Perempuan Mandiri Itu Tidak Melulu Sibuk di Ranah Publik

0
396
Astatik (tengah) diapit orang tua yang dipanggil Abah dan Umi

0Shares
0

Apakah motivasi Anda begitu kuat didasari oleh dorongan tertentu yang begitu dahsyat. Atau jika Anda tidak punya motivasi juang yang dahsyat, barangkali Anda tidak sepenuhnya punya pemantik hidup yang nyata, jelas, dan visioner sehingga hidup hampir tanpa perjuangan berarti, kecuali hanya untuk memenuhi kebetuhan sendiri saja. Perjuangan orang ditentukan salah satunya oleh siapa sosok idola yang inspiratif. Salah satu kisah ini, inspirasi tersebut tidak lain adalah Ibu.

Kampusdesa.or.id–Selamat Hari Ibu, Umi.

Ibuku, pedagang sukses yang mampu menaklukan kebandelan anak remajanya. Ibuku, perempuan rumahan yang senang dengan perbincangan politik praktis. Ibuku, perempuan single parents, perawat bagi suaminya yang stroke yang menjalani bakat organisasinya sepeninggal suaminya. Ibuku, penderita radang paru-paru yang sempat sholat dhuha di rumah sakit sebelum 3 jam ajal menjemputnya.

Ibuku, tidak memperkenankan perhiasan emas yang dikenakan diwarisi anak-anakya karena dijariyahkan untuk masjid.

***

Umi adalah panggilan untuk ibu kami (saya dan kakak saya. Umi meninggal dalam usia 78 tahun. Empat tahun lalu, bulan April tahun 2015. Persisnya tanggal berapa saya belum mencatat di buku catatan hari-hari penting kelahiran, pernikahan, kematian dan hal penting keluarga besar kami.

Entahlah, bukan berarti saya tidak perduli akan hari penting itu. Bagi saya, Umi masih hidup. Hidup dalam cita-cita dan harapan saya. Hidup dalam suasana suka dan duka saya. Pokoknya hidup dalam seluruh aktivitas kehidupan saya. Apa-apa yang sudah saya lalui, tanpa sengaja sering saya bandingkan diri saya dengan beliau dalam suatu hal peristiwa hidup yang mirip beliau lalui.

Tahun ini, saya merasakan banyak hal bahwa apa yang saya lakukan belumlah setingkat atau sederjat dengan beliau, saya masih jauh dibawa beliau, walau saya sudah sarjana dan alumni pesantren sementara umi hanya lulusan sekolah rakyat yang saya juga tidak tahu ijazahnya ada atau tidak ada. Sementara ilmu agamanya diperoleh dari ngaji bersama bapaknya dan ngaji di majelis ta’lim di jaman mudanya. Sejak beliau meninggal saya sudah menyadarinya bahwa beliau adalah ibu hebat bagi saya dan putra -putrinya yang lain.

Saya yakin Umi tidak mengerti apa itu gerakan gender, umi tidak menyadari bahwa beliau adalah perempuan mandiri secara ekonomi karena setahu saya nafkah keluarga berasal dari aktivitas ekonomi yang dijalaninya, sementara Abah (bapak) saya menekuni dunia politik dan organisasi keagamaan dan tak pernah pusing dengan urusan menafkahi keluarga.

Di mata Umi, Abah adalah mitra bersama Umi dalam menjalani profesi sebagai pedagang. Saya katakan mitra, karena umi pernah mengatakan bahwa sepeninggal Abah tahun 1996 yang mana 1 tahun kemudian terjadi krisis moneter, Umi mengatakan begini, “toko Umi tidak seramai/selaris dulu, karena yang membantu Umi berdoa kepada Allah sudah berkurang.”

Saya rasa memang Umi ditakdirkan Gusti Allah menjadi perempuan mandiri secara ekonomi. Sebelum Abah saya hadir dalam kehidupannya, Umi sudah pernah menikah dengan pria lain dan dikaruniai 4 putra dan seorang anak putri. Mereka semua kakak saya beda Abah. Seingat saya, Abahnya kakak saya ini juga sama dengan Abah saya, lebih menekuni hobbynya daripada sibuk mencari nafkah untuk keluarganya. Karena aktivitas ekonomi Umi sebagai pedagang cukup menghidupi keluarga hingga beliau wafat karena sakit.

