mereka diabaikan. Memperbanyak TK empat kali lipat tidaklah mungkin, karena ketatnya persyaratan administrasi, sementara saat itu PAUD Nonformal dalam bentuk Play Group hanya di perkotaan dan hanya bisa diakses oleh masyaralat lapisan menengah atas. Itupun jumlahnya sangat terbatas. Lalu stimulasi pendidikan untuk anak-anak dari lapisan menengah ke bawah yang 74% itu harus diwadahi dalam bentuk apa?

Pemerintah memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membentuk PAUD nonformal, baik dalam bentuk Kelompok Bermain (Play Group), Taman Penitipan/Pengasuhan Anak maupun kelompok-kelompok PAUD sejenis.

Dengan penuh keberanian bapak Fasli Jalal dan bapak Gutomo serta beberapa orang pemeduli PAUD membuat suatu terobosan, suatu breaktrough yang benar-benar menembus batas-batas yang ada. Pemerintah memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membentuk PAUD nonformal, baik dalam bentuk Kelompok Bermain (Play Group), Taman Penitipan/Pengasuhan Anak maupun kelompok-kelompok PAUD sejenis. Diberikan kemudahan yang ruaar biasa untuk membentuk lembaga PAUD, bahkan pemerintah menyediakan dana rintisan pendirian PAUD sebanyak 25 juta. Alhamdulillah, PAUD menurut istilah masyarakat untuk membedakan dengan TK, yang sebenarnya PAUD Nonformal tumbuh dengan pesat seperti jamur di musim hujan. Alhamdulillah Gusti Allah memberi saya kesempatan untuk bersama beliau-beliau tersebut merintis PAUD.

Kondisi di Jawa Timur juga tak banyak berbeda. Adalah kehendak Allah juga, di hari saat mas Totok Isnanto dilantik menjadi Kasi PAUD Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, saat itu saya kebetulan dari Kantor Muslimat NU Jawa Timur di Jl Darmo bersama sahabat saya Dr Ach Rasyad untuk menemui bunda Hj Maryam Halim dan mb Dwi Astutik untuk masalah PAUD juga, mampir ke kantor Jl Genteng Kali. Allah yang merencanakan, kami berdua ketemu Mas Totok Isnanto di mushola kantor dinas di jalan Genteng Kali itu untuk sholat dhuhur.

Mas Totok Isnanto berceritera bahwa beliau baru saja dilantik sebagai Kasi PAUD dengan tantangan seberat itu, melipatgandakan daya tampun pendidikan untuk anak usia dini hampir 3 kali lipat. Alhamdulillah tugas bisa dilaksanakan dengan baik dibantu oleh beberapa pegiat pendidikan, antara lain Bapak Muyadi alm., bunda Kusandrini Prajitnoi dan beberapa teman, yang kemudian menjadi cikal bakal lembaga yang namanya Forum PAUD Jawa Timur. Anggotanya lintas instansi dan lembaga, ada Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Perguruan Tinggi dan pihak-pihak lain yang peduli PAUD Nonformal. Alhamdulillah mas Totok Isnanto bersama Forum PAUD ini membuat gebrakan yang benar-benar ruarr biasaa. sehingga pegiat PAUD semakin banyak dan APK bisa mencapai lebih dari 70% hanya dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Kembali ke peristiwa omong-omong di Kantin di belakang Kantor Dinas Pendidikan jalan Jagir Wonokromo. Alhamdulillah dengan semakin banyaknya pemeduli dan pegiat PAUD serta semakin meluasnya kegiatan di daerah-daerah, serta urusan lembaga masing-maisng yang semakin padat, para perintis yang babad alas awal perkembangan PAUD menjadi jarang bertemu. Kalau pada awalnya, hampir setiap minggu kami bertemu, bahkan bisa lebih dari sekali dalam seminggu, akhirnya beberapa bulan sekali kami bisa ketemu. Dalam hati kami bersyukur sebab semakin banyak yang aktif dalam membina dan melaksanakan PAUD, namun di sisi lain ada rasa kangen untuk bertemu dan bernostalgia. Juga ada keinginan untuk merefleksi tindakan-tindakan pendidikan di tahun itu serta prospek di tahun mendatang, Dari pertemuan di kantin inilah timbul gagasan untuk mengumpulkan teman-teman yang dulu aktif bersama-sama.

Sesuai dengan kesepakatan, pertemuan akhir tahun 2013 dilaksanakan di salah satu ruang Seksi PAUD di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur pada akhir Desember 2013. Yang hadir seingat saya selain mas Totok Isnanto sebagai tuan rumah dan pemrakarsa pertemuan, ada juga bund Kusandrini yang juga perintis PAUD di Jawa Timur, Ketua Forum PAUD setelah almarhum bapak Muyadi, juga hadir bund Gadis, Ketua Forum PAUD setelah bund Kusandrini Prajitnoi.

Saya dari Malang hadir mengajak sahabat baik saya, Gus Lukman Hakim bersama pasangannya bund Titin Nurhanendah dan putranya yang masih 13 tahun yang menjadi driver mobilnya. Saya juga mengajak Eyang Wiwik Wiwiek Joewono, pegiat pendidikan yang sudah yuswa menjelang 70 tahun dikawal oleh Cak Mustofa Sam dan teman-temannya dari Inspiring Youth Educator (kalau nggak bener namanya mohon dikoreksi cak Mustofa Sam) serta seorang guru muda yang sangat kepo terhadap pembaharuan pendidikan mas Diedick’s UqiAbhi Addien. Juga hadir dari Bojonegoro, kakak Kakak Rubi dan rekannya dan mbak Wiwin dari Pandaan.

Dalam pertemuan itulah muncul ide menamakan komunitas ini komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik, yaitu kumpulan orang-orang yang selalu berusaha untuk menjadi orang baik, orang yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk sesama. Namun nama ini menurut Eyang Wiwiek Joewono bisa juga dimaknai sebagai orang yang sudah baik sehingga bisa menimbulkan kesombongan dan ujub, kumpulane wong-wong yang mengaku dirinya telah baik. Karena itu harus hati-hati memaknai nama OLDWA agar tidak menjadi manusia yang merasa dirinya adalah wong apik, namun orang-orang yang merasa belum baik dan senantiasa ingin berbuat baik agar menjadi orang baik.

Dalam pertemuan yang seingat saya dihadiri oleh belasan orang itu diambil keputusan bahwa forum, ajang dan wadah ini akan dilaksanakan setahun sekali, pada akhir tahun untuk melakukan kegiatan refleksi pada tahun berjalan dan berpikir tentang prospek yang terjadi di tahun mendatang.

Pertemuan kedua dihadiri sekitar 30 an orang, dilakukan pada akhir Desember 2014, berlokasi di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Malang. Pesertanya bertambah, ada pegiat homeschooling dari Jakarta mas Budi Trikorayanto dan bund Erlina Vf Ratu dengan puteranya, ada bunda Bundadiana Dwi dari Lamongan, ada mas Didid Supramono dan beberapa orang lagi.

Pertemuan ketiga dilakukan di Bojonegoro, di negaranya Kakak Rubi dan kakak Djihan (maaf kalau salah nama) di pelosok desa di Kecamatan Sumberejo, dihadiri lebih 20 orang dalam suasana santai namun serius.

Pertemuan keempat diselenggarakan di tempat saya, di Sekolah Garasi Turen, Kabupaten Malang dengan peserta lebih dari 100 orang dengan peserta terjauh dari Kaltim,, Jakarta mas Budi Trikoyanto juga rawuh, dari berbagai tempat di Jawa Timur seperti Surabaya, Situbondo, Blitar, Gresik dan tentu saja Malang. Hadir sahabat-sahabat dari UM, dan dari sahabat-sahabat Jagongan Para Pakar yang dipelopori oleh Gus Mohammad Mahpur dan teman-teman Gusdurian Malang.

Pertemuan kelima digeber di lokasi mewah, di Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan dengan bunda Mimi Yudha dari sahabat-sahabat Taman Bunda Pasuruan sebagai hostnya. Alhamdulillah saat itu pertemuan yang dihadiri oleh lebih dari 300 orang itu selain diresmikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, juga dihadiri oleh Direktur GTK PAUD, mas Abdullah. Saat inilah mucul usulan untuk menamakan forum ini sebagai suatu konvensi tempat kita saling berbagi success story dan best practice pendidikan dengan dimotori oleh sahabat kita Mr Nafik dari the Naff School. Juga usulan agar pertemuan dilakukan setahun dua kali.

Pertemuan keenam, 6 bulan kemudian di kampusnya Mr Nafik di The Naff School Kediri dengan hadirin juga sekitar 300 orang lebih dan alhamdulillah sukses besar menyaksikan dan melihat dengan mata kepala sendiri the Naff school yang wwaoouuwww, subhanallah…amazing.

Pertemuan ke tujuh, di tempat Bapak Suroto Jombang tidak kalah wouuwnya, dihadiri antara lain Ibu Bupati Jombang dan Bapak Ananto dari kemendikbud Jakarta dan mas Wahyu Nugroho Cak Kumis dari LPKP Jawa Timur.

Pertemuan kedelapan baru saja kita lakukan di Sekolah Rakyat Petung Ulung Nganjuk yang dengan segala kelemahan dan kehebatannya sangat membawa makna bagi kita sekalian untuk bergandengan tangan saling berbagi

Tak dapat dipungkiri sosok yang sangat berperanan dalam terbentuknya komunitas OLDWA menonjol adalah mas Totok Isnanto, dengan pembawaan beliau yang sederhana, apa adanya dan terbuka sangat bersahabat kepada siapa saja, dengan didukung oleh semua sahabat-sahabat yang lain.

Turen, 11 Juli 2019

Editor: Mohammad Mahpur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here