Kampung Organik dan Ekonomi Biru

0
74
Kampung Organik dan Ekonomi Biru (Sumber gambar: https://metrouniv.ac.id)

0Shares
0

Kampung ini benar-benar beraksi mencapai harapan menjadi ekonomi biru. Mereka memutus matarantai kartel pertanian. Dengan kemauan beraksi yang kuat dan sudahlah dengan teori yang ndakik-ndakik, ekonomi bisa digerakkan melalui kegaitan apapun sejauh berdampak pada kepentingan bangsa lebih dari kepentingan para god-fahters bangsa ini.

Kampusdesa.or.id–Saya optimis dengan anak-anak muda kreatif. Mereka hidup dengan alternatif-alternatif baru. Dibesarkan pada masa reformasi, meninggalkan tradisi senioritas organisasi dan terpanggil dengan simpul media digital. Anak-anak muda ini adalah energi hebat masa depan. Bukan dipatronase oleh budaya urban, tapi menyadari bahwa mereka harus berkomunitas tanpa hirarki umur.

Mereka menemukan alternatif dengan memanfaatkan segala sumber daya dan mengolah limbah jadi barang berguna. Konsep ekonomi biru yang memaksimalkan potensi sekitar. Budaya dan teknologi disatukan menjadi kolaborasi yang berguna bagi kehidupan.

Tiga malam lalu kami berbicara tentang petani di Lampung Tengah yang frustasi. Dia membeli pestisida dengan kandungan racun maksimal seharga 600 ribu. Bermaksud mengusir hama dua hektar tanaman padi, pestisida itu meruntuhkan harapan hidup. Jerami hasil padi dipanen diberikan ke puluhan ekor sapinya, kemudian mati tak tersisa. Putus asa karena terlilit hutang, petani memutuskan bunuh diri.

Rantai makanan yang sudah lama terputus akibat pestisida, menjadikan hama punya system imun yang terus meningkat. Pestisida dengan berbagai tingkatan tidak membuat hama berkurang tapi bertambah. Rantai makanan yang dulu saling terkait kini punah dan tinggal manusia, hama dan tanaman pangan. System preneurship (ecosystem yang terpadu) adalah mata rantai nilai yang dihilanglan oleh modernisme.

Mereka tak percaya penguluh pertanian kiriman perusahaan pestisida. Mereka memproduksi pupuk, meramu pengusir hama (bukan mematikan hama), mengembalikan keanekaragaman, mencoba menangkap energi yang selama ini dibuang.

Tapi tidak dengan anak-anak muda ini. Mereka masuk di lahan gersang, mereka menantang pendidikan orang urban. Mereka tak percaya penguluh pertanian kiriman perusahaan pestisida. Mereka memproduksi pupuk, meramu pengusir hama (bukan mematikan hama), mengembalikan keanekaragaman, mencoba menangkap energi yang selama ini dibuang.

Menanam sayuran organik, membuat pupuk cair, memelihara lebah, menanam bunga sebagai pengundang predator hama, tentu yang paling penting membangun konsep ekonomi biru. Ya ekonomi yang memanfaatkan sumber daya alam dan mengelola limbah jadi produk berguna.

Sebuah Socio-Eco-Techno-Preneurship yang diciptakan dengan gerakan, bukan teori di ruang-ruang kelas.

Mimpi kami ada sistem terpadu yang saling berkait-kelindan. Energi terbarukan-Pengairan-Tanaman-Hewan-Manusia-Pangan-Limbah dan kembali ke energi. Sebuah Socio-Eco-Techno-Preneurship yang diciptakan dengan gerakan, bukan teori di ruang-ruang kelas. Kami berjuang untuk mengembalikan ciptaan Tuhan untuk menjadi rantai nilai yang terikat kuat.

*Berita ini ditulis oleh Dharma Setyawan dan dimuat di situs resmi IAIN Metro Lampung dengan judul yang sama pada tanggal 26 September 2019.