Meskipun Umi perempuan mandiri, Umi tetaplah perempuan yang betah di rumah dengan kesibukan di toko dan mengaji al-Qur’an serta sibuk dengan tugas-tugas sebagai madrasah bagi anaknya. Guru ngaji al-Qur’an pertama saya adalah Umi, sementara guru ngaji kajian keagamaan saya adalah Abah. Menginjak SMP, saya minta izin ingin belajar ngaji Qur’an di luar rumah berbaur dengan teman- teman sebaya saya.

Saya masih ingat, sebagai perempuan mandiri, Umi tidak takut dengan respon sosial yang mungkin menimpanya. Saat usahanya meningkat, tiap kali Umi berbelanja dalam jumlah besar untuk mengisi toko pracangannya. Butuh waktu antara jam 10.00 sampai jam 17.00-an. Umi membawa pulang barang belanjaannya 1 kendaraan pick up sewaan dari lokasi belanjanya.

Dalam durasi belanja kebutuhan toko sepanjang itu dan barang sebanyak itu, Umi melakukan sendiri. Lalu pada suatu kali ada saran dari orang lain, agar Umi ditemani Abah, mengingat barang dagangan yang banyak dan pulang hampir malam dikhawatirkan akan ada tindakan kejahatan yang mungkin menyerangnya. Sejak saat itu Abah menemani Umi belanja dengan cara Umi berangkat lebih dulu, Abah berangkat sepulang sekolah saya karena mungkin saya tidak mungkin ditinggal di rumah sendirian, tetapi menunggu saya untuk diajak menjemput Umi.

Saya memang masih kecil waktu itu, sekitar kelas 4 SD. Kedua kakak saya di pesantren dan seorang kakak perempuan saya sudah berumah tangga, 2 kakak yang lainnya meninggal dunia saat saya masih bayi. Umi keluar rumah cuma berbelanja kebutuhan toko. Sepertinya toko yang dikelola Umi ini serupa agen, karena waktu itu saya sering menjumpai pembeli yang tujuannya menjual kembali barang belanjanya atau rumah tangga yang belanja besar untuk nyetock barang dalam sebulan.

Dalam pesatnya usaha, Umi tidak tergiur membeli barang mewah serupa mobil atau kendaraan roda dua. Ke mana-mana naik kendaraan umum atau menyewa mobil.

Indahnya kehidupan ekonomi jaman dulu, tidak ada swalayan, mini market bahkan departement store sehingga denyut ekonomi rakyat seperti yang dijalani Umi ini maju pesat dan mungkin serupa swalayan jaman sekarang. Umi mengatakan bahwa dari hasil tokonya ini bisa membeli sawah dan ternak kambing dan sapi. Dalam pesatnya usaha, Umi tidak tergiur membeli barang mewah serupa mobil atau kendaraan roda dua. Ke mana-mana naik kendaraan umum atau menyewa mobil. Kata kakak perempuan saya yang sudah punya mobil waktu itu, “Umi itu tidak mau beli mobil jika tidak dibayar cash.”

Jadi saya rasakan memang demikian, hasil dagangannya dirupakan sawah dan ternak serta perhiasan emas. Umi tidak mau terlalu lama berhutang kepada orang lain atau rekan bisnisnya seperti para langganan tempatnya berbelanja. Umi juga tidak pernah melibatkan dunia perbankan untuk menyimpan hasil kerjanya kecuali saat mau beribadah haji. Jadi, waktu itu, Umi dan Abah naik haji hasil penjualan sawahnya. Kala itu dijuluki haji “wahyu” (sawah payu, bahasa Jawa dari sawah yang terjual). Umi dan abah memang waktu itu bersama adiknya Umi dan istrinya berangkat ke tanah suci dengan banyak warga dari hasil penjualan sawah yang dibeli oleh orang yang akan mendirikan pabrik di desa kami.

