Merdeka Belajar: Model BCCT dalam Pengelolaan Sekolah (2)

0
98

0Shares
0

Mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif untuk Merdeka Belajar sebenarnya mudah. Persoalannya hanyalah apakah pihak pengelola sekolah mau atau tidak. Terutama ketika dituntut untuk mengubah pola manajerialnya dari otoritarian menjadi egaliter dan demokratis serta mengedepankan kreativitas dan inovasi. Teramat banyak kita temui pimpinan sekolah yang demikian berjarak, baik fisik maupun psikis, dengan ‘bawahannya’ (guru). Jika terus begitu, bagaimana bisa merdeka belajar diterapkan?

Kampusde.or.id-Dalam tulisan terdahulu, sudah saya paparkan latar belakang Pamela Phelps mengembangkan model pembelajaran BCCT, yaitu agar anak-anak kreatif. Mereka akan tumbuh kreatif bila tidak mendapat hambatan baik verbal, fisik, psikis, legal dan lain-lain. Dalam rangka demikian, Pamela membuat aturan “don’t say No to the kids.”

“Guru di depan kelas, melambangkan guru sebagai penguasa kelas, anak-anak semua menghadap ke depan melambangkan komunikasi yang searah.”

Hambatan psikis bisa disebabkan karena hambatan fisik, karena setting kelas konvensional.Guru di depan kelas, melambangkan guru sebagai penguasa kelas, anak-anak semua menghadap ke depan melambangkan komunikasi yang searah. Posisi duduk anak dan guru ada yang di depan dan ada yang dibelakangi menunjukkan ada ketidakegaliteran.

Karena itu, Pamela Phelps lewat Creative School-nya merombak secara radikal pendidikan konvensional dengan BCCT. Pertama, dengan tidak boleh menghambat dan melarang anak untuk berkreasi, maka kreativitas anak akan berkembang. Kedua, dengan duduk melingkar menunjukkan adanya jiwa demokratis yang egaliter pada anak, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, semua saling berhadapan. Ada komunikasi multi arah, tidak hanya searah.

Marilah kedua prinsip itu kita terapkan dalam pengelolaan sekolah.

“Buang semua aturan yang menunjukkan adanya kekangan berkreasi. Bahkan, beri insentif untuk guru dan anak yang kreatif”

Pertama, sesuai dengan anjuran Merdeka Belajar dari Mas Mendikbud, jangan hambat guru dan anak berkreasi dalam pembelajaran. Buang semua aturan yang menunjukkan adanya kekangan berkreasi. Bahkan, beri insentif untuk guru dan anak yang kreatif. Insentif itu bisa secara sosio-emosional dengan pujian, memberikan kesempatan kepada guru dan anak yang kreatif untuk unjuk kerja di hadapan sejawat sehingga ada sharing ideas dan saling mendukung.

“Salah satu faktor penghalang dalam menerapkan pembelajaran inovatif dalam penelitian saya di tahun 2015 adalah ketidaknyamanan secara psikis dan verbal yang diterima guru apabila dia kreatif dan inovatif.”

Ciptakan zona nyaman dan aman bagi guru dan anak yang kreatif. Jangan sebaliknya, guru dan anak yang kreatif justru menerima perundungan dari sekitarnya. Salah satu faktor penghalang dalam menerapkan pembelajaran inovatif dalam penelitian saya di tahun 2015 adalah ketidaknyamanan secara psikis dan verbal yang diterima guru apabila dia kreatif dan inovatif.

Insentif berupa material-finansial bisa berupa dukungan dana untuk biaya mengembangkan dan menerapkan kreativitas guru dan anak-anak, sehingga tidak merasa yang kreatif malah lebih berat karena harus membiayai kreativitasnya. Faktor biaya ini juga merupakan salah satu faktor penghambat guru untuk berkreasi menurut hasil penelitian saya di tahun 2015. Meski sebenarnya sebagian dari Tunjangan Fungsional itu seharusnya sebagian untuk pendanaan pembelajaran inovatif.

