Menulis Saja Meskipun Tak Ada yang Baca

0
248

0Shares
0

Banyak orang berminat belajar menulis. Mereka semangat membeli buku-buku panduan menulis, semangat mengikuti semiar dan pelatihan menulis, juga semangat mengkuti berbagai grup dan komunitas. Sayangnya, apa yang mereka dapatkan dari sana tidak segera diiringi dengan penerapannya. Tak sedikit pula yang malah putar balik tidak melanjutkan belajar menulis. Penyebab utamanya adalah ketakutan akan dicibir, ditertawakan, dan dihina orang. Padahal mereka cukup menulis saja, usah peduli apakah ada yang baca.

Kampusdesa.or.id-Awal belajar menulis, ketakutan akan dicibir, ditertawakan, dan dihina orang kerap dialami sebagian orang. Perasaan ini timbul, lantaran menganggap tulisan terlalu jelek dan tidak layak dibaca orang. Apalagi jika ditambah membanding-bandingkan dengan tulisan para penulis top. Akibatnya, banyak orang kemudian mengambil langkah putar balik ketimbang melanjutkan belajar. Mereka behenti di niat saja.

Bagi yang berhasil menaklukkan tantangan awal belajar menulis seperti ini, biasanya relatif dapat bertahan dan konsisten menulis. Mereka akan dengan cepat belajar, disiplin, dan tidak khawatir jika tulisannya mendapat tanggapan negatif dari orang lain. Bahkan tidak khawatir jika tulisannya tidak ada yang membaca. Namun, tentu tidak mudah untuk sampai pada sikap seperti ini. Kita harus bersedia bertebal telinga dan berlapang dada.

Beruntung, sekarang ini ada banyak buku panduan menulis dan juga grup-grup di media sosial yang dapat kita manfaatkan untuk sarana belajar. Banyak ilmu dapat kita petik dari sana. Dari buku panduan menulis, kita bisa tahu strategi, metode, tips, dan trik bagaimana menulis dengan baik dan produktif. Dari grup penulis, kita bisa belanja ide, bertukar ilmu dan pengalaman, membangun jejaring pertemanan, dan update informasi kepenulisan. Permasalahannya kemudian tinggal bagaimana kita mengaplikasikan ilmu dan pengalaman itu dalam proses belajar.

Baca Juga:

“Alhasil, mereka tak beranjak dari titik awal mula melangkah. Sepertinya mereka lupa bahwa menulis itu perihal praktik, bukan teori semata.”

Ada banyak orang yang ingin menekuni dunia kepenulisan. Mereka semangat membeli buku-buku panduan menulis, semangat mengikuti semiar dan pelatihan menulis, juga semangat mengkuti berbagai grup dan komunitas. Sayangnya, apa yang mereka dapatkan dari sana tidak segera diiringi dengan penerapannya. Alhasil, mereka tak beranjak dari titik awal mula melangkah. Sepertinya mereka lupa bahwa menulis itu perihal praktik, bukan teori semata.

Beberapa kali membaca buku panduan menulis dan mengamati serta berinteraksi di grup kepenulisan, saya menemukan prinsip-prinsip menarik untuk mengatasi ketakutan yang tadi kita bahas di awal. Prinsip tersebut adalah “menulis saja meskipun tak ada yang baca.” Sekilas prinsip ini seperti berkebalikan dengan aktivitas menulis. Bukankah kita menulis untuk dibaca orang?

Maksud prinsip ini adalah kita sebaiknya fokus saja belajar menulis. Usah peduli tulisan yang kita hasilkan mendapat apresiasi dari orang atau tidak. Sebab, fokus utama kita bukan apresiasi itu, tapi belajarnya. Lambat laun, jika kualitas tulisan kita makin baik dan menarik, orang pasti akan tertarik untuk membacanya. Terutama jika kita istikamah dan rajin menulis, misalnya lalu diunggah di media sosial, orang dengan sendirinya akan penasaran.

“Sembari berlatih, hendaknya ditunjang dengan membaca karya-karya orang lain yang setipe atau segenre dengan tulisan yang kita minati.”

Meningkatkan kualitas tulisan banyak caranya. Namun, yang utama tentu saja berlatih, berlatih, dan berlatih. Sembari berlatih, hendaknya ditunjang dengan membaca karya-karya orang lain yang setipe atau segenre dengan tulisan yang kita minati. Jika minat menulis cerpen, sambil berlatih menulis cerpen, perbanyaklah membaca cerpen. Jika tidak ada uang untuk membeli buku antologi cerpen, bisa mengakses portal cerpen Jawa Pos atau Kompas. Ada banyak cerpen bagus yang bisa kita jadika rujukan di sana. Begitu pula jika minat menulis opini atau esai, cari saja portal daring yang menyediakan tulisan genre tersebut. Di era digital ini, kita sudah begitu dimanjakan dengan banyaknya informasi.

Baca Juga:

Setali tiga uang dengan prinsip ini, ada prinsip “setiap tulisan pasti menemukan pembacanya.” Tak perlu buru-buru menghakimi tulisan sendiri. Apalagi melabelinya jelek atau buruk. Tulisan ketika sudah selesai, menjadi hak pembaca untuk menilainya. Maka, biarkan saja tulisan itu menemukan penilainya (pembacanya). Bila ternyata belum menemukan pembaca, tak perlu risau, kita kembali ke prinsip pertama tadi. Namun, bila bersikeras ingin mengetahui kualitas tulisan, kita bisa meminta teman untuk membaca dan memberikan penilaian.

Juga yang penting lagi, “jangan membandingkan tulisan kita dengan tulisan para penulis top.” Ini sama saja kita membandingkan anak yang sedang belajar sepak bola di SSB (Sekolah Sepak Bola) dengan pemain profesional macam Ronaldo dan Messi. Jelas beda kualitasnya. Mereka sudah punya jam terbang tinggi. Baiknya, yang kita pegang dan yakini adalah mereka juga berangkat dari garis start yang sama dengan kita; sama-sama belum bisa menulis.