Meskipun Umi adalah perempuan rumahan, bukan perempuan yang sibuk di luar rumah sebagai wanita karier. Umi punya ketertarikan di bidang politik dan organisasi. Saya sering mendengar perbincangan santai Umi dan Abah tidak jauh-jauh dari urusan politik dan organisasi. Di rumah kami tidak ada TV. Abah tidak mengizinkan ada TV di rumah karena dianggapnya salah satu sumber munculnya hal-hal yang dilarang agama. Kami mematuhinya walau akhirnya sepeninggal Abah dan mungkin karena kebutuhan informasi dan hiburan di rumah ada TV. Umi saat itu jadi suka melihat TV, bukan karena baru memiliki TV, karena waktu itu selalu ada Gus Dur di TV. Apalagi ketika beliau menjadi presiden.

Saya bayangkan, seandainya Abah masih hidup di jaman ini, mungkin beliau risau melihat tayangan TV yang lebih banyak dan bermacam- macam acaranya beda sekali dengan jaman dulu. Ya, saya kira ketiadaan salah satu sumber informasi ini dan mungkin hal lain pula, Umi lebih suka mendengarkan cerita Abah tiap Abah selesai mengikuti rapat atau pertemuan organisasi.

Pernah berhari-hari Umi dan Abah ngomong serius soal NU yang harus kembali ke khittah 26. Karena hal ini baru kala itu, Umi berkali-kali minta Abah bisa menjelaskan. Begitu pentingnya mungkin, Abah yang jarang membaca media cetak secara rutin, waktu itu sempat membeli majalah Tempo karena ada bahasan bertajuk NU kembali ke khittah 26.

Umi mulai aktif di organisasi muslimat NU dan simpatisan partai yang memiliki background atau visi misi yang tak jauh dari ruh Nahdlatul Ulama.

Pantaslah setelah Abah meninggal dan toko Umi mulai dijanlankan kakak sulung saya, Umi mulai aktif di organisasi muslimat NU dan simpatisan partai yang memiliki background atau visi misi yang tak jauh dari ruh Nahdlatul Ulama. Aktifnya beliau di dua aktivitas tersebut saya kira karena Umi sudah tak punya lagi sumber informasi. Umi sudah tak punya lagi teman diskusi dan sharing yang semua bersumber dari Abah. Selain aktif di organisasi NU dan senang dunia politik, Umi juga mulai ikut jam’iyah khotmil Qur’an. Kesibukan barunya ini tak menyita waktunya istiqomah membaca Qur’an. Tetap suka membaca Qur’an saat tidak ada pembeli di toko, istiqomah “nderes” usai sholat subuh dilanjutkan menyimak ngaji saya.

Umi juga menemui ujian-ujian hidup yang tak ringan walau dalam hal lain sangat membahagiakan dan patut disyukuri. Meskipun umi masih didampingi ibunya dan saudaranya, Umi pernah mengatakan pernah membuat keputusan yang salah, yakni dengan mengizinkan anak perempuan satu-satunya menikah di usia yang amat belia, 14 tahun. Cerita Umi kepada saya, keputusan itu diambil karena Umi tidak punya teman diskusi. Umi single parents. Suaminya meninggal. Beliau menerima anjuran adik iparnya yang mungkin tidak begitu mempertimbangkan dampak buruknya. Pernikahan dini kakak perempuan saya ini kandas tersebab kedua belah pihak, baik kakak saya maupun suaminya masih belum bisa berpikir dewasa dalam menyikapi dinamika hidup.

Setelah menikah dengan Abah, Umi juga menemui ujian yang tak kalah berat. Umi sukses dalam bisnis, tapi Umi memiliki kerisauan yang sangat besar akan pendidikan salah satu kakak laki-laki saya. Ia tak pernah kerasan mondok. Saya yang masih kecil waktu itu, selalu diajak mengantar kakak saya ini ke pondok. Berpindah-pindah pondok. Saya lupa waktu itu runtutan perpindahan pondoknya. Pernah mondok di Tebuireng, di Lirboyo dan di pesantren yang dekat dengan rumah. Semuanya dijalani belum tuntas. Umi meminta bantuan doa para kyai dari satu kyai ke kyai lain selain beliau mendoakannya sendiri demi mendapatkan kakak saya agar mau mencari ilmu.

Selain berdoa, umi juga sempat mengganti nama kakak saya ini karena mungkin belum juga nampak perubahan baik yang dilihat. Setelah sekian lama entahlah berapa kurun waktunya, Umi tidak lagi membawa kakak saya ke pondok. Umi mulai menuruti kemauan kakak saya. Iya, jadi saat banyak temannya masih di pondok, kakak saya justru sibuk dengan hobby fotografi dan otak-atik alat elektronik. Umi menyewakan sebuah rumah yang dijadikan studio fotonya tak jauh dari rumah kami.

Kakak saya ini meski baru punya usaha studio foto, kesukaan merokok yang berharga mahal tak dihentikan. Sepertinya masih juga minta support dana dari umi. Kakak saya tak jarang juga masih memancing kemarahan Umi karena beliau tak berkenan dengan akhlaqnya yang tak menunjukkan sebagai santri. Kakak saya ini juga pernah berjudi. Belakangan dia mengaku hasil judinya tidak dimakan. Dalam masa bandelnya kakak saya ini pemenang lomba catur. Bermain catur ini juga salah satu yang tidak disukai Umi.

Saya kira lama umi dapat ujian memiliki anak bandel seperti kakak saya ini. Kalau saya pikir-pikir, Umi itu anak yang paling menyayangi ibunya. Umilah yang merawat nenek saya hingga meninggal. Umilah yang membela nenek saat ada adiknya yang merepotkan nenek, tapi nyatanya Umi tetap dapat cobaan mendapatkan anak bandel seperti kakak saya ini. Saya simpulkan bahwa, apa yang menimpa seseorang di masa kini belum barang tentu sebuah sebab akibat di masa lalu. Jadi, bandelnya kakak bukanlah suatu karma sebagaimana sering ada perbincangan bahwa anak nakal mungkin dulunya ia pernah nakal kepada orang tuanya.

Kembali ke kakak saya, setelah disewakan rumah untuk studio foto, Umi membelikannya rumah eks rumah bulik saya yang berada dekat rumah Umi. Sebelumnya Umi juga membelikan kakak saya motor. Ini pertama kalinya Umi membeli motor dan itu bukan untuk Umi, tapi untuk kebutuhan kakak saya ini. Semakin ke sini, kakak saya mulai ada perubahan ke arah lebih baik.Tak lama kemudian Umi menikahkan kakak saya ini dengan gadis desa kami. Kakak menerima gadis pilihan Umi ini tanpa penolakan walau kakak saya pernah punya gadis pujaan.

Usahanya di studio foto semakin berkembang merambah ke alat-alat elektronik, jasa foto copy dan alat tulis kantor. Pada sekitaran tahun 2003 kakak saya yang masa mudanya bandel ini berangkat ibadah haji dengan istrinya. Hingga kami saudaranya masih dalam longlist (menunggu giliran), kakak saya ini pada tahun 2016 berangkat umroh dengan istrinya. Kakak saya juga orang yang beruntung, karena putrinya didaftarkan haji oleh mertuanya setelah sehari resepsi pernikahan antara putranya dengan putri kakak saya pada tahun 2014.

“Jangan menilai/menghakimi orang melihat dari awalnya saja, karena kita tidak tahu di akhirnya. Umar bin Khattab dulu begitu benci Rasullullah tapi akhirnya ia bersanding di sebelah makam Rasulullah”

Kakak saya ini pula yang membantu membiayai sekolah saya sejak toko Umi kena dampak krisis moneter. Kakak saya ini pula yang bantu membiayai resepsi pernikahan saya. Kakak saya ini pula yang dananya dan materinya ada untuk diberikan kepada saudaranya dan kepada Umi saat kami tak punya. Cerita kakak saya ini mengingatkan saya sebuah pesan hikmah, “jangan menilai/menghakimi orang melihat dari awalnya saja, karena kita tidak tahu di akhirnya. Umar bin Khattab dulu begitu benci Rasullullah tapi akhirnya ia bersanding di sebelah makam Rasulullah.” Perjalanan hidup kakak saya ini tentulah rahman rahim Allah yang dtempat dalam ikhtiyar serius umi.