Kedua, susun setting dan iklim organisasi di sekolah menjadi iklim organisasi yang egaliter. Buang sekat-sekat fisik yang melambangkan perbedaan status, ada kepala, ada anak buah yang ASN dan ada anak buah yang non ASN dari seragam dan pangkat yang dipakai, seperto larangan guru honorer memakai seragam kheki misalnya.

“Jangan hapus dan kubur kebanggan beliau-beliau dengan menghilangkan atribut-atribut sosial guru”

Bagi guru-guru non ASN menjadi guru itu merupakan prestise di mata masyarakat, jangan hapus dan kubur kebanggan beliau-beliau dengan menghilangkan atribut-atribut sosial guru. Secara psiko-sosial, menjadi guru itu jauh lebih berharga daripada secara ekonomis, karena itu beliau-beliau rela diberi honorarium hanya 200-300 ribu dan harus mencari kekurangan biaya rumah tangganya di luar menjadi guru.

“Susun setting kesetaraan antara kepala sekolah dan guru, bahkan dengan wali siswa dan dengan siswa sekalipun”

Susun setting kesetaraan antara kepala sekolah dan guru, bahkan dengan wali siswa dan dengan siswa sekalipun. Isi ruangan kepala sekolah dengan meja kerja yang besar dan mewah dengan kursi kepala sekolah yang seperti direktur perusahaan dan posisi kursi yang lebih tinggi dari yang menghadap juga merupakan hambatan psikis yang terbangun, yang membedakan antara kepala dan anak buah. Lebih baik meja kerja sederhana, tapi lengkapilah ruang kepala sekolah dengan sofa tempat menerima tamu di ruang kepala sekolah. Meja kerja adalah meja tempat kepala sekolah mengerjakan tugas-tugas fisiknya, menulis, mengetik komputer dan sebagainya, sedang tempat menerima tamu adalah sofa.

“Datanglah lebih awal dari jam kerja dan ikutlah menyambut kedatangan anak-anak (dan juga guru) di pintu gerbang sekolah”

Pintu ruang kepala sekolah yang selalu tertutup, kepala sekolah yang lebih sering berada di ruangnya sendirian dan jarang berada di tengah-tengah guru merupakan hambatan juga. Selalulah berada di tengah guru-guru dan anak-anak setiap saat tidak melakukan pekerjaan fisik kepala sekolah, bahkan saat guru-guru dan anak-anak melakukan pekerjaan \fisik seperti ikut membersihkan sekolah, masak dan makan bersama. Datanglah lebih awal dari jam kerja dan ikutlah menyambut kedatangan anak-anak (dan juga guru) di pintu gerbang sekolah. Tanpa disadari perilaku untuk ikut menyambut kedatangan anak-anak akan membuat guru-guru sungkan untuk datang terlambat.

Pertemuan kepala sekolah dengan guru dan juga dengan wali siswa usahakan disetting bentuk melingkar, atau paling tidak berbentuk U sesuai dengan prinsip model pembelajaran BCCT, dalam bentuk Circle. Bangun suasana demokratis dan egaliter dengan memberi kesempatan seluas-luasnya pada hadirin untuk mengemukakan pendapat. Beri penghargaan dan respect yang tinggi pada semua ide hadirin.

“Jangan melakukan character assasination (pemunuhan karakter) dengan menyalahkan dengan kasar ide yang hadir”

Jangan melakukan character assasination (pemunuhan karakter) dengan menyalahkan dengan kasar ide yang hadir. Sakit hati akibat dipermalukan akan diingatnya sampai mati. Bila merasa ada yang tidak sesuai, diperslilahkan yang bersangkutan untuk menjelaskan mengapa dia memiliki pendapat atau ide seperti itu. Kalau kepala sekolah merasa ide itu salah atau bertentangan dengan ide atau pendapatnya, sehabis rapat, ajak yang bersangkutan untuk bicara empat mata agar yang bersangkutan bisa secara rinci dan jelas.

Kalau kepala sekolah tetap tidak setuju dengan ide, kemukakan dasar pemikiran secara konsep, etika, logika estetika dan legal formal mengapa kepala sekolah tidak bisa menerima idenya. Buang rasa harga diri terpaksa menerima ide anak buah karena secara obyektif rasional ide anak buah lebih baik. Malah kalau seperti itu, beri selamat dan penghargaan karena idenya bagus, maka yang bersnagkutan akan lebih termotivasi untuk menerapkan idenya.

“Semakin anda membaur dan melebur di tengah anak buah maka simpati dan penghargaan anak buah akan semakin tinggi, demikian juga wibawa anda”

Buang jauh-jauh konsep untuk membentuk wibawa perlu ada jarak antara kepala dan anak buah. Jarak itu bisa dalam pengertian simbolik fisik seperti pangkat, seragam, posisi duduk dan dalam pergaulan keseharian. Semakin anda membaur dan melebur di tengah anak buah maka simpati dan penghargaan anak buah akan semakin tinggi, demikian juga wibawa anda. Buang jauh-jauh ide the leader can do no wrong, sang pemimpin tidak pernah berbuat salah, yang berbuat salah hanya anak buah.

“Semakin sering anda melebur dan membaur dengan anak buah dalam segala kesempatan, semakin kurang penting anda melakukan rapat formal”

Semakin sering anda melebur dan membaur dengan anak buah dalam segala kesempatan, semakin kurang penting anda melakukan rapat formal. Karena melalui forum yang alamiah, dalam keseharian itu, anda mendapatkan masukan lebih banyak dan lebih jujur dan masukan yang tepat waktu.

Manfaatkan teknologi dalam melebur dan membaur dengan anak buah dalam satu grup yang terbuka, penuh keceriaan, dan tanpa ketakutan akan dibully bila menyampaikan sesuatu informasi. Terima semua informasi dan ajak semua anggota untuk mendiskusikan informasi yang masuk.

Pelakukan secara adil dan proporsional semuanya, baik guru, anak maupun wali siswa. Perlakuan secara tidak adil akan menyebabkan ketidaknyamanan dan akan memicu terbentuknya kelompok-kelompok kecil dalam organisasi sekolah anda dan ini akan menjadi kontraproduktif dalam anda mencapai puncak kinerja anda bersama teman-teman.

“Kepuasan kerja merupakan kunci motivasi untuk melakukan kinerja terbaik secara kreatif”

Dengan penciptaan iklim organisasi sekolah yang menghargai inovasi dan kreativitas guru-guru, maka guru akan mendapatkan zona nyaman dan aman untuk melakukan pembelajaran merdeka yang kreatif. Ingat pendapat Herzberg (1981) bahwa kepuasan kerja merupakan kunci motivasi untuk melakukan kinerja terbaik secara kreatif.

“Kepala Madrasah saya, Mbak Wiwin Artika lebih sering berada di ruang guru dan di tengah-tengah siswa”

Dalam hal ini, jujur saya banyak belajar dari kepala madrasah saya, Mbak Wiwin Artika yang menolak ketika ingin saya buatkan ruang kepala sekolah. Tapi karena syarat akreditasi harus ada ruang kepala sekolah, terpaksalah dibangun. Namun saat ini kebanyakan tidak digunakan kecuali ada tamu atau ada guru yang ingin bicara personal. Kepala Madrasah saya, Mbak Wiwin Artika lebih sering berada di ruang guru dan di tengah-tengah siswa.

Kesimpulannya, pengelolaan Model BCCT dengan menghilangkan hambatan berkreasi dan membangun kebersamaan dengan suasana sekolah yang nyaman dan aman bagi semua warga sekolah akan dapat memudahkan mencapai Merdeka Belajar.