Senin, Maret 9, 2026
spot_img
BerandaCerita BaruPerempuan, Sampah MBG, dan Ekoteologi Panggilan Aksi IWD 2026

Perempuan, Sampah MBG, dan Ekoteologi Panggilan Aksi IWD 2026

Kampusdesa.or.idPeringatan Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day 2026 yang mengusung tema Give to Gain bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 H. Tema global ini membawa pesan timbal balik yang jelas bahwa apa yang kita berikan hari ini akan menentukan apa yang kita dapatkan di masa depan. Dalam ranah pendidikan peringatan ini memanggil kita untuk melakukan refleksi tajam terhadap sebuah ironi besar yang sedang terjadi di depan mata kita setiap hari.

Saat ini umat Islam menjalankan ibadah puasa dan berbagai program kebaikan digulirkan. Salah satu program nasional yang sedang berjalan adalah Makan Bergizi Gratis yang didistribusikan ke sekolah dan pesantren. Tujuan program ini sangat baik yaitu memberikan asupan gizi yang layak bagi para murid. Namun pelaksanaannya di lapangan justru memicu masalah baru yang mengancam masa depan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi sebagai pemasok utama terus membanjiri lingkungan pendidikan dengan kemasan plastik sekali pakai dari makanan kering.

Kontradiksi Sekolah Adiwiyata

Kita menghadapi kenyataan bahwa institusi pendidikan yang seharusnya menjadi pusat keteladanan justru berubah menjadi penyumbang sampah plastik dalam jumlah masif. Ini adalah sebuah kontradiksi yang menuntut tindakan nyata dan tidak bisa sekadar diselesaikan dengan jargon atau slogan.

Panduan tersebut memandatkan agar pendidikan perubahan iklim bermuara pada aksi nyata untuk memecahkan permasalahan di lingkungan sekolah dan membentuk gaya hidup rendah karbon.

Pemerintah sebenarnya telah merespons isu krisis iklim dengan menerbitkan Panduan Implementasi Pendidikan Perubahan Iklim untuk Satuan Pendidikan dan Pemangku Kepentingan pada tahun 2024 melalui Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan. Dokumen ini secara tegas mengarahkan satuan pendidikan untuk membangun kesadartahuan dan kapasitas seluruh warga sekolah dalam merespons krisis lingkungan. Panduan tersebut memandatkan agar pendidikan perubahan iklim bermuara pada aksi nyata untuk memecahkan permasalahan di lingkungan sekolah dan membentuk gaya hidup rendah karbon.

Baca juga: Anak-anak Dusun Sempu Belajar Budidaya Ikan Lele dari Galon Bekas

Namun panduan resmi tersebut seolah kehilangan tajinya ketika berhadapan dengan realita logistik harian. Lomba Sekolah Adiwiyata dan berbagai kompetisi kepedulian lingkungan terus digelar secara meriah. Sayangnya semua itu sering kali hanya berhenti pada tataran seremonial belaka. Gelar pahlawan lingkungan menjadi tidak bermakna ketika sekolah masih memberikan izin masuk bagi ribuan kemasan plastik sekali pakai setiap harinya tanpa ada skema pengelolaan atau pengurangan yang terukur. Kita mengajarkan teori kelestarian alam di dalam kelas tetapi di luar kelas murid melihat pembiaran terhadap perusakan lingkungan atas nama kepraktisan program gizi.

Untuk membedah kebuntuan ini kita perlu melihat akar masalahnya dari sudut pandang yang lebih mendalam. Solusi spiritual dan moral sebenarnya telah dipaparkan dengan sangat bernas dalam webinar SIKURMA (Sinau Kurikulum Ma’arif) sesi 14 yang diselenggarakan oleh LP Ma’arif F PCNU Jombang pada bulan Ramadan 1447 H ini. Dalam forum tersebut materi tentang Implementasi Ekoteologi di Satuan Pendidikan dengan Pendekatan KBC disampaikan oleh pemateri Hj. Maftuhah Mustiqowati. Paparan ini memberikan pijakan yang sangat kuat bagi kita untuk mengevaluasi perilaku konsumtif di sekolah.

Ekoteologi dan Tanggungjawab Pendidikan

Ajaran Al-Qur’an khususnya Surat Al Baqarah ayat 30 yang menetapkan manusia sebagai khalifah atau pemimpin yang bertugas merawat bumi bukan merusaknya.

Dalam Webinar tema Ekoteologi ini menegaskan pemahaman agama yang melihat bumi sebagai rumah bersama yang harus dijaga karena merupakan amanah langsung dari Tuhan. Landasan ini berakar kuat pada ajaran Al-Qur’an khususnya Surat Al Baqarah ayat 30 yang menetapkan manusia sebagai khalifah atau pemimpin yang bertugas merawat bumi bukan merusaknya.