Umi juga punya cobaan sakit kepala yang menahun sejak saya kecil hingga menjelang abah sakit stroke. Beliau didampingi abah dan saya dalam berikhtiar obat sampai keluar kota. Kalau Umi sakit kepala, rasanya hari-hari saya penuh kesedihan. Ketika sakit kepalanya sudah tak ada gejala sakit yang serius, Umi dapat cobaan lagi. Abah sakit stroke ketika saya masih kelas 2 SMP. Waktu itu setahun setelah beliau berhaji dan sehari setelah saya diizinkan untuk mengaji belajar agama di majelis ta’lim, tak lagi bersama Abah. Kata umi dalam sedihnya, bahwa Abah kena stroke ini mungkin karena tidak lagi punya kesibukan menjadi guru ngaji saya. Umi merawat abah bersama kakak perempuan saya dan kakak ipar saya sampai 4 tahun hingga abah menemui ajalnya dalam strokenya pada usia 63 tahun.

Hari-hari umi sesudah meningggalnya abah adalah hari-hari umi sebagai aktivis organisasi. Menjadi ketua ranting muslimat NU, menjadi ketua Ikatan Haji Muslinat NU anak cabang, menjadi pengurus harian muslimat NU anak cabang, menjadi ketua pengurus TK muslimat 45, mengembangkan bangunan mushola pribadi lalu diwaqofkan awalnya satu lantai menjadi dua lantaihingga pernah menjadi team sukses dalam pilkada Mojokerto dari calon independen yang ternyata gagal karena kendala administratsi, padahal umi sudah ikut konsolidasi dan diajak sosialisasi berkali-kali.

Saya ceritakan sedikit tentang perjalanan umi dalam dunia politik ini. Umi sepertinya bukan tipe pribadi yang fanatik dengan ketokohan di dunia politik. Saat beliau jadi team sukses bakal calon bupati ini, umi ditanyai oleh ketua cabang Muslimat NU stempat yang jadi team sukses bupati terpilih.

“Umi, kalau Gus Dim tidak jadi bagaimana perasaan Njenengan? ”

Dijawab umi, “Saya kan hanya membantu, urusan jadi dan tidaknya gih tergantung takdire Gusti Allah”. Jadi setelah tahu calon umi gagal dalam syarat administrasi umi tak punya perasaan ikut gagal, beliau biasa saja dan tetap ikut memilih bupati dari calon lainnya.

Semakin bertambahnya usia, Umi mulai sering berpesan kepada saya agar didoakan meninggal secara khusnul khotimah. Umi juga berpesan kepada saya satu-satunya anak kandung karena kakak perempuan saya sudah meninggal pada usia 40 tahun (saya mahasiswa semester 7) dan kedua kakak ipar saya begini, “rukun tidaknya saudara ketika sudah berumah tangga biasanya dipengaruhi pihak perempuan, karena itu tetaplah jaga kerukunan.”

Beberapa tahun menjelang wafatnya, beliau juga menyiapkan “uang selawat” yang pesannya agar diberikan kepada tiap orang yang menyolati jenazahnya. Beliau juga berpesan bahwa perhiasan emas yang beliau pakai tidak boleh diwarisi anak-anaknya karena akan dijariyahkan ke masjid dan biaya bancaan beberapa hari setelah wafatnya. Beliau mengatakan sudah cukup memberi keempat anaknya rumah, soal diprbaiki atau direnovasi tergantung mereka. Dari ketiga kakak saya ini masing-masing menghadiahi Umi cucu sarjana, tinggal saya anak bungsunya yang masih terus berjuang untuk kebaiakan anak-anak saya agar pantas berjajar dalam deretan orang sukses yang membahagia orang tua dan kehidupan banyak orang.

Menjelang beberapa bulan beliau akan meninggal, beliau lebih suka bersilaturrahim. Biasanya tidak mau menginap di rumah saya, 2 minggu sebelum meinggal beliau sempat menginap di rumah. Pantaslah saya terkejut ketika beliau wafat. Biasanya saya selalu diminta datang menjenguk ketika beliau sakit, tapi saat-saat terakhirnya saya tidak ada di dekatnya. Beberapa jam sebelum meninggal, beliau masih sholat subuh berjamaah, dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang melemah, namun, jam 10an beliau masih mampu sholat dhuha, beberapa saat kemudian mengalami koma dan meninggal pada hari itu jam 14.00an.

Lahal faatihah
20 December 2019