Mangga Milik Mbah Mangun

0
187
Credit pict: pikiran-rakyat.com

0Shares
0

File:Font T.svg - Wikimedia Commonsak terasa Ramadhan lewat begitu cepatnya. Malam ini sudah malam ke 27. Seperti biasa aku dan teman-teman berencana akan tidur di masjid.

Sudah hampir sebulan kami secara original kompak menjadi tukang bangunkan orang sahur. Aku, Mi’un, Paing, Saprol, Badrun, dan Mamet. Cuma enam orang ini yang selalu tidak pernah absen. Kalau ada yang lain kadang-kadang itu cuma personil tambahan saja.

###

Malam itu masjid tidak seramai biasanya. Jamah tarawih di masjid sampai serambi luar. Penuh seperti hari pertama bulan puasa. “Alangkah indahnya jika pemandangan ini terjadi setiap hari?” gumamku.

Bu Saripah mengantar makanan buat mbak-mbak dan ibu-ibu yang sedang tadarusan. Lebih banyak dari biasanya. Ada pisang goreng, ote-ote, gimbal tempe, kolak waluh, semangka, dan nasi kuning pakai irisan dadar dikasih sambal kelapa (srundeng).

Malam semakin petang, kami masih saja begadang. Pendarus al-Qur’an sudah pada pulang. Sesekali kami memakan sisa kudapan sembari ngobrol ke sana kemari.

Beberapa kawan sudah tepar. Tidak terasa mata panda kami terjaga hingga lewat jam setengah 2. Rasanya ingin beranjak tidur malah tidak bisa.

“Tosan, kamu gak ngantuk? Aku mau tidur nanggung nih sudah mau jam dua,” ujar Saprol kepadaku.

“Wah, iya nih Prol. Bentar lagi Pak Pratikno dan Pak Basuki pasti juga datang.”

Tak lama kemudian, terdengar bunyi pintu terbuka dan lampu di dalam masjid tiba-tiba nyala. Pak Pratikno baru saja diomongin rupanya datang. Pak Modin (Imamuddin) ini tokoh agama di kampung kami. Beliau juga imam masjid dan guru kami di TPQ. Kami biasa memanggilnya “Pak Tik”.

“Ayo-ayo bangun..! Shalat tahajud le..,” ajak Pak Tik dengan nada agak tinggi.

Aku dan Saprol membangunkan yang lainnya. Jamaah kampung juga sudah pada berdatangan untuk ikut shalat tahajud, hajat, dan tasbih di masjid. Kata Pak Tik sih kegiatan ini buat menanti datangnya malam lailatul qadar di 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Di mana kalau kita mendapatkan lailatul qadar, amalan kita dilipatgandakan seperti hidup 1000 bulan.

Kami yang kebanyakan masih belum ngeh akan konsep itu. Yang penting ikut saja dan manut apa kata Pak Modin. Kami lalu beranjak ke tempat wudlu. Sudah ada Pak Basuki, bapak-bapak yang tinggal di depan masjid sedang menyalakan sanyo buat ngisi tandon air.

“Pak Bas, monggo..” sapa kami.

###

Selepas tahajud kami berkumpul dan melancarkan aksi.  Patrol sahur pun siap di mulai.

“Assalamualaikum, bapak ibu saudara sekalian. Ayo bangun, Sahur sahur sahur..! Sekarang sudah jam tiga, monggo segera sahur..!” teriak Pak Basuki di microphone masjid dengan lantangnya.

Toak masjid menggelegar mengisi setiap sudut Kampung Banyuasri ini. Seiring dengan suara Pak Basuki, sang pengugah sahur tetap dan tak tergantikan dari masa ke masa. Kami mulai berkeliling ke RT 1 dan RT 2.

“Sahur sahur. Dung dung tekk dung..! Sahur sahur.. sahur sahur..!!” sorak kami kompak.

“Ayo yang keras dong, masak gara-gara Ramadhan sudah mau habis malah jadi lemes gini. Gak semangat blas,” celetuk Mi’un.

“Gimana kalau sambil shalawatan apa nyanyi lagunya Wali gitu,” sahut Badrun.

“Boleh itu..! Ide bagus,” timpalku.

“Sahur.. sahur…!! Sahur.. sahur…!!”

“Ayo mulai nyanyi.. Kok gak jadi,” tanya Saprol.

“Biar dipimpin Mamet, coba. Dia kan juara lomba adzan 17 Agustusan tahun lalu,” kataku sambil memukul pundak Mamet.

“Oke mainkan..!” Mamet langsung ambil posisi di depan seperti mbak mayoret drumband.

Entah apa karena Mamet ngefans berat sama mbak Sulis, dia langsung ambil lirik qasidah “Yaa Thoybah”

Yaa thoybah, Yaa thoybah
Yaa dawal ‘ayaana
Isytaqnaalik
Wal hawa nadaana
Wal hawa nadaana…

Tak puas dengan itu, kami ganti lagu “Perdamain” grup nasyid emak-emak legend NASIDARIA. Saking serunya kami ulang sampai tiga kali, walau liriknya lompat-lompat yang penting dapat seru saja kami sudah seneng.

###

Setelah keliling-keliling kampung badan terasa sedikit berkeringat, capek, dan suara seakan mau habis. Kami istirahat duduk bentar di pos ronda perempatan RT 1. Suasana jalan kampung masih sepi. Barangkali warga masih pada kumpul dengan keluarga, sahur di dapur masing-masing.

Sorot mataku tertuju pada satu rumah tembok, gilap lampu pelataran memantul di lantai keramik rumah itu. Meski berpagar tinggi, tapi dari kaca pintunya terlihat orang isi rumah sedang makan sambil nonton televisi. Sebuah acara kuis sahur yang dibawakan oleh Deny Cagur.

Berbeda dengan rumah sebelahnya, masih pakai kayu, dan beralaskan tanah. Bangunannya tidak tinggi. Paling sekitar 3 sampai 4 meter saja. Depan rumah ditumbuhi pohon mangga cukup rindang. Kalau siang terlihat banyak bergelantungan mangga yang sudah tua. Beberapa dibungkus kresek hitam sama pemiliknya.

Rumah itu milik Mbah Mangun. Dia hidup sederhana dengan Mbah Suminah istrinya dan Si Endang anak semata wayangnya. Buat yang belum tahu, Mbah Suminah ini adalah penjual kerak telor di SD kami. Mungkin sudah berpuluh-puluh tahun sejak orang tua kami sekolah di SD tersebut katanya sudah jualan.

“Kawan, ada yang mau ambil mangga depan itu kah?” tiba-tiba Paing nyeletuk dengan ide nakalnya.

“Hei jangan cuy.. Itu milik orang. Nanti dimarahin,” kataku berusaha mencegah.

“Tidak apa-apa, tenang saja.. Siapa yang mau ikut?” timpalnya.

“Badrun, Saprol, Mi’un atau yang lain? Gimana??” Paing masih berusaha mengajak kawan-kawannya.

“Mau diambil pakai apa? Lempar pakai batu?” tanya Mi’un.

“Yaa manjat saja. Itu mah gampang” timpal Paing.

“Ah gak mau.. aku gak bisa manjat” jawab Mi’un.

“Jangan Paing.. Ingat ini bulan Ramdhan. Aku bilangin Pak Pratikno loh yaa,” kata Mamet berusaha menasehati dan menakut-nakuti.

Tapi usahaku dan kawan-kawan tidak berhasil. Paing tetap berangkat dengan sedikit jumawa. Yakin kalau dia bisa manjat.

Ngomong-ngomong Paing adalah kakak kelasku satu tingkat dulu sewaktu SD. Tapi dia setelah lulus tidak melanjutkan SMP. Lebih memilih ikut bapaknya kerja di pabrik percetakan batu-bata desa seberang.

Kehidupan kerasnya itulah membuat dia sering temperamen dan paling punya nyali di antara kawan-kawan yang lain. Namun senakal-nakalnya dia, Paing adalah salah satu murid di TPQ Al-Hidayah yang hafal kitab iqro’ jilid 6. Dia juga paling semangat kalau diajak tidur di masjid.

###

Tak ayal, kalakarnya berbuah pahit. Mbah Mangun keluar rumah dan mendengar suara tapak langkah kaki Mbah Mangun, tanpa berpikir panjang kami pun lari.

“Siapa itu tadi manjat pohon, turun!!” teriak Mbah Mangun.

Sementara Paing masih di atas pohon mangga dan tidak berani turun. Beberapa buah mangga pun tampak sudah dijatuhkan.

Sepertinya Paing masih takut kalau turun tidak hanya dimarahi, tapi kena bogem dari Mbah Mangun. Aku juga sangat yakin dia pasti sahur buah mangga di atas sana. Karena dia baru berani turun ketika hari mulai terang.

Kokok ayam dan cicitan burung menghiasi pagi itu. Paing turun dengan wajah lesu dan kaki lemes. Mbah Mangun yang nungguin dia turun sudah putus asa dan tidak memperdulikannya. Dia ditinggal masuk rumah.

Kami yang lari terbirit-birit pulang ke rumah masing-masing dan saling bertanya-tanya ketika bertemu lagi shalat subuh di masjid.

“Gak lihat Paing ya teman..?” aku mulai bertanya.

“Gimana kabar dia?” sambung Mi’un.

“Hahaaha.. Paling ketiduran di atas pohon mangga,” jawab Saprol seronoh.

“Iya, masak berani manjat kok gak berani turun,” Badrun menimpali.

“Salah sendiri dibilangin gak percaya.. Kena batunya kan,” pungkas Mamet.

Aku dan teman-teman malah bergunjing tentang Paing. Karena kami menduga dia tidak berani turun karena takut sama Mbah Mangun.

Cerita ini menjadi bahan lelucon berhari-hari terutama saat Hari Raya Idul Fitri tiba.

Sampai-sampai kami mengusulkan ke Paing buat sowan pertama kali ke rumah mbah Manguu buat minta maaf. Awalnya tidak mau, tapi kami paksa.

Kami antar dia rame-rame ke sana. Di rumah mbah Mangun, Paing jadi bahan gojlok-gojlokan.

Namanya anak kecil, sama Mbah Mangun rupanya cuma dinasehati. Paing gak bakal dimarahi apalagi dipukul. Mbah Mangun memaklumi itu asal tidak diulangi lagi. Paing pun salaman meminta maaf. Akhirnya kami tertawa lepas sampai tidak sadar sudah habis mangga satu piring di atas meja.

Pulang-pulang malah dikasih oleh-oleh Mbah Suminah mangga matang.

“Tuh, kan enak sekarang dapat gratisan dan halal pula,” ejekku ke Paing yang masih tersipu malu.

Pesan dari cerita ini adalah apapun itu memang kalau sudah rejeki pasti tidak kemana. Gak perlu mencuri. Kalau pengen tidak mampu beli ya minta sama yang punya mungkin dia akan memberi dengan senang hati.

Sekian… :p

 

Bangkok, 24 Ramadhan 1441 H

 

*Cerpen ini diceritakan kembali dari kisah nyata masih kecilku.