Baca juga: Menjadi Pengusaha; Memantik Energi dari dalam Perusahaan

Dari perspektif ekoteologi membuang sampah plastik sembarangan dan mendukung sistem distribusi yang merusak alam bukanlah sekadar pelanggaran tata tertib sekolah. Tindakan tersebut adalah sebuah dosa ekologis dan bentuk pengingkaran terhadap ajaran agama. Ramadan adalah bulan yang melatih pengendalian diri. Apabila kita tidak mampu mengendalikan timbulan sampah dari makanan yang kita konsumsi maka nilai ibadah kita patut dipertanyakan. Kita memberi makan raga para murid tetapi di saat bersamaan kita meracuni bumi yang kelak akan menjadi tempat mereka hidup dan berkembang. Ini adalah pelanggaran moral yang harus segera dihentikan.

Dalam konteks inilah tema Give to Gain pada IWD 2026 menemukan urgensinya. Perempuan memiliki peran paling depan sebagai inisiator perubahan. Sebagai ibu pendidik pengelola sekolah dan pemangku kebijakan, perempuan memiliki kekuatan untuk mengoreksi sistem yang salah arah ini. Perempuan terbiasa mengelola kehidupan dan memastikan keberlanjutan ruang hidup keluarganya. Insting merawat ini harus diperluas ke ranah kebijakan publik dan manajemen sekolah.

Perempuan Bersuara

Perempuan di sektor pendidikan harus mengambil sikap tegas. Kita tidak boleh diam dan menerima begitu saja kiriman logistik yang berpotensi menjadi limbah abadi. Semangat Give to Gain menuntut kita untuk memberikan suara penolakan terhadap kemasan plastik sekali pakai agar kita mendapatkan masa depan lingkungan yang sehat.

Pihak sekolah harus mendesak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk merevisi standar operasional pengemasan mereka. Gunakan wadah guna ulang yang bisa dicuci dan dipakai kembali.

Terdapat beberapa langkah solutif yang bisa segera dieksekusi oleh satuan pendidikan. Pertama pihak sekolah harus mendesak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk merevisi standar operasional pengemasan mereka. Gunakan wadah guna ulang yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Pemerintah dan penyedia jasa tidak boleh menyelesaikan urusan gizi dengan menciptakan bencana ekologi di sekolah.

Kedua jadikan panduan perubahan iklim tahun 2024 dan materi Ekoteologi dari webinar SIKURMA sesi 14 LP Ma’arif PCNU Jombang tersebut sebagai kurikulum nyata yang dipraktikkan langsung. Integrasikan kedua dokumen tersebut ke dalam kebijakan harian pesantren dan sekolah. Murid harus diajak membedah masalah sampah ini secara kritis dan dilibatkan dalam mencari jalan keluarnya.

Baca juga: Magang Digital Marketing Mengesankan; Belajar Pengembangan Bisnis UMKM KDI

Ketiga lakukan audit sampah harian secara terbuka. Biarkan murid mencatat dan melihat sendiri jumlah sampah yang dihasilkan oleh komunitas mereka. Fakta visual ini akan menjadi metode pembelajaran yang jauh lebih efektif daripada ceramah panjang lebar di dalam kelas. Kesadaran akan tumbuh ketika murid menyadari bahwa setiap tindakan kecil mereka berdampak langsung pada kelestarian rumah bersama.

Jika institusi pendidikan gagal menyelaraskan program kesehatan dengan kelestarian lingkungan maka kita sedang mendidik generasi yang rapuh.

Pendidikan yang sejati selalu berorientasi pada masa depan. Jika institusi pendidikan gagal menyelaraskan program kesehatan dengan kelestarian lingkungan maka kita sedang mendidik generasi yang rapuh. Peringatan Hari Perempuan Sedunia 2026 ini harus menjadi momentum kebangkitan. Mari kita wujudkan makna Give to Gain melalui tindakan nyata. Berikan ketegasan dalam memegang prinsip kelestarian alam hari ini agar kelak peradaban kita mendapatkan generasi murid yang cerdas secara intelektual sekaligus mulia dalam memperlakukan bumi.

Tindakan nyata adalah bukti dari ilmu yang bermanfaat. Mari bersikap tegas menolak kerusakan dan jadilah pelopor perbaikan lingkungan mulai dari sekolah kita sendiri.

Astatik Bestari
Astatik Bestari
Adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Darul Ulum Jumbang. Pendiri PKBM Bestari Jombang. Praktisi pendidikan formal, nonformal, dan informal. Peserta, fasilitator, dan narasumber kegiatan yang diselenggarakan direktorat di lingkungan Kemdikdasmen. Ketua 2 DPP ASTINA & Ketua bidang Peningkatan Mutu PTK di DPW FKPKBM Jatim. Wakil Sekretaris 2 LP Ma'arif PCNU Jombang.. Kontributor di berbagai media, penggerak literasi masyarakat, dan pegiat pendidikan berbasis komunitas